Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in
Showing posts with label Herbal Lele. Show all posts
Showing posts with label Herbal Lele. Show all posts

Pembuatan Probiotik Untuk Ikan lele

Sunday, November 13, 2011

Seperti kita ketahui manfaat probiotik dalam pertanian dan peternakan, bahkan untuk kesehatan manusia juga sangat diperlukan.

Dalam budidaya Lele Sangkuriang dan dunia perikanan secara umum juga sangat memerlukan bantuan probiotik untuk pengkondisian aqua-culture, kesehatan dan pertumbuhan ikan tersebut.

Inilah cara mudah membuat atau menggandakan Probiotik.
Formula untuk membuat Probiotik :
a) 1kg molase
b) 2kg gula pasir
c) 1 kaleng susu kental manis
d) 1/2 liter probiotik pabrikan / probiotik starter
e) 1 kotak fresh milk ( optional pengganti susu kental )
f) 30 liter air
g) pupuk urea, 2 sendok makan (optional untuk nitrobacter, tapi khusus ditebar)

dicampur di drigen diratakan, dikocok2. simpan jangan kena matahari kemudian ditutup. Biarkan kurang lebih selama 2 hari (48 jam) tiap 12 jam dibuka sebentar agar gas fermentasi keluar dan ditutup kembali.

Fungsi nitrobacter, mengurai kotoran ikan untuk mengurangi kandungan ammonia si dalam kolam ( sangat dibutuhkan jika pergantian air agak susah ).

Cara Pemakaian :
Setiap 10 cc probiotik buatan, di campur dengan 300cc air, ada dua opsi, di campur ke pakan ( bobot 1kg), atau di tebar di kolam.
Dosis 1 liter per 80M2 kolam setiap 1-2 bulan.

Cara membuat probiotik starter :
a) 50g molase
b) 100 cc fresh milk
c) 50g jus kedelai
d) 1 liter air

rebus adukan diatas selama 15-30 menit , terus di dinginkan, campur dengan biang bakteri yoghurt atau kefir atau dadih disimpan 2 hari di dalam drum atau ember, gunakan alat aerasi yang sering dipergunakan untuk akuarium. Selesai.

Membuat Probiotik dan Herbal Lele

Wednesday, September 21, 2011

membuat obat herbal untuk budidaya Ikan air tawar, dengan bahan empon-empon, gula merah, cuka, setelah siap semua bahan-bahannya,barulah saya mulai meracik. haluskan semua empon-empon dengan blender jadilah cairan herbal beserta ampasnya yang berwarna kekuningan.

Setelah selesai memblender, buat molase dulu dari gula merah. Lalu campur semua bahan menjadi satu kedalam drigen 5 liter. ernyata baunya menyengat,sampai saya sedikit agak pusing.

Ramuan herbal ini diamkan selama 21 hari.

Pembuatan Starter Bakteri Pelepah Pisang

BAHAN:
1. Pelepah pisang busuk bagian pinggir sepanjang 40 cm (harus yang benar-benar busuk karena berarti ada bakterinya)
2. Gula merah atau tetes murni ¼ kg
3. Air leri (pususan beras) kental 4-5 liter
CARA PEMBUATAN:
1). Pelepah dicacah sampai lembut
2). Gula dilarutkan dalam air leri
3). Pelepah dimasukkan dalam larutan gula dan air leri, diremas-remas, diperas (supaya bakterinya terlepas) dan diaduk
4). Setelah semuanya tercampur, larutan disaring dan dimasukkan dalam jerigen plastik
5). Setelah 3 hari dilihat, bila berbusa maka busa harus dibuang
6). Dibiarkan selama 5-7 hari
7). Tanda-tanda jadi bau seperti tape
8). Untuk memelihara bakteri tetap hidup maka larutan diberi gula dan dedak

Promix merupakan hasil fermentasi sempurna dari jamu-jamuan jawa yaitu :

Ø Kunyit (Curcuma Domestica)
Ø Jahe (Zingiber Officinale)
Ø Kencur (Koempferia Gelanga L)
Ø Temulawak (Curcuma Xanthoryza) , dll

Ramuan rempah-rempah dari jamu-jamuan jawa tersebut sangat berguna untuk meningkatkan nafsu makan, meningkatkan stamina dan mempercepat penggemukan, sehingga ternak makin sehat dan makin tahan terhadap serangan penyakit.

MEMBUAT EM4 MURAH

Banyak sekali resep yang beredar untuk membuat dan mengembangkan EM4 secara home industry, cara ini murah dan sangat berguna sekali. Penulis membuat resep tambahan sehingga hasilnya bisa lebih maksimal. Berikut bahan-bahan yang digunakan :

1. Bahan dan alat
- Susu sapi murni dua liter
- EM4 1 liter
- Tetes tebu atau Gula merah 1 kg
- Bekatul 1 kg
- Nanas 1 buah
- Terasi ½ kg
- Air cucian beras 10 liter
- Panci
- Parutan atau blender
- Kompor

2. Cara Membuat
- Haluskan bahan kasar dengan mengunakan blender/parutan. Campurkan dengan bahan lainnya di dalam panci. Masak sampai mendidih, lalu dinginkan.
- Tambahkan susu sapi murni dan EM4, aduk hingga tercampur rata.
- Tutup panci rapat-rapat hingga 12 jam atau satu hari.

- Simpan campuran yang sudah dingin didalam tong plastik dan ditutup rapat, karena proses terbaik yaitu secara anaerob.

- Kocok atau aduk larutan tiap 3 hari dan buka penutupnya sedikit agar gas hasil fermentasi bisa keluar.

- Setelah 10 hari larutan siap digunakan


RESEP PUPUK ORGANIK SUPER

Beberapa tahun terakhir, banyak bermunculan berbagai merk baru pupuk organik. Mulai dari harga yang cuma Rp.10 ribuan per liter sampai dengan yang harganya ratusan ribu per liter. Adanya kampanye Go Organik yang dicanangkan pemerintah dan mulai sadarnya pemerintah akan perlunya ke-arif-an alam untuk mengolah sumber daya yang makin lama makin hancur tergerus oleh racun kimia yang pada waktu sebelumnya di dukung oleh pemerintah sendiri.

Ketersedian dan kemampuan alam untuk menyeimbangkan kehidupan mulai rusak oleh bombardir Racun kimia pertanian. Namun apabila kita belajar sedikit dan mau untuk sedikit membuka hati dan pikiran, banyak kemudahan dan pemangkasan biaya produksi dalam proses pertanian.

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman dari proses belajar selama ini. Bahwa alam juga menyediakan sumber yang sangat murah untuk memenuhi kebutuhan pupuk pertanian. Saya coba membuat daftar bahan-bahan organik yang super murahnya:

1. Air Kelapa

2. Tetes tebu

3. Buah-buahan busuk/terbuang

4. Air cucian beras

5. Air rendaman Sabut kelapa

6. Limbah ikan, udang atau sisa pengolahan hasil laut

7. Limbah/ampas pabrik rumput laut

8. Kencing sapi

9. Susu basi/kadaluarsa

10. Terasi

dan masih banyak lagi limbah yang memiliki kandungan bagus yang bisa sangat bernilai ekonomis apabila kita olah jadi pupuk organik. Dari pupuk organik yang harganya hanya puluhan ribu sampai ratusan ribu, bahan yang digunakan pasti salah satu dari daftar bahan diatas.

Jadi kenapa harus beli mahal, kalo bisa bikin sendiri dengan biaya super murah. Pembuatan pupuk organik secara umum melalaui proses fermentasi oleh bakteri. Proses fermentasi ini gunanya yaitu untuk memperbaiki struktur kandungan, menaikkan kadar N P K dan membunuh mikroba yang merugikan.

Proses sederhananya yaitu :

1. Hancurkan bahan-bahan organik ( buah, limbah ikan, ampas rumput laut, kencing sapi)

2. Campur dengan air kelapa + EM4 (bakteri) + Tetes tebu + air cucian beras

3. Aduk semua bahan dan masukkan kedalam tong plastik yang bisa di tutup rapat

4. Aduk larutan tiap 3 hari sekali dan buka sedikit penutupnya, karena proses akan menghasilkan gas.

5. Tutup lagi tong agar proses terjaga secara anaerob.

6. Setelah 7 hari, pupuk sudah siap digunakan

Ciri-ciri pupuk yang berhasil atau siap adalah dibagian atas akan mengasilkan busa berwarna putih dan biasanya akan banyak sekali belatung yang hidup. Ini pertanda pupuk sangat menyehatkan.

Tapi kalo proses gagal, warna busa biasanya kehitaman dan baunya sangat menyengat..

Nah..kalo sudah berhasil, bisa kita tambahkan bakteri penambat N P dan K. bakteri ini banyak dijual secara umum juga.

Ayo di coba rekan2 petani sekalian, semoga berhasil…

Seperti kita ketahui manfaat probiotik dalam pertanian dan peternakan, bahkan juga umtuk kesehatan manusia.
Dalam budidaya perikanan juga sangat memerlukan bantuan probiotik untuk pengkondisian aqua culture, kesehatan dan pertumbuhan ikan tersebut.

Inilah cara mudah membuat atau menggandakan Probiotik.
Formula untuk membuat Probiotik :
a) 1kg molase
b) 2kg gula pasir
c) 1 kaleng susu kental manis
d) 1/2 liter probiotik pabrikan / probiotik starter
e) 1 kotak fresh milk ( optional pengganti susu kental )
f) 30 liter air
g) pupuk urea, 2 sendok makan (optional untuk nitrobacter, tapi khusus ditebar)

dicampur di drigen diratakan, dikocok2. simpan jangan kena matahari trus ditutup. Dibiarkan selama 2 hari (48 jam) tiap 12 jam dibuka sebentar agar gas fermentasi keluar dan ditutup kembali.
Fungsi nitrobacter, mengurai kotoran ikan untuk mengurangi kandungan ammonia si dalam kolam ( sangat dibutuhkan jika pergantian air agak susah ).

cara pemakaian : setiap 10 cc probiotik buatan, di campur dengan 300cc air, ada dua opsi, di campur ke pakan ( bobot 1kg), atau di tebar di kolam.
Dosis 1 liter per 80M2 kolam setiap 1-2 bulan.

Cara membuat probiotik starter :
a) 50g molase
b) 100 cc fresh milk
c) 50g jus kedelai
d) 1 liter air

rebus adukan diatas selama 15-30 menit , terus di dinginkan, campur dengan biang bakteri yoghurt atau kefir atau dadih. di taro 2 ahri di dalam drum atau ember, pake alat oxygen pompa buat aquarium dan beres.

Fitofarmaka dalam Akuakultur

Saturday, September 17, 2011

Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keanekaragaman hayatinya. terdapat lebih dari 30.000 jenis yang telah diidentifikasikan dan 950 spesies diantaranya diketahui memiliki fungsi biofarmaka, yaitu hewan, tumbuhan dan mikroba yang memiliki potensi sebagai obat, makanan kesehatan nutraceutilcals, baik untuk manusia, hewan maupun tumbuhan. Dengan kekayaan akan spesies dengan fungsi biofarmaka ini maka negara Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi salah satu negara terbesar dalam industri obat dan kosmetika berbahan baku tumbuh-tumbuhan yang memiliki peluang pasar yang cukup besar pula.

Dalam Akuakultur (Budidaya Perikanan) fitofarmaka juga berperan sangat penting, khususnya untuk mengobati penyakit pada ikan dan menjaga stabilitas lingkungan perairan dimana ikan yang sakit itu diobati, ilmu ini masih bisa dikatakan baru di dalam dunia Akuakultur, sehingga penerapannya secara terus menerus diharapkan Fitofarmaka ini digunakan sebagai obat yang penggunaannya lebih aman dan menjadi pengganti untuk obat-obatan kimia yang memiliki efek samping, dan juga residu yang berbahaya bagi lingkungan maupun manusia yang mengkonsumsi ikan tersebut.

Anti Bakteri Untuk Penyakit Pada Ikan

Potensi budidaya ikan tawar cukup besar. Permintaan domestik maupun ekspor cukup besar. Pada 2006 saja, ekspor perikanan budidaya Indonesia mencapai 1.329 juta ton. Nilainya mencapai US$21 miliar atau sekitar Rp 18,9 triliun.
            Namun budidaya ikan air tawar dihadapkan pada beberapa kendala. Salah satu kendala penyebab kegagalan budidaya ikan air tawar adalah penyakit. Penyakit yang menyerang ikan tropis tawar umumnya adalah bakteri.

Beberapa penyakit bakterial yang menginfeksi ikan adalah Aeromonas sp, Pseudomonas sp, Staphylococcis sp, dan Streptococcus sp. Bahkan pada 1980, wabah penyakit yang disebabkan Aeromonas hydrophila menyebabkan kematian 82.288 ikan di Jawa Barat, tak hanya itu, pada 2005, sebanyak 47 ton ikan gurame dan 2,1 juta ekor benih gurame yang siap dipasarkan mati disebabkan penyakit serupa di Lubuk Pandan, Sumatera Barat.
Berbagai usaha dilakukan untuk mengatasi masalah penyakit ikan tropis tawar. Penanganannya dari mulai menciptakan lingkungan optimal, karantina, vaksinasi, disinfeksi wabah, hingga penggunaan antibiotik.
            Zainal Abidin, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang mengikuti lomba karya tulis tingkat nasional PT. Djarum menilai penggunaan antibiotik yang berlebihan justru akan merugikan.

Khasiat Tanaman Obat untuk Ikan

No. 

Bahan

Dosis

Khasiat

1 Bawang putih 25mg/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin
2 Daun sirih 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
3 Daun jambu biji 0,2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
4 Daun sambiloto 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
5 Daun jombang       dan ketapang 60gr/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin

            Pemberian antibiotik dengan dosis yang tidak tepat dan dilakukan terus menerus dapat pula menyebabkan pencemaran lingkungan. Selain itu, terjadi resistensi pada bakteri. Dampak lebih jauh, ikan-ikan yang mengandung antibiotik melebihi standar tidak laku untuk diekspor. Pasalnya beberapa negara Eropa menerapkan standar antibiotik yang aman.
            Zainal melihat bahwa Indonesia sebagai negara tropis memiliki kekayaan tanaman yang berpotensi menjadi obat. Banyak jenis tanaman yang mengandung senyawa yang bersifat antimikroba. Sejumlah tanaman mengandung senyawa bersifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri).
            Salah satu alternatif penanggulangan penyakit ikan air tawar yang aman adalah dengan menggunakan tanaman obat. Fitofarmaka yang dapat dijadikan pengganti antibiotik untuk mengatasi penyakit ikan air tawar adalah bawang putih (Allium sativum), dan daun ketapang (Termmalia cattapa).
            Bahan lain yang dijadikan bahan antibiotik adalah daun sirih (Piper betle L), daun jambu biji (Psidium guajava L), jombang (Taraxacum officinale) dan daun sambiloto (Androgaphis paniculata). Dari beberapa percobaan, fitofarmaka terbukti efektif mengatasi penyakit ikan air tawar. Zainal mengatakan bahwa fitofarmaka untuk budidaya ikan tropis tawar di Indonesia memiliki beberapa keuntungan :
a. Pertama, fitofarmaka menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri.

· Pertama, fitofarmaka menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri.

· Kedua, fitofarmaka merupakan bahan ramah lingkungan, mudah hancur, dan tidak menimbulkan residu pada ikan dan manusia.

· Ketiga, bahan fitofarmaka mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak.

· Keempat, fitofarmaka harganya ekonomis, dan sangat murah. (Drd/S-4)

Sumber : Suplemen Media Indonesia Edisi April 2009

PENGARUH BAHAN FITOFARMAKA TERHADAP VIABILITAS BAKTERI Aeromonas hydrophilla

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegiatan akuakultur dalam prakteknya banyak dihadapkan pada beberapa kendala. Salah satu kendala penyebab kegagalan budi daya ikan adalah penyakit. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasi masalah penyakit. Penanganannya dari mulai menciptakan lingkungan optimal, karantina, vaksinasi, disinfeksi wabah, hingga penggunaan antibiotik (Abidin, 2009). Akan tetapi penggunaan antibiotik ini mempunyai efek yang buruk terhadap kelangsungan hidup organisme akuakultur yaitu terjadi resistensi pada organisme tersebut, serta menyebabkan pencemaran lingkungan.

Untuk itu perlu adanya penanangulangan penyakit dengan bahan pengganti alternatif yang alami yaitu dengan menggunakan tanaman obat atau biasa disebut fitofarmaka. Penggunaan fitofarmaka atau tumbuh-tumbuhan sebagai pencegahan dan pengobatan alternatif ternyata sudah banyak digunakan. Bahan alami ini selain memiliki efek yang baik juga memiliki sifat ramah lingkungan.

Banyak berbagai tanaman obat yang biasa digunakan sebagai pengganti antibiotik contohnya ; bawang putih (Allium sativum), mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), sirih (Piper betle), paci-paci (Leucas levendulaefolia), jambu biji (Psidium guajava), mengkudu (Morinda citrifolia), meniran (Phyllantus niruri). Ketujuh yang telah dipaparkan belum kita ketahui mana yang paling efektif sebagai pengganti dari antibiotic dalam pencegahan serta pengobatan penyakit untuk itu perlu diadakan penelitian untuk mengetahuinya.

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan agar praktikan dapat melakukan pencegahan serta pengobatan penyakit pada penyakit khususnya Aeromonas hidrophilla serta mengetahui keefektifan berbagai bahan fitofarmaka yang digunakan.


II.  METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat

Kegiatan praktikum ini diaksanakan pada hari Senin, 29 Maret 2010 pukul 15.00 s.d 18.00 WIB dan pengamatan dilakukan pada hari Selasa, 30 Maret 2010 pukul 12.00 s.d 13.00 WIB di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

2.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan adalah erlenmeyer, water bath, termometer, mikropipet, batang penyebar, cawan petri, bunsen, mikrotube, mikrotip, korek api, kertas cakram, penggaris tisu, label dan spidol.

Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah bakteri Aeromonas hydrophila yang sudah mencapai log phase, bawang putih (Allium sativum), mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), sirih (Piper betle), paci-paci (Leucas levendulaefolia), jambu biji (Psidium guajava), mengkudu (Morinda citrifolia), meniran (Phyllantus niruri), larutan fisiologis, dan media TSA (Trypticase Soy Agar).

2.3 Prosedur Kerja

Hal pertama yang dilakukan adalah daun paci-paci segar dicuci dengan air bersih kemudian dikeringkan dalam udara terbuka tanpa terkena sinar matahari langsung. Proses pengeringan dilakukan dalam udara terbuka (kering udara) di luar pengaruh cahaya matahari langsung untuk menghindari kerusakan bahan aktif yang terdapat dalam daun paci-paci (Sirait, 1979 ; Harbone, 1984 dalam Sopiana 2005). Kemudian dioven selama 15 menit pada suhu 45oC sampai kering, selanjutnya dihaluskan dengan blender dan kemudian diayak dengan saringan sampai didapatkan bubuk yang halus. Bubuk daun paci-paci halus disimpan dalam wadah tertutup pada suhu kamar dan tidak terkena sinar matahari langsung (Setiadi, 2008).

Proses ekstraksi dilakukan dengan melarutkan 20 gram bubuk daun paci-paci dengan akuades steril sampai 200 ml. Campuran antara bubuk daun paci-paci dengan akuades steril dipanaskan pada suhu 90oC selama 30 menit dalam penangas air (Voigt 1984 dalam Setiadi 2008). Kemudian hasil seduhan disaring dengan kertas Whatman No. 42 untuk mendapatkan larutan stok ekstrak paci-paci berupa cairan dengan dosis 100 g/l (Setiadi, 2008).


  1. III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Berikut ini merupakan hsasil dari pengamatan pengaruh bahan antimikroba terhadap viabilitas bakteri :

Tabel 1. Hasil Pengaruh Bahan Fitofarmaka Terhadap Viabilitas Bakteri Aeromonas hydrophilla

Kelompok
Bahan Fitofarmaka
Dosis
Zona Bening

1
Bawang Putih (Allium sativum)
kontrol
­-

10 ppt
­-

20 ppt
­-

2
Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa)
kontrol
­-

3 ppt
­-

6 ppt
­-

12 ppt
­-

3
Sirih (Piper betle)
kontrol
­-

1.5 ppt
­-

3 ppt
­-

6 ppt
­-

4
Paci-paci (Leucas levendulaefolia)
kontrol
­-

20 ppt
­-

40 ppt
­-

80 ppt
­-

5
Jambu biji (Psidium guajava)
kontrol
­-

0.02 ppt
­-

0.04 ppt
­-

0.08 ppt
­-

6
Mengkudu (Morinda citrifolia)
kontrol
­-

25 ppt
­-

50 ppt
­-

100 ppt
­-

7
Meniran (Phyllantus niruri)
kontrol
­-

2.5 ppt
­-

5 ppt
­-

10 ppt
­-

Seperti Tabel 1 ditunjukan bahwa dari ketujuh bahan fitofarmaka yang digunakan tidak ada yang membentuk zona bening.

3.2 Pembahasan

Bahan fitofarmaka merupakan tumbuhan yang berkhasiat untuk pengobatan penyakit. Sejumlah tanaman obat yang dapat dikatakan sebagai fitofarmaka adalah tanaman yang mengandung senyawa bersifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri). Banyak keuntungan dari penggunaan fitofarmaka diantaranya yaitu pertama, fitofarmaka menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri. Kedua, fitofarmaka merupakan bahan ramah lingkungan, mudah hancur, dan tidak menimbulkan residu pada ikan dan manusia. Ketiga, bahan fitofarmaka mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak. Kelima, fitofarmaka harganya ekonomis, dan sangat murah (Abidin, 2009).

Seperti ditunjukkan pada table 1 terlihat bahwa penggunaan paci-paci sebagai alternatif dari antibiotik belum berhasil membentuk zona bening artinya tidak efektif  terhadap viabilitas bakteri Aeromonas hidrophylla. Sedangkan tinjauan pustaka yang berkaitan dengan paci-paci ini memaparkan bahwa kandungan kimiawi dalam daun dan  akar tanaman paci-paci adalah minyak atsiri, flavonoid, tannin, saponin, alkaloid, dan metanol (Mukherjee et. al.,1997a dalam Setiadi, 2008). Minyak atsiri memiliki daya anti bakteri disebabkan adanya senyawa fenol dan turunannya yang mampu mendenaturasi protein sel bakteri (Hasim, 2003 dalam Setiadi, 2008). Flavonoid diketahui memiliki aktivitas antimikroba yang bersifat lipofilik sehingga mampu merusak mambran mikroba, mereduksi infektivitas serta memperlihatkan efek inhibitor terhadap berbagai virus. Tanin mempunyai kemampuan untuk menginaktivasi adhesion mikroba, enzim, protein transport cell envelope dan mampu membentuk kompleks dengan polisakarida (Naim, 2004 dalam Abdullah, 2008). Senyawa saponin yang dihasilkan tanaman paci-paci diketahui memiliki aktivitas antibakteri dan antivirus (Abdullah, 2008). Substansi fenolik dari minyak atsiri telah diketahui dapat menstimulasi makrofag yang memiliki efek  negatif tidak langsung terhadap infeksi bakteri dan mencegah infeksi virus. Fenol memiliki efek inhibitori terhadap  bakteri gram positif dan ditemukan memiliki aktivitas anti fungi (Naim, 2004 dalam Setiadi, 2008).

Begitupun ditunjukan pada table 1 bahwa bahan fitofarmaka yang lainnya semua tidak ada yang membentuk zona bening. Ketidak berhasilan dari penelitian yang telah dilakukan ini semua bertolak belakang dengan timpus yang didapat. Berikut adalah kandungan dari setiap bahan fitofarmaka beserta pengaruh dari kandunganya tersebut ;

1. Bawang putih (Allium sativum),

Zat aktif dalam bawang putih diantaranya alisin, alliin, enzim allinase, allithiamin, germanium (suatu zat yang mencegah rusaknya darah merah), sativini, sinistrine, selenium (mikromineral penting yang berfungsi sebagai antioksidan), scordinin, methiylallyl trisulfide (zat yang mencegah terjadinya pelengketan sel darah merah) dan nicotinic acid (Giri, 2008). Alisin merupakan suatu senyawa kimia yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Sifat antibakteri bawang putih terdapat pada gugus fungsional dari amino benzoat. Kerja alisin sebagai bahan antibakteri adalah dengan menghambat kerja enzim yang mengandung thiol grup dan sedikit sekali menghambat enzim yang tidak mengadung gugus thiol (Wilson dan Droby, 2001 dalam Agustian, 2007). Alisin juga dapat menghambat metabolisme dinding sel dengan menghambat sistem reduktasi pada gugus sulfidril (Davidson dan Branen, 1993 dalam Agustian, 2007).

Senyawa allithiamin merupakan hasil reaksi allisin dengan thiamin  yang dapat bereaksi dengan sistein. Fungsi senyawa ini hampir sama dengan vitamin B1 sehingga dikenal sebagai vitamin B1 bawang putih. Bawang putih juga mengandung saponin, sterol, flovonoid, dan fenol. Total saponini yang terdapat di dalam bawang putih adalah 0,3-1,1% dari berat kering. Saponin yang terdapat dalam bawang putih berkhasiat sebagai antitumor, antihemolisis, dan penawar racun (Tim Penulis PS, 2001).

Bawang putih mengandung minyak asiri yang sangat mudah menguap di udara bebas. Minyak asiri pada bawang putih diduga mempunyai kemampuan sebagai antibakteria dan antiseptic (Block, 1992 dalam Giri, 2008). Aktivitas antiviral bawang putih tergantung pada amplop virus dan membrane sel. Aktivitas bawang putih untuk melawan virus yang tidak beramplop adalah dengan menghambat adsorbsi dan penetrasi virus ke dalam sel. Ekstrak bawang putih yang efektif untuk melawan virus sudah teruji dan konsentrasi tertinggi yang telah dicoba yaitu 1000 mg/ml menunjukkan bahwa bawang putih mampu mengurangi keinfektifan virus (Webwer et al., 1992 dalam Giri, 2008).

2. Meniran (Phyllantus niruri),

Meniran herba banyak mengandung bahan kimia sebagai berikut lignan yang terdiri dari phylanthine, hypophyllanthin, phyltetralin, lintretalin, nirathin, nitretalin, nirphylline, nirurin, dan nirurisida. Terpen terdiri dari cymene, limonene, lupeol, dan lupeol acetat. Flavonoid terdiri dari quercitrin, isoquercitrin, astragalin, rutine, dan physetinglucosida. Falvonoid pada meniran banyak ditemukan pada bagian akar dan daun ( Suprapto 2006 dalam Ayuningtyas 2008). Lipid terdiri dari ricinoleic acid, dotriancontanoic acid, linoleic acid, dan linolenic acid. Benzenoid berupa methylsalicilat. Dari kelompok alkaloid ditemukan securinine, norsecurinine dan phylanthoside. Sedangkan dari kelompok steroid ditemukan senyawa estradiol dan sitosterol (Kardinan A, Kusuma FR 2007).

Herba dan akar digunakan untuk penyakit radang, infeksi saluran kencing, serta untuk merangsang keluarnya air seni (diureticum), untuk penyebuhan diare, busung air, infeksi saluran pencernaan, dan penyakit yang disebabkan karena gangguan fungsi hati. Buahnya berasa pahit digunakan untuk luka dan scabies. Akar segar digunakan untuk pengobatan penyakit kuning. Dapat digunakan untuk penambah nafsu makan dan obat anti demam. Meniran merupakan salah satu tanaman herbal yang mengandung banyak manfaat. Meniran dapat digunakan dalam berbagai hal yaitu sebagai penuriu  kadar gula, anti bakteri, diuretic, anti diare. Tanaman meniran dapat digunakan untuk menurunkan kadar gula darah. Keberadaan senyawa glikosida flavonoid menyebabkan penurunan kadar gula darah 20-25%. Pemberian meniran dapat menunjukan kenaikan volume urin 13.28 ml. Kandungan kalium yang tinggi pada meniran mencegah pembentukan Kristal kalsium oksalat pada ginjal dan saluran kemih. Meniran hijau (Phyllanthus niruri) mampu menghambat aktivitas virus hepatitis B sebesar 70%. Ekstrak meniran ini mampu mengurangi replica virus hepatitis. Meniran memiliki kadar vitamin C cukup tinggi (408,53 mg/100 g bahan). Vitamin C bertindak sebagai anti oksidanyang kuat, berperan dalam meningkatkan ketahanan tubuh, menurunkan kadar LDL, salah satu bentuk vaksinansi terhadap kanker (Kardinan A, Kusuma FR 2007).

Kandungan flavonoid yang terdapat pada meniran berfungsi sebagai antibakteri dan antioksidan serta mampu meningkatkan kerja sistem imun karena

leukosit sebagai pemakan antigen lebih cepat dihasilkan dan sistem lifoid lebih cepat. Kandungan alkaloid pada meniran bersifat toksik terhadap mikroba, sehingga efektif membunuh bakteri dan virus. Alkaloid berfungsi sebagai anti bakteri  yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan bakteri gram negatif (Naim 2004 dalam Sholikhah 2009). Saponin yang terdapat dalam meniran juga bertindak sebagai antibakter karena memiliki kemampuan dalam menghambat fungsi membrane sel sehingga merusak permeabilitas membrane yang mengakibatkan dinding sel rusak atau hancur.           Meniran juga berfungsi sebagai imunomodulator atau imunostimulator dengan memperbaiki sistem imun yaitu dengan cara menstimulasi sistem imunyaitu dengan cara menstimulasi sistem imun (Suberno 2006 dalam Ayuningtyas 2008).

3. Jambu biji (Psidium guajava),

Kandungan kimia dalam daun jambu biji yaitu senyawa fenolat, flavonoid, karotenoid, terpenoid dan triterpen (Gutierrez et al. 2008 dalam Rivai H dkk. 2009). Fenolat merupakan asam-asam yang merupakan jenis fenol yang sederhana namun memiliki sifat toksik terhadap mikroorganisme Naim 2004 dalam Abdullah 2008). Sedangkan ekstrak kental daun jambu biji mengandung kuersitrin, minyak atsiri, tanin, b-sitosterol dan asam guaiakolat (Badan POM, 2004 dalam Rivai H dkk. 2009). Minyak atsiri merupakan senyawa fenol dan turunannya yang mampu mendenaturasi protein sel bakteri (Hasim 2003 dalam Abdullah 2008). Senyawa fenolik dan turunannya yang juga berasal dari dari minyak atsiri dapat bersifat toksik terhadap virus, bakteri dan fungi (Naim 2004 dalam Abdullah 2008), minyak atsiri ini diduga sebagai kandungan ekstrak yang mampu mengatasi infeksi virus, bakteri dan fungi.

Selain itu berbagai kajian fitokimia telah menemukan kandungan kimia daun jambu biji yang lebih rinci, antara lain senyawa fenolat total 575,3 mg/g daun kering (Qian & Nihorimbere 2004 dalam Rivai H dkk. 2009), kuersetin 0,181 – 0,393% (El Sohafy et al. 2009 dalam Rivai H dkk. 2009), morin, morin-3-O-liksosida, morin-3-Oarabinosa, kuersetin dan kuersetin-3-0-arabinosida (Rattanachaikunsopon & Phumkhachom 2007 dalam Rivai H dkk. 2009), guaijavarin (Arima & Danno 2002 dalam Rivai H dkk. 2009), guajadial (Yang et al, 2007 dalam Rivai H dkk. 2009), asam ferulat (Chen & Yen 2007 dalam Rivai H dkk. 2009).

4. Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa),

Menurut hasil penelitian Widowati dalam Lesmanawati (2006), kandungan kimia mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) terdiri dari alkaloid, fenol, tannin, minyak atsiri, saponin, sterol/terpen, serta lignan yang merupakan senyawa toksik.

Kandungan minyak atsiri, fenol, tannin,dan alkaloid memiliki kegunaan yang sama seperti yang dikandung oleh paci-paci. Sedangkan kandungan saponin memiliki aktivitas antibakteri dan antivirus, mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menambah vitalitas karena mampu memperbaiki struktur maupun fungsi sel-sel tubuh. Saponin sering dimanfaatkan untuk desinfeksi media budidaya sehingga peranannya sebagai antimikroba sudah teruji (Lesmanawati, 2006).

5.  Daun Sirih (Piper betle),

Tanaman sirih mempunyai kandungan kimia yang penting untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam daun sirih terkandung senyawa fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid. Kandungan kimia lainnya yang terdapat di daun sirih merah adalah minyak atsiri, hidroksikavicol, kavicol, kavibetol, allylprokatekol, karvakrol, eugenol, p-cymene, cineole, caryofelen, kadimen estragol, ter-penena, dan fenil propada. Karena banyaknya kandungan zat/senyawa kimia bermanfaat inilah, daun sirih merah  memiliki manfaat yang sangat luas sebagai bahan obat. Karvakrol bersifat desinfektan, anti jamur, sehingga bisa digunakan untuk obat antiseptik pada bau mulut dan keputihan. Eugenol dapat di-gunakan untuk mengurangi rasa sakit, sedangkan tanin dapat diguna-kan untuk mengobati sakit perut.

6. Mengkudu (Morinda citrifolia),

Hampir seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai obat, mulai dari buah, daun, akar, batang maupun kulit pohonnya (Syamsulhidayat et al, 1991). Selain buah dan daun, akar mengkudu juga potensial untuk dikembangkan (Waha, 2001). Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Pacific Science tahun 1950 melaporkan bahwa mengkudu mengandung bahan antibakteri. Senyawa antraquinon yang banyak terdapat pada akar mengkudu dilaporkan dapat melawan bakteri (Wang et al, 2002).

Telah dipaparkan semua kandungan dan manfaat dari kandungan tersebut. Semua bertolak belakang dengan hasil penelitian yang telah dilakukan. Parameter kesalahan terbesar yang terjadi adalah karena terdapatnya kontaminan yang disebabkan oleh ketidaksterilan dalam pelaksanaan penelitian.


IV. KESIMPULAN  DAN  SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang telah didapat bahwa tidak ada satu kelompok pun yang berhasil dalam penelitian ini. Sehingga kita tidak dapat melihat keefektifan dari semua bahan yang telah disediakan sebagai alternatif pengganti antibiotik. Dan tidak dapat mencegah serta mengobatipenyakit dari bahan fitofarmaka.

4.2 Saran

Kegiatan praktikum selanjutnya disarankan tidak hanya menggunakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hidrophylla tetapi menggunakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri maupun virus lain.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. 2008.  Efektivitas ekstrak daun Paci-Paci Leucas lavandulaefolia untuk pencegahan dan pengobatan infeksi penyakit Mas Motile Aeromonas Septicaemia ditinjau dari patologi makro dan hematologi Ikan Lele Dumbo Clarias sp.. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Abidin Zaenal. 2009. http:/www.ciputraenterprenourship.com.  [3 April 2010]

Agustian R. 2007. Penggunaan ekstrak bawang putih Allium sativum untuk pengendalian inveksi Vibrio harveyi pada larva udang vaname Litopenaeus vannamei. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Manfaat Daun Ketapang tuk ikan

image Ketapang disebutkan sebagai resep asia untuk mengatasi persoalan air. Kebanyakan ikan tropis yang hidup di sungai dan danau memiliki air yang berwarna gelap kecoklat-coklatan. Ditemukan fakta bahwa ikan cupang yang tinggal di sekitar air gelap akibat ketapang, jauh lebih sehat dan indah.
Ketapang adalah pohon yang mirip pagoda besar, merupakan tanaman asli asal Malaysia dan Indonesia. Daun-daunnya berwarna hijau dan menjadi merah terang setelah menua.
Daun-daun yang menua akan menguning dan berguguran. Oleh orang Indonesia tanaman ini digunakan sebagai obat penyakit kulit. Riset terakhir membuktikan bisa menyembuhkan penyakit hipertensi. Ketapang yang memiliki nama latin: Terminalia Catappa, atau biasanya disebut juga kenari tropis, badamier, Kenari Pulau Jawa, kenari liar, Kenari Orang India, Myrobalan, Malabar Kenari, Kenari Singapura, Huu Kwang, Kenari Laut, Kobateishi. Pohon ini dikenal menghasilkan suatu racun pada daun-daunnya untuk mempertahankan dirinya terhadap serangga parasit. Daun-daun yang mengeringkan jatuh masuk ke sungai akan menimbulkan warna coklat kuat. Larutan ini penuh dengan asam organik seperti humic dan tannin.
Ketapang yang mengering dapat melepaskan asam organik seperti humic dan tannin, yang dapat menurunkan pH air, dan menyerap bahan-kimia berbahaya dan memberikan kondisi air yang nyaman bagi ikan.
Asam humic, adalah suatu campuran yang komplek pembusukan sebagian bahan-bahan organik. Asam humic dari air tawar berasal dari beberapa sumber, terbanyak datang dari tanah hasil pembusukan tanaman. Zat ini terbawa air masuk ke sungai dan danau dan berubah sepanjang perjalanannya hingga ke laut. Asam Humic mengandung belerang, fosfor dan nitrogen serta bermacam-macam zat lain seperti Ca, Mg, Cu, Zn dan lain lain. Asam humic dapat dipecah ke dalam dua kelompok berdasar pada ukuran dan polaritas masing-masing komponennya. Pecahan yang lebih kecil yang lebih polar dinamakan asam fulvic dan yang lebih besar yang bukan polar biasanya disebut asam humic. Asam humic adalah hasil akhir pembusukan bangkai binatang maupun tumbuh-tumbuhan yang sangat berperan penting dalam kesuburan tanah.
Asam tannin, lignin dan fulvic adalah sub kelas dari asam humic. Mereka semua mewarnai air sehingga menguning. Asam humic dan tannin mungkin sangat bermanfaat untuk banyak orang karena dapat menghambat berbagai jenis bakteri yang membahayakan kesehatan ikan peliharaan. Asam humic dan tannin juga dapat menyerap dan menetralkan racun dari bahan kimia logam berat seperti seng, almunium dan tembaga.
Terlalu banyak pemberian daun ketapang kering kedalam air dapat membuat pH semakin rendah. Maka sesuaikanlah pemakaian ketapang kering agar memberikan efek yang optimal kepada ikan. Inilah sebuah resep Asia yang sekarang mulai diinstankan dalam botol kemasan bermerek, salah satunya adalah Atison Betta Spa produk dari Ocean Nutrion.
Sumber: Atmadjaja, J. dan Sitanggang, M. Panduan Lengkap Budi daya & Perawatan Cupang Hias, hal 125-126, Jakarta, Agromedia, 2008
member of InBS and IBC
www.jotyabetta.com

Obak Herbal Ikan Lele

Penyebab penyakit ikan golongan parasite

Penyakit ikan golongan parasit dibagi menjadi penyakit yang disebabkan oleh protozoa, helminthes (cacing), dan crustacea (udang-udangan). Parasit protozoa yang dilaporkan menyerang ikan air tawar antara lain meliputi Costia, Chilodonella, Trichodina, Ichthyophthirius multifiliis, Myxobolus dan Myxosoma cerebralis. Penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok besar yaitu Platyhelminthes, Nematoda, dan Acanthocephala. Di Indonesia dikenal antara lain 2 genus dari kelas Trematoda yang banyak ditemukan menyerang ikan air tawar yaitu Dactylogyrus dan Gyrodactylus. Walaupun masih ada jenis-jenis lain namun kedua jenis cacing tersebut di atas yang paling sering ditemukan pada ikan.

Penyebab penyakit ikan golongan jamur

Beberapa jenis penyakit jamur yang termasuk berbahaya untuk ikan antara lain adalah Aphanomyces, Branchiomyces, dan Ichthyophonus. Jamur yang paling sering ditemukan pada ikan air tawar adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp.

Penyebab penyakit ikan golongan bakteri

Beberapa jenis penyebab penyakit ikan golongan bakteri yang sering menimbulkan kerugian dalam usaha budidaya ikan antara lain meliputi Aeromonas hydrophila, Aeromonas salmonicida, Mycobacterium spp, Nocardia sp., Edwardsiella tarda, Edwardsiella ictaluri, Streptococcus spp., Pasteurella sp, Yersinia ruckeri, Pseudomonas sp. dan Streptomyces sp.

Penyebab penyakit ikan golongan virus

Beberapa jenis virus diketahui dapat menyerang ikan-ikan budidaya dan menimbulkan permasalahan yang serius antara lain Channel Catfish Virus Disease (CCVD), Spring Viraemia of Carp (SVC), Infectious Pancreatic Necrosis (IPN), Lymphocystis Disease (LD), Infectious Hematophoietic Necrosis (IHN), Viral Nervous Necrosis (VNN) dan Koi Herpes Virus (KHV).

PENCEGAHAN PENYAKIT IKAN

Pada prinsipnya pencegahan dapat ditinjau berbagai pendekatan lingkungan, inang dan pathogen.

Pendekatan lingkungan dilakukan dengan menjaga kualitas air supaya tetap mendukung bagi kehidupan ikan, menjaga wadah budidaya tetap bersih dan sehat dan menghindari pengggantian air yang mendadak sehingga tidak menyebabkan ikan menjadi stress. Selain itu penggunaan probiotik/bioremediasi kini sudah banyak dilaksanakan.

Pendekatan inang dilakukan dengan cara penanganan ikan yang baik/tidak kasar, sehingga tidak mengakibatkan ikan menjadi luka/lecet dan tidak stress, pengaturan kepadatan ikan yang disesuaikan dengan ukuran ikan dan daya dukung lahan, pemberian pakan yang tepat mutu (mengandung bahan nutrisi yang diperlukan oleh ikan). Pakan yang diberikan harus sesuai dengan ukuran bukaan mulut ikan (tepat ukuran). Selain itu pemberian pakan harus tepat waktu pemberian artinya kapan waktu yang tepat untuk memberi pakan. Misalnya untuk ikan yang sifatnya nocturnal (misalnya ikan Lele) pakan porsi terbanyak sebaiknya diberikan pada waktu sore atau malam hari. Sedangkan bagi ikan yang non-nocturnal maka pakan bisa diberikan pagi, siang dan sedikit pada waktu sore hari. Guna menjaga kesehatan ikan juga dapat dilakukan dengan menimbulkan kekebalan ikan. Kekebalan pada ikan dapat dibedakan menjadi kekebalan yang specific (humoral) dan kekebalan non-specific (selular/cell-mediated immunity). Kekebalan spesifik artinya kekebalan yang dibentuk hanya efektif untuk mencegah terhadap suatu patogen tertentu. Misalnya pemberian vaksin anti Vibrio pada ikan maka kekebalan yang terbentuk hanya mampu untuk mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Vibrio sp. Sedang kekebalan yang non-spesific adalah kekebalan yang dibentuk untuk sebagai anti dari berbagai infeksi. Kekebalan seperti ini biasa diproduksi dengan cara pemberian immunomodulator yaitu antara lain Vitamin C, Lypopolysaccharide (LPS), dan ?- glucan.

Pendekatan patogen, pada prinsipnya kita menjaga supaya virulensi patogen tidak meningkat. Virulensi patogen biasanya berkaitan erat dengan makin memburuknya lingkungan dan juga dengan derajat stres dari inangnya. Jadi supaya patogen tidak meningkat patogenitasnya kita harus menjaga agar kondisi lingkungan tidak semakin buruk dan menjaga agar inang tetap dalam keadaan kondisi yang prima. Kondisi lingkungan yang makin buruk akan memacu perkembangan patogen lebih meningkat.

Pada intinya, mencegah penyakit dapat dilakukan melalui a). Manajemen Budidaya secara menyeluruh, termasuk di dalamnya penerapan padat tebar yang disesuaikan dengan daya dukung lahan, melaksanakan b). Manajemen lingkungan dan c). Manajemen pakan. Manajemen lingkungan yang dimaksud adalah menjaga lingkungan perairan supaya selalu berada dalam kondisi yang kondusif bagi kehidupan ikan dan tidak banyak menimbulkan tekanan. Pakan yang diberikan pada ikan harus tepat mutu, tepat jumlah, tepat waktu pemberian dan tepat ukuran.

PEMANFAATAN TANAMAN OBAT TRADISIONAL dalam pengendalian Penyakit Ikan

Salah satu alternatif penanggulangan penyakit ikan air tawar yang aman adalah dengan menggunakan tanaman obat. Bahan obat lain yang relatif lebih aman untuk lingkungan dan efektif dalam mengobati penyakit ikan dapat menggunakan bermacam-macam tanaman obat tradisional. Indonesia sebagai negara tropis memiliki kekayaan tanaman yang berpotensi menjadi obat. Banyak jenis tanaman yang mengandung senyawa yang bersifat antimikroba. Sejumlah tanaman mengandung senyawa bersifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri).

Dari beberapa percobaan, fitofarmaka terbukti efektif mengatasi penyakit ikan air tawar dan memiliki beberapa keuntungan, seperti : Pertama, dapat menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri. Kedua, ramah terhadap lingkungan, mudah hancur/terurai, dan tidak menyebabkan residu pada ikan dan manusia.Ketiga, mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak, keempat harganya ekonomis dan cukup murah.

Fitofarmaka yang dapat dijadikan pengganti antibiotik untuk mengatasi penyakit ikan air tawar adalahbawang putih (Allium sativum), dan daun ketapang (Termmalia cattapa). Hasil penelitian lainnya menginformasikan bahan lain yang dijadikan bahan antibiotik adalah daun sirih (Piper betle L), daun jambu biji (Psidium guajava L), jombang (Taraxacum officinale) dan daun sambiloto (Androgaphis paniculata). Daun sirih diketahui berdaya antioksidasi, antiseptik, bakterisida, dan fungisida. Tanaman sambiloto bersifat anti bakteri, sedangkan daun jambu biji selain bersifat anti bakteri juga bersifat anti viral.

Beberapa tanaman obat yang sudah ditelitI oleh peneliti dari BRKP DKP pada Tabel 1.

Tabel 1. Tanaman obat dan manfaatnya

No Jenis Tanaman Dosis Perlakuan Peruntukan/Khasiat

1). Meniran


5000 mg/l

Rendam (5 jam)

Anti. Aeromonas hydrophila

2). Kipahit


10.000 mg/l

Rendam (3 jam)

Anti. Mycobacteriosis

3). Daun Semboja


600-700mg/l

Rendam

Anti Aeromonas hydrophila

4). Sambiloto 200-300 mg/l


Rendam (lama)

Anti Aeromonas hydrophila

400 mg/l Rendam (lama) Meringankan KHV

Penelitian dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi ekstrak daun kipahit (Picrasma javanica) dalam penanggulangan penyakit “mycobacteriosis” pada ikan Gurame telah dilakukan di Laboratorium penyakit ikan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor. Ekstrak daun kipahit secara invitro pada berbagai dosis diuji efektifitasnya terhadap bakteri Mycobacterium fortuitum. LC50 bakteri Mycobacterium fortuitum dan toksisitas ektrak daun juga diuji terhadap ikan uji. Kegunaan ekstrak daun juga diuji bagi pengobatan ikan Gurame yang telah diinfeksi oleh bakteri Mycobacterium fortuitum pada level 108 cfu/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kipahit pada level konsentrasi 10.000 mg/l dapat menghambat pertumbuhan bakteri uji, sedangkan perendaman ikan uji yang terinfeksi bakteri dengan dosis yang sama dengan lama perendaman 3 jam dapat digunakan untuk pengobatan penyakit Mycobacteriosis.

Penggunaan bahan-bahan alami digunakan untuk pengendalian jamur antara lain dapat menggunakan kunyit, bawang putih, daun sirih, daun pepaya dan brotowali. Bahan-bahan ini dapat berguna untuk membasmi penyakit jamur yang menempel pada tubuh ikan, walaupun dalam membasmi suatu penyakit dengan menggunakan bahan-bahan alami memiliki waktu yang lama. Kemudian dari ke-5 bahan-bahan alami yang dapat menyembuhkan penyakit jamur pada ikan yaitu bawang putih. Sumber lain menyampaikan informasi adanya manfaat dari tanaman alami untuk obat seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Tanaman obat dan manfaatnya

No. Jenis Tanaman Dosis Peruntukan/Khasiat

1. Bawang putih 25mg/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin

2. Daun sirih 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele

3. Daun jambu biji 0,2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele

4. Daun sambiloto 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele

5. Daun jombang dan ketapang 60gr/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin

(Zainal Abidin, 2005)

Daun Jombang.jpg

Ketapang.jpg

PENUTUP

Penggunaan tumbuhan obat tradisional dalam pencegahan dan pengobatan penyakit ikan memiliki kelebihan antara lain mudah diperoleh, murah, efektif untuk mencegah dan mengobati penyakit ikan, dan relatif aman bagi ikan, lingkungan, dan manusia yang mengonsumsinya (konsumer). Selain itu, kelebihan lainnya adalah tidak menimbulkan resistensi pada pathogen.

Selamat Mencoba…..!!!!

Beberapa Tips lainnya yang saya kutip dari beberapa sumber dan pengalaman rekan-rekan yang saya rangkum disini. Semoga bermanfaat.

Bawang putih
fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri
dosis : 10-20 gr/ kg pakan
aplikasi : tumbuk bawang putih, campurkan ke dalam telur ayam yg sdh di kocok terlebih dahulu lalu dicampur dengan pakan atau pelet. setelah dicampur rata, keringkan dgn pelet.
Kunyit







fungsi : pencegahan a/ pengobatan penyakit bakteri
dosis : 2,5 gr perasan kunyit/liter air
aplikasi : - tumbuk/blender kunyit, peras, lalu tambah air
- campurkan dalam pelet atau pakan.
Ragi/Yeast



fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri
dosis : 0.1 - 1 % ragi roti dalam pakan
aplikasi : campurkan ke dalam telur ayam (sudah kocok) dan campur dgn pakan atau pele
Daun Sirih



fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri, parasit (8,3ppt) dan anti jamur
dosis : 2 gr/60 ml air
aplikasi : direbus dgn air,setelah dingin rendam ikan yg terkena penyakit
Daun pepaya



fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri
dosis : 2 gr/60 ml air
aplikasi : diremas lalu campur dgn air, rendam ikan yg terkena penyakit selama 24 jam

Buah Mengkudu


Fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri

Dosis : 5 buah / 10mtr2 luas kolam

Aplikasi : Buah Mengkudu diiris kecil-kecil, direndam dalam air probiotik 1 x 24 jam

Ditebarkan ke kolam secara merata beserta air rendamannya.

Buah Mahkota Dewa


Fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri

Dosis : 5 buah/ 10mtr2 luas kolam

Aplikasi : Kupas kulit buah mahkota dewa, jemur sampai kering. Rendam daun mahkota dewa yg kering dalam probiotik 1 x 24 jam dan tebarkan secara merata ke kolam beserta air rendamannya.

note:

aplikasi herbal dilakukan secara terus menerus dengan selang waktu 1 minggu
(1 minggu penggunaan dan 1 minggu tidak)
sebaiknya penggunaan obat herbal tidak hanya 1 jenis tetapi kombinasi dari bbrp jenis herbal.
Saat ini kian banyak yang sadar akan kegunaan obat-obatan alami atau herbal untuk mengatasi penyakit pada ikan lele. Hal ini seiring dengan semakin banyaknya temuan penelitian yang mengungkap khasiat sejumlah tanaman dan bumbu dapur untuk memperbaiki kondisi kesehatan lele. Bahan-bahan yang sudah teruji diantaranya adalah bawang putih, mengkudu, temulawak, kunyit, meniran, ragi, daun sirih, dun sambiloto, daun pepaya, daun jambu biji, daun paci-paci, segala pahit-pahitan, dan masih banyak lainnya.

Menambah Nafsu Makan Pada Lele
imagejangan remeh kan temulawak yang bisanya kita tidak sadar/tidak tahu itu namanya. tanpa kita sadari bahwa temulawak bisa lho buat menambah nafsu makan ikan lele. ni buat yang punya lele tidak semangat makanya ini obatnya.
untuk menambah nafsu makan ikan lele metode herbal. di campur dengan pakan. 0.2 : 0,25 : 1 kg gram:
0.2 kg temulawak, (curcuma) "bahasa latinya"
0,25 kg air (di usahakan air hangat) karna dengan keadaan hangat sari temulawak akan terangkat secara maksimal)
1 kg pakan / pelet.
pembuatan :
1. parut temulawak
2. campur dengan air hangat 0.25
3. peras dan saring parutan temulawak tadi
4. campurkan air perasan temulawak tadi dengan pelet sebanyak 1 kg.
5. diamkan selama 10 menit.
nb. setelah di camput jangang lebih dari 8 jam.

sumber : Comunity-development

Tanaman Obat Untuk Mengatasi Bakteri/Jamur pada Ikan Air Tawar

Indonesia sebagai negara tropis memiliki kekayaan tanaman yang berpotensi menjadi obat. Banyak jenis tanaman yang mengandung senyawa yang bersifat antimikroba. Sejumlah tanaman mengandung senyawa berifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri).
Salah satu penanggulangan penyakit ikan air tawar yang aman adalah dengan mengunakan tanaman obat. Fitofarmaka yang digunakan sebagai pengganti antibiotik untuk mengatasi penyakit ikan adalah bawang putih

daun ketapang

Bahan lainnya adalah daun sirih

daun jombang

dan daun sambiloto

Dari beberapa percobaan, fitofarmaka terbukti efektif mengatasi penyakit ikan air tawar dan memiliki beberapa keuntungan, seperti:
Pertama, dapat menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri. Kedua, ramah terhadap lingkungan, mudah hancur, dan tidak menyebabkan residu pada ikan dan manusia. Ketiga, mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak, keempat harganya ekonomis dan cukup murah.
maaf ny saya repost dr web org infonya ,tapi dri sumbernya orgnya tdk menjelaskan cara penggunaan obat herbal tsb
jadi saya mau tnya agan2 ada yg tau cra menggunakan tanaman herbal yg diatas untuk mengatasi bakteri/jamur pda ikan air tawar cz saya msh newbie di dunia perikanan air tawa

PENSTABILAN PH AIR DENGAN DAUN KETAPANG

image Penelitian penurunan untuk menstabilkan pH air salah satunya dapat menggunakan daun ketapang yang memiliki kurang lebih enam senyawa asam fenolat. Dengan penjelasan minimal 1 asam fenolat dalam bentuk bebas, minimal 1 asam fenolat dalam bentuk glikosida, dan minimal 3 asam fenolat dalam bentuk ester pada daun ketapang, dimana senyawa–senyawa tersebut bukan merupakan senyawa asam kafeat, asam ferulat, asam vanilat, asam siringat, asam protokateukat, dan asam p-hidroksi benzoate (Rismala,dkk.,2004). Zat asam ini yang nantinya akan menguraikan/menghidrolisis ion H, sehingga pH air akan menurun dan stabil sesuai dengan kondisi optimal hidup hewan akuatik yang dibudidayakan.
1.1.3.1 Klasifikasi
Klasifikasi Pohon Ketapang termasuk
Divisi : Spermatophyta,
Sub divisi : Angiospermae,
Kelas : Dicotyledeneae,
Bangsa : Myrtales,
Suku : Cumbretaceae,
Marga : Terminalia,
Dan jenis : Terminalia catappa L. (Hutapea, J.R,1994)
1.1.3.2 Morfologi
Ketapang Daun ketapang (Terminalia catappa L.) merupakan tumbuhan yang memiliki batang, akar dan daun sejati. Layaknya pohon yang lain tinggal di daerah sub tropis dan tropis pohon ini tumbuh mudah didapatkan di daerah tropis maupun sub tropis terutama di Afrika. Ciri – ciri pohonya mempunyai tinggi 10-35 meter, di Indonesia tumbuh di dataran rendah dan di pesisir (Heyne, 1987).
1.1.3.2.1 DAUN (Folium)
Daun lengkap merupakan daun yang terdiri atas upih daun (vagina), tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Sedangkan Terminalia catappa disebut daun yang tidak lengkap karena daunnya hanya terdiri atas helaian daun (lamina) dan tangkai daun (petiolus).
Gambar 1.1 daun ketapang (Terminalia catappa L.)
Terminalia catappa memiliki bentuk tangkai daun seperti bentuk tangkai daun tumbuhan pada umumnya, yaitu berbentuk silinder dengan sisi agak pipih dan menebal pada pangkalnya.
1.1.3.2.2 BATANG (Caulis)
Batang pada tumbuhan ada yang kelihatan ada pula yang tidak. Oleh sebab itu maka dibedakan menjadi tumbuhan yang tidak berbatang dan tumbuhan yang jelas berbatang. Untuk tumbuhan Terminalia catappa sendiri jelas sekali digolongkan ke dalam tumbuhan yang jelas berbatang karena batang Terminalia catappa merupakan batang berkayu (lignosus), yaitu batang yang keras dan kuat.
Gambar 1.2 Batang ketapang (Terminalia catappa L.)
1.1.3.2.3 AKAR (Radix)
Terminalia catappa termasuk ke dalam tumbuhan dikotil sehingga sistem perakarannya adalah sistem akar tunggang (radix primaria), yaitu terdapat akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yag lebih kecil. Jika melihat dari percabangan dan bentuknya, maka akar Terminalia catappa termasuk ke dalam akar tunggang yang bercabang (ramosus), yaitu akar tunggang yang berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus ke bawah, bercabang-cabang banyak sehingga memberi kekuatan yang lebih lagi kepada batang dan juga daerah perakaran menjadi sangat luas selain itu daya serap terhadap air dan zat makanan menjadi lebih besar.
1.1.3.2.4 BUNGA (Flos)
Pada bunga Terminalia catappa, bulir yang terdapat di bagian bawah dengan bunga berkelamin 2 atau bunga betina sedangkan di bagian atas dengan bunga tidak berkelamin atau bunga jantan. Tepi kelopak bertaju 5, berbentuk piring atau lonceng. Bunga betina, panjangnya mencapai 4 – 8 mm berwarna putih. Pada bunga yang berkelamin 2 dan bunga jantan, benang sarinya muncul keluar sedangkan benang sari pada bunga betina dan tidak berkelamin lebih pendek dan steril. Tangkai putiknya sangat pendek bahkan terkadang tidak ada.
Gambar 1.3 Bunga ketapang (Terminalia catappa L.)
1.1.3.2.5 BUAH (Fructus)
Bentuk dari buah pohon katapang ini seperti buah almond. Besar buahnya kira-kira 4 – 5,5 cm. Buah katapang berwarna hijau tetapi ketika tua warnanya menjadi merah kecoklatan. Kulit terluar dari bijinya licin dan ditutupi oleh serat yang mengelilingi biji tersebut.
Gambar 1.4 Buah ketapang (Terminalia catappa L.)
1.1.3.2.6 BIJI (Semen)
Kulit Biji (Spermodermis) Kulit biji dibagi menjadi 2, yaitu lapisan kulit luar (testa) dan lapisan kulit dalam (tegmen). Lapisan kulit luar pada biji Terminalia catappa ini keras seperti kayu. Lapisan inilah yang merupakan pelindung utama bagi bagian biji yang ada di dalamnya.
Gambar 1.5 Biji ketapang (Terminalia catappa L.)
1.1.3.3 Manfaat
Masyarakat menggunakan daun ketapang secara tradisional untuk disentri, kudis, kurap, radang selaput lendir, pencahar dan pendarahan. Daun ketapang gugur mempunyai aktivitas anti bakteri Staphylococcus dan menghambat replivikasi virus HIV dengan sitotoksitas yang relatif kecil (Lin,dkk. 2000). Selainitu ekstrak air dan ekstrak etanol dari daun gugur merah segar, daun gugur kering, dan daun hijau telah diteliti aktifitas anti sickling (Anti Sickling Cell Animia) secara invitro. Ekstrak etanol dan ekstrak air gugur merah segar memberikan aktifitas antisickling yang paling besar, yaitu sebesar 78% pada 180 menit inkubasi dan 77% pada 90 menit inkubasi (Moody, 2003)
Daun ketapang yang masih di pohon direbus untuk mengobati jamur.dan di dunia perikanan digunakan untuk mengobati penyakit jamur yang menyerang ikan. Di Indonesia mempunyai beberapa nama, di aceh :geutapa/ketapang, Batak : ketapang, Nias : katafa, Toraja : ketapas, Makasar : Katapieng, Sunda/Jawa/Madura/Bali : ketapang (kasahara,1995)
Menurut Van Der Burg, air rebusan akar ketapang untuk mengobati beser, radang selaput lendir usus dan mejen. Koordders dan Valenton menyatakan bahwa kayunya kurang awet sehingga jarang dimanfaatkan, tetapi sering dimanfaatkan untuk membuat perahu karena ringan dan awet di dalam air laut serta untuk membangun rumah (Heyne,1897)
1.1.3.4 Kandungan
Telah diperiksa fitokimia ekstrak etanol daun ketapang (Terminalia catappa L., Combretaceae). Hasil penapisan fitokimia menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid, tanin, dan steroid/triterpenoid. Satu senyawa flavonoid telah diisolasi dari fraksi etil asetat dengan cara kromatografi lapis tipis preparatif dan berdasarkan spektrum ultraviolet-sinar tampaknya, diperkirakan isolat tersebut merupakan senyawa 3,5,7,3’,4’-pentahidroksi flavon (kuersetin). Hasil kromatografi kertas ekstrak etanol menunjukkan adanya enam senyawa asam fenolat (Rismala,dkk.,2004).

Tanaman Obat Untuk Mengatasi Bakteri pada Ikan Air Tawar

Berikut ini adalah tanaman  obat bagi ikan yang terkena penyakit  yang mungkin bisa  jadi alternatif bagi petani ikan ... Daun Ketapang, Daun sirih, Daun Jombang, Bawang putih, Daun Sambiloto/sambiroto

Testimoni  dari  empangraddina.com :
kami pernah mencoba ramuan tersebut namun ukuran pastinya kami sesuaikan dengan jumlah ikan yang akan kami obati dengan komposisi 1:1 kemudian dilarutkan kedalam air di bak/drum kami rendam selama 30 menit, cukup efektif untuk menanggulangi ikan yang terkena jamur dan bakteri dalam jangka waktu 1 minggu ikan kembali sehat. ........ selamat mencoba

Berikut adalah ulasan lengkapnya :

Budidaya ikan air tawar yang berpotensi besar, dihadapkan oleh beberapa kendala. Salah satu kendala penyebab kegagalan budidaya ikan air tawar adalah penyakit. Penyakit yang menyerang ikan tropis tawar pada umumnya adalah bakteri.

Beberapa penyakit ikan bakterial yang menginfeksi adalah Aeromonas Sp, Pseudomonas Sp, Staphylococcis Sp, dan Streptococcus Sp. Bahkan pada 1980, wabah penyakit yang disebabkan Aeromonas Hydrophila menyebabkan kematian 82.288 ikan di Jawa Barat.
Tak hanya itu, pada tahun 2005 sebanyak 47 ton ikan gurame dan 2,1 juta ekor benih gurame yang siap dipasarkan mati disebabkan penyakit serupa di Lubuk Pandan, Sumatra Barat.

Budidaya ikan air tawar yang berpotensi besar, dihadapkan oleh beberapa kendala. Salah satu kendala penyebab kegagalan budidaya ikan air tawar adalah penyakit. Penyakit yang menyerang ikan tropis tawar pada umumnya adalah bakteri.

Beberapa penyakit ikan bakterial yang menginfeksi adalah Aeromonas Sp, Pseudomonas Sp, Staphylococcis Sp, dan Streptococcus Sp. Bahkan pada 1980, wabah penyakit yang disebabkan Aeromonas Hydrophila menyebabkan kematian 82.288 ikan di Jawa Barat.
Tak hanya itu, pada tahun 2005 sebanyak 47 ton ikan gurame dan 2,1 juta ekor benih gurame yang siap dipasarkan mati disebabkan penyakit serupa di Lubuk Pandan, Sumatra Barat.

Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasi masalah penyakit ikan air tawar dari mulai menciptakan lingkungan optimal, karantina, vaksinasi, disinfeksi wabah hingga penggunaan antibiotik.

Namun pemberan antibiotik dengan dosis yang tidak tepat dan dilakukan terus menerus dapat pula menyebabkan pencemaran lingkungan. Selain itu terjadi resistensi terhadap bakteri. Dampak lebih jauh ikan-ikan yang mengandung antibiotik melebihi standar tidak laku untuk diekspor. Pasalnya beberapa negara Eropa menerapkan standar antibiotik yang aman.

Indonesia sebagai negara tropis memiliki kekayaan tanaman yang berpotensi menjadi obat. Banyak jenis tanaman yang mengandung senyawa yang bersifat antimikroba. Sejumlah tanaman mengandung senyawa berifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri).

Salah satu penanggulangan penyakit ikan air tawar yang aman adalah dengan mengunakan tanaman obat. Fitofarmaka yang digunakan sebagai pengganti antibiotik untuk mengatasi penyakit ikan adalah bawang putih, dan daun ketapang. Bahan lainnya adalah daun sirih, jombang dan daun sambiloto.

Dari beberapa percobaan, fitofarmaka terbukti efektif mengatasi penyakit ikan air tawar dan memiliki beberapa keuntungan, seperti:

Pertama, dapat menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri. Kedua, ramah terhadap lingkungan, mudah hancur, dan tidak menyebabkan residu pada ikan dan manusia. Ketiga, mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak, keempat harganya ekonomis dan cukup murah.
share dari : pokdakan-klayar

Pohon Pepaya Bermanfaat untuk Budi Daya Lele

Pohon pepaya memang kaya akan manfaat, baik itu untuk kesehatan maupun buahnya bisa dijual. Bukan hanya itu saja, pohon pepaya juga banyak dimanfaatkan pembudi daya lele, khususnya dalam kolam terpal.
Menurut Sang Ketut Rencana, Ketua Kelompok Sri Sedana, Bangli, belum lama ini berkembangnya usaha budi daya lele khususnya dalam kolam terpal maupun kolam permanen menunjukkan usaha budi daya lele telah dilirik sebagai usaha sampingan maupun tetap.
Dikatakan, kenaikan harga pakan pabrikan serta kemungkinan lele terkena penyakit akibat perubahan cuaca tentu tidak bisa dibendung, namun hanya bisa diatasi atau diantisipasi. Seperti halnya, perubahan cuaca dari sebelumnya panas ke dingin atau hujan perlu diantisipasi oleh pembudi daya khususnya di kolam yang terbuka, sebab masuknya air hujan ke dalam kolam akan menurunkan Ph air, sehingga perlu dinetralisir agar ikan-ikan lele yag dibudidayakan tidak terserang penyakit, sehingga bisa mengancam keberlangsungan budi daya.
Lebih jauh dikatakan, salah satu tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk menstabilkan Ph air saat hujan yaitu pohon pepaya. Pohon pepaya utuh beserta daunnya bisa ditempatkan di kolam budi daya.
Pembudi daya ikan lele lainnya, Ketut Wirya juga mengungkapkan hal yang sama. Untuk menstabilkan suhu air atau Ph air pada kolam lele akibat air hujan bisa menggunakan potongan pepaya baik itu daunnya atau batangnya yang mana semua bagian tersebut dimasukkan ke kolam.
Ia mengatakan, selain untuk menstabilkan Ph air, pohon pepaya tersebut juga bermanfaat untuk lele yang terkena penyakit, sebagai obat dalam musim hujan. “Pohon pepaya tersebut, baik daun maupun batangnya semuanya dimasukkan ke kolam. Setelah tiga hingga empat hari, pohon pepaya yang ada di kolam akan tumbuh lumut dan selanjutnya lumut-lumut tersebut akan dimakan oleh lele dan bermanfaat sebagai obat,” ujarnya.
Selain itu, ditambahkan, untuk mengantisipasi menurunnya Ph air, selain pohon pepaya juga bisa digunakan garam ikan atau dengan pohon pisang. *dwi

sumber : Perikanan badung

Manfaat Daun Pepaya Untuk Ikan

image Manfaat daun pepaya

dalam dunia kesehatan daun pepaya sudah di kenal dari jaman nenek moyang kita dulu kala. dari segi kesehatan buat manusia dan hewan daun pepaya juga sangat banyak mengandung gizi juga vitamin serta obat2an yg bisa membantu metabolisme dalam tubuh.

khusus saat ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman yg saya alami dan sudah saya buktikan sendiri, kepada anda semua  yg sempat membaca tulisan ini, harapan saya dgn tulisan ini bisa membantu anda dalam menghadapi masalah yang anda alami, saat anda memelihara/beternak ikan.

semoga bermanfaat.

manfaat buat ikan lele sangat banyak sekali, di antaranya;

- untuk obat setres saat ikan lg kepanasan atau saat ikan baru di beli dan di masukan dalam kolam pembenihan atau penebaran.

- untuk obat biar ikan bisa lebih santai dan slow dalam kolam

caranya rajang halus daun pepaya trus sdikit di remas2, kalau sdh layu/ lecek tebar ke kolam buat pakan ikan lele atau nila jg yg lainya

- untuk menghindari rasa kanibalisme di antara sesama ikan lele

caranya cincang lembut daun pepaya trus di beri sedikit tetes di aduk2 sampai rata, biarkan kurang lebih selama 15 menit, baru di kasihkan ke ikanya,


- untuk pakan alami juga

caranya bisa di rajang atau langsung di lempar ke kolam

- untuk menambah imun buat smua jenis ikan

caranya jg seperti yg di atas

- untuk sterilisasi air kolam dari penyakit

ambil daun pepaya dan tangkainya secukupnya sesuai dgn luas kolam yg anda miliki, perbandinganya 1 gengggam untuk 1 mtr persegi, cincang/rajang daun pepaya kecil2 terus di tumbuk sampai halus trus di tebar ke kolam secara merata.


- untuk sterilisasi kolam terpal agar ikan tidak banyak yang mati saat penebaran benih dan pembesaran juga pemeliharaan.

caranya ambil daun pepaya trus tumbuk sampai halus kemudian campur dgan air dan semprotkan ke seluruh permukaan daripada terpal atau campur dgn air kemudian di aduk2 diamkan slma 15 mnt trus di saring dan di semprotkan ke deluruh permukaan terpal baru, biarkan ramuan kering 
-+ 5 hari kemudian bersihkan kolam dari kotoran daun pepaya bilas sampai bersih, trus kolam bisa di isi air sesuai dgn kebutuhan ikan anda

sumber : mchoirijaya

Sembiloto Lindungi Ikan Air Tawa dari Serangan Bakteri - 2

Sembiloto Lindungi Ikan Air Tawa dari Serangan Bakteri
Bogor-RoL --Sebuah riset yang dilakukan Sri Lestari Angka, mahasiswa S3 Program
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan bahwa sambiloto mampu
melindungi ikan air tawar dari serangan bakteri yang mematikan.
Saat memaparkan hasil risetnya pada sidang terbuka disertasi doktornya berjudul
"Kajian Penyakit Motile Aeromonad Septicaemia Pada Ikan Lele Dumbo (Clarias sp):
Patologi, Pencegahan dan Pengobatannya Dengan Fitofarmaka" di Kampus IPB
Darmaga, Rabu, ia mengungkapkan kembali bahwa pada tahun 1980-an, di Jawa Barat
digegerkan dengan matinya 82,2 ton ikan air tawar dalam sebulan.
Pada ikan yang mati itu dijumpai bercak-bercak merah, dan petani kemudian
menamai penyakit bercak merah ikan (red spot disease). Sedang para ahli
perikanan menyebutnya motile aeromonad septicaemia (MAS). "Penyakit yang
disebabkan bakteri Aeromonas hydrophila ini seringkali mewabah di Asia Tenggara
sampai sekarang. Penularannya sangat cepat melalui perantara air, kontak bagian
tubuh ikan atau peralatan tercemar," katanya.
Menurut dia, pengobatan penyakit MAS di Asia Tenggara masih menggunakan
antibiotik. Namun, alih-alih bisa mengobati, pemakaian secara tak terkendali
malah menyebabkan resisten. "Pemakaian secara berlebihan mengakibatkan A.
Hydrophila resisten terhadap antibiotik seperti Oksitetrasiklin, Oxolinic acid,
Eritromisin, Streptomisin dan Kloramfenikol," katanya.
Selain bersifat resisten, kata dia, antibiotik juga harus diimpor dari luar
negeri dengan harga yang mahal. Melihat hal itu, ia kemudian mencari alternatif
obat dari fitofarmaka (obat dari tanaman). Penelitian yang telah digelutinya
selama setahun 10 bulan ini menuai hasil. Ia meneliti tiga fitofarmaka yang
mengandung senyawa antibakteri yaitu daun sirih, daun jambu biji dan sambiloto,
yang daun biji mengandung eugenol, flavonoid quercetin yang bersifat anti
bakteri.
Di Thailand dan Indonesia, katanya, daun jambu biji banyak digunakan sebagai
antidiare dan antiluka. Dijelaskannya bahwa daun sirih mengandung minyaik atsiri
dan chavibetel terutama seduhannya meningkatkan aktivitas antioksidan dan
bersifat antibakterial, sedangkan sambiloto mengandung andrographolid yang juga
bersifat anti bakteri.Secara keseluruhan, katanya, ketiga jenis fitofarmaka baik
untuk pencegahan maupun pengobatan.
"Sebanyak 40 persen ikan-ikan lele kontrol tanpa perlakuan fitofarmaka mati.
Sedangkan dengan fitofarmaka, ikan yang mati hanya satu sampai dua ekor saja,"
katanya. Namun dari ketiga fitofarmaka yang terbaik adalah seduhan sambiloto.
"Dibanding daun sirih dan daun jambu biji, sambiloto paling baik serta efektif
mencegah dan mengobati penyakit MAS," katanya.

Sembiloto Lindungi Ikan Air Tawa dari Serangan Bakteri - 1

Ulah aeromonas bagi Supadi adalah sebuah nestapa. Ia ingat betul saat bakteri itu beraksi. Delapan puluh persen gurami siap panen di kolam 20 m x 30 m tampak lemas dan enggan menyantap pakan. Peternak di Blitar itu semula tak ambil pusing. Sikapnya berubah tatkala satu per satu gurami mati. 'Saya rugi sampai Rp15-juta,' ujar Supadi tersenyum getir.
Saat bencana itu datang Supadi tak berdaya. Ia hanya bisa menyelamatkan belasan gurami ke kolam pendederan berukuran 1 m x 2 m. Beberapa gurami mati di bawa ke seorang teman, petugas penyuluh perikanan. 'Setelah di cek penyebabnya bakteri aeromonas,' kata Supadi.
Bakteri penyebab penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) itu memang sangat ditakuti. Lihat saja efek serangan yang ditimbulkan. Sisik mekar, terjadi pendarahan di kulit, dan perut mengembung. 'Ikan yang diserang sulit diselamatkan,' ujar Dr Sri Lestari Angka dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.
Antibiotik seperti Oxytetracycline, Streptomysin, dan Chloromycetin selama ini dipakai untuk mengatasi serangan Aeromonas hydrophilia itu. Namun, selain tak mudah didapatkan, antibiotik itu bagi peternak kecil seperti Supadi tergolong mahal. Harganya mencapai puluhan ribu rupiah per botol. 'Saya disarankan pakai sirih dan cukup manjur,' katanya. Sekitar 10 lembar daun sirih ditumbuk lalu ditebar ke kolam selama seminggu penuh. Hasilnya, gurami yang selamat mulai terlihat sehat dan lahap menyantap pakan.
Tanaman obat
Menurut Ir Arief Prajitno MS, ahli penyakit ikan di Malang, beberapa tanaman obat yang dipakai pada manusia bisa diterapkan pula pada ikan. Contoh daun sirih, kunyit, dan daun pepaya. 'Tanaman-tanaman itu bersifat antibakteri sehingga dapat menyembuhkan penyakit ikan akibat bakteri,' ujarnya.
Kunyit yang mengandung curcumin bersifat antibakteri, dan antiinflamasi. Sebab itu, Curcuma domestica itu dapat menyembuhkan luka pendarahan akibat aeromonas. Demikian pula dengan daun pepaya yang bisa membatasi penyebaran luka akibat infeksi bakteri.
Sri Lestari Angka yang melakukan riset tanaman pembasmi aeromonas mendapati campuran daun sirih, sambiloto, dan daun jambu batu mujarab sebagai anti bakteri. Daun jambu biji, misalnya, mengandung senyawa flavonoid yang efektif meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Begitu bakteri aeromonas menginfeksi, serta merta tubuh akan menghadangnya dengan menghancurkan sistem pelindung tubuh bakteri. ?Campuran itu tidak akan membahayakan ikan,? ujar peneliti aeromonas sejak 1980 itu.
Pengganti antibiotik
Penggunaan tanaman obat memberikan banyak keuntungan. Bahan bakunya murah dan mudah didapat. Aplikasinya mudah. 'Bila tidak ada ekstraknya, tanaman cukup ditumbuk lalu ditaburkan begitu saja,' ujar Arief. Jika tersedia ekstrak, dosis pemberian dianjurkan 5?10 cc per liter. Meski demikian, pemberian dosis tinggi tidak akan memberikan efek merugikan karena yang digunakan bahan alam.
Sri Lestari Angka memberi campuran ekstrak daun sirih, sambiloto, dan daun jambu biji pada pakan. Dosisnya sebanyak 1 ml/100 g pakan sebagai tindakan preventif. Namun, untuk pengobatan dosis dinaikkan hingga 2,5 ml/100 g pakan. 'Dari hasil ujicoba ikan yang sudah parah bisa sembuh kembali,' tutur Sri.
Pengobatan memang jalan terakhir untuk mengatsi aeromonas. Namun, agar ikan selamat, peternak perlu menjaga kualitas air sebagai sumber penularan aeromonas. ?Tanpa memperhatikan kondisi lingkungan, serangan akan terus berulang,? ujar Arif. Nah, bila semua sudah terjaga, tapi aeromonas masih berulah, biarkan tanaman obat yang melawannya.

Tanaman obat tradisional untuk pencegahan/pengobatan ikan

PENYAKIT IKAN DAN PENYEBABNYA
Penyebab penyakit ikan golongan parasit
Penyakit ikan golongan parasit dibagi menjadi penyakit yang disebabkan oleh protozoa, helminthes (cacing), dan crustacea (udang-udangan). Parasit protozoa yang dilaporkan menyerang ikan air tawar antara lain meliputi Costia, Chilodonella, Trichodina, Ichthyophthirius multifiliis, Myxobolus dan Myxosoma cerebralis. Penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok besar yaitu Platyhelminthes, Nematoda, dan Acanthocephala. Di Indonesia dikenal antara lain 2 genus dari kelas Trematoda yang banyak ditemukan menyerang ikan air tawar yaitu Dactylogyrus dan Gyrodactylus. Walaupun masih ada jenis-jenis lain namun kedua jenis cacing tersebut di atas yang paling sering ditemukan pada ikan.
Penyebab penyakit ikan golongan jamur
Beberapa jenis penyakit jamur yang termasuk berbahaya untuk ikan antara lain adalah Aphanomyces, Branchiomyces, dan Ichthyophonus. Jamur yang paling sering ditemukan pada ikan air tawar adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp.

Penyebab penyakit ikan golongan bakteri

Beberapa jenis penyebab penyakit ikan golongan bakteri yang sering menimbulkan kerugian dalam usaha budidaya ikan antara lain meliputi Aeromonas hydrophila, Aeromonas salmonicida, Mycobacterium spp, Nocardia sp., Edwardsiella tarda, Edwardsiella ictaluri, Streptococcus spp., Pasteurella sp, Yersinia ruckeri, Pseudomonas sp. dan Streptomyces sp.
Penyebab penyakit ikan golongan virus
Beberapa jenis virus diketahui dapat menyerang ikan-ikan budidaya dan menimbulkan permasalahan yang serius antara lain Channel Catfish Virus Disease (CCVD), Spring Viraemia of Carp (SVC), Infectious Pancreatic Necrosis (IPN), Lymphocystis Disease (LD), Infectious Hematophoietic Necrosis (IHN), Viral Nervous Necrosis (VNN) dan Koi Herpes Virus (KHV).
PENCEGAHAN PENYAKIT IKAN
Pada prinsipnya pencegahan dapat ditinjau berbagai pendekatan lingkungan, inang dan pathogen.
Pendekatan lingkungan dilakukan dengan menjaga kualitas air supaya tetap mendukung bagi kehidupan ikan, menjaga wadah budidaya tetap bersih dan sehat dan menghindari pengggantian air yang mendadak sehingga tidak menyebabkan ikan menjadi stress. Selain itu penggunaan probiotik/bioremediasi kini sudah banyak dilaksanakan.
Pendekatan inang dilakukan dengan cara penanganan ikan yang baik/tidak kasar, sehingga tidak mengakibatkan ikan menjadi luka/lecet dan tidak stress, pengaturan kepadatan ikan yang disesuaikan dengan ukuran ikan dan daya dukung lahan, pemberian pakan yang tepat mutu (mengandung bahan nutrisi yang diperlukan oleh ikan). Pakan yang diberikan harus sesuai dengan ukuran bukaan mulut ikan (tepat ukuran). Selain itu pemberian pakan harus tepat waktu pemberian artinya kapan waktu yang tepat untuk memberi pakan. Misalnya untuk ikan yang sifatnya nocturnal (misalnya ikan Lele) pakan porsi terbanyak sebaiknya diberikan pada waktu sore atau malam hari. Sedangkan bagi ikan yang non-nocturnal maka pakan bisa diberikan pagi, siang dan sedikit pada waktu sore hari. Guna menjaga kesehatan ikan juga dapat dilakukan dengan menimbulkan kekebalan ikan. Kekebalan pada ikan dapat dibedakan menjadi kekebalan yang specific (humoral) dan kekebalan non-specific (selular/cell-mediated immunity). Kekebalan spesifik artinya kekebalan yang dibentuk hanya efektif untuk mencegah terhadap suatu patogen tertentu. Misalnya pemberian vaksin anti Vibrio pada ikan maka kekebalan yang terbentuk hanya mampu untuk mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Vibrio sp. Sedang kekebalan yang non-spesific adalah kekebalan yang dibentuk untuk sebagai anti dari berbagai infeksi. Kekebalan seperti ini biasa diproduksi dengan cara pemberian immunomodulator yaitu antara lain Vitamin C, Lypopolysaccharide (LPS), dan ?- glucan.
Pendekatan patogen, pada prinsipnya kita menjaga supaya virulensi patogen tidak meningkat. Virulensi patogen biasanya berkaitan erat dengan makin memburuknya lingkungan dan juga dengan derajat stres dari inangnya. Jadi supaya patogen tidak meningkat patogenitasnya kita harus menjaga agar kondisi lingkungan tidak semakin buruk dan menjaga agar inang tetap dalam keadaan kondisi yang prima. Kondisi lingkungan yang makin buruk akan memacu perkembangan patogen lebih meningkat.
Pada intinya, mencegah penyakit dapat dilakukan melalui manajemen budidaya secara menyeluruh, termasuk di dalamnya penerapan padat tebar yang disesuaikan dengan daya dukung lahan, melaksanakan manajemen lingkungan dan manajemen pakan. Manajemen lingkungan yang dimaksud adalah menjaga lingkungan perairan supaya selalu berada dalam kondisi yang kondusif bagi kehidupan ikan dan tidak banyak menimbulkan tekanan. Pakan yang diberikan pada ikan harus tepat mutu, tepat jumlah, tepat waktu pemberian dan tepat ukuran.
PEMANFAATAN TANAMAN OBAT TRADISIONAL DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT IKAN
Salah satu alternatif penanggulangan penyakit ikan air tawar yang aman adalah dengan menggunakan tanaman obat. Bahan obat lain yang relatif lebih aman untuk lingkungan dan efektif dalam mengobati penyakit ikan dapat menggunakan bermacam-macam tanaman obat tradisional. Indonesia sebagai negara tropis memiliki kekayaan tanaman yang berpotensi menjadi obat. Banyak jenis tanaman yang mengandung senyawa yang bersifat antimikroba. Sejumlah tanaman mengandung senyawa bersifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri). Dari beberapa percobaan, fitofarmaka terbukti efektif mengatasi penyakit ikan air tawar dan memiliki beberapa keuntungan, seperti : Pertama, dapat menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri. Kedua, ramah terhadap lingkungan, mudah hancur/terurai, dan tidak menyebabkan residu pada ikan dan manusia. Ketiga, mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak, keempat harganya ekonomis dan cukup murah.
Fitofarmaka yang dapat dijadikan pengganti antibiotik untuk mengatasi penyakit ikan air tawar adalah bawang putih (Allium sativum), dan daun ketapang (Termmalia cattapa). Hasil penelitian lainnya menginformasikan bahan lain yang dijadikan bahan antibiotik adalah daun sirih (Piper betle L), daun jambu biji (Psidium guajava L), jombang (Taraxacum officinale) dan daun sambiloto (Androgaphis paniculata). Daun sirih diketahui berdaya antioksidasi, antiseptik, bakterisida, dan fungisida. Tanaman sambiloto bersifat anti bakteri, sedangkan daun jambu biji selain bersifat anti bakteri juga bersifat anti viral. Beberapa tanaman obat yang sudah diteliti oleh peneliti dari BRKP DKP di bawah ini.
Tanaman obat dan manfaatnya

No Jenis Tanaman Dosis Perlakuan Peruntukan/Khasiat
1. Meniran
- 5000 mg/l
- Rendam (5 jam)
=> Anti. Aeromonas hydrophila
2. Kipahit
- 10.000 mg/l
- Rendam (3 jam)
=> Anti. Mycobacteriosis
3. Daun semboja
- 600-700mg/l
- Rendam (lama)
=> Anti Aeromonas hydrophila
4. Sambiloto
- 200-300 mg/l
- Rendam (lama)
=> Anti Aeromonas hydrophila
400 mg/l Rendam (lama) Meringankan KHV
Penelitian dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi ekstrak daun kipahit (Picrasma javanica) dalam penanggulangan penyakit “mycobacteriosis” pada ikan Gurame telah dilakukan di Laboratorium penyakit ikan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor. Ekstrak daun kipahit secara invitro pada berbagai dosis diuji efektifitasnya terhadap bakteri Mycobacterium fortuitum. LC50 bakteri Mycobacterium fortuitum dan toksisitas ektrak daun juga diuji terhadap ikan uji. Kegunaan ekstrak daun juga diuji bagi pengobatan ikan Gurame yang telah diinfeksi oleh bakteri Mycobacterium fortuitum pada level 108 cfu/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kipahit pada level konsentrasi 10.000 mg/l dapat menghambat pertumbuhan bakteri uji, sedangkan perendaman ikan uji yang terinfeksi bakteri dengan dosis yang sama dengan lama perendaman 3 jam dapat digunakan untuk pengobatan penyakit Mycobacteriosis.
Penggunaan bahan-bahan alami digunakan untuk pengendalian jamur antara lain dapat menggunakan kunyit, bawang putih, daun sirih, daun pepaya dan brotowali. Bahan-bahan ini dapat berguna untuk membasmi penyakit jamur yang menempel pada tubuh ikan, walaupun dalam membasmi suatu penyakit dengan menggunakan bahan-bahan alami memiliki waktu yang lama. Kemudian dari ke-5 bahan-bahan alami yang dapat menyembuhkan penyakit jamur pada ikan yaitu bawang putih. Sumber lain menyampaikan informasi adanya manfaat dari tanaman alami untuk obat seperti pada Tabel 2.
Tanaman obat dan manfaatnya
Jenis Tanaman Dosis Peruntukan/Khasiat
1. Bawang putih 25mg/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin
2. Daun sirih 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
3. Daun jambu biji 0,2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
4. Daun sambiloto 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
5. Daun jombang dan ketapang 60gr/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin
(Zainal Abidin, 2005)
PENUTUP
Penggunaan tumbuhan obat tradisional dalam pencegahan dan pengobatan penyakit ikan memiliki kelebihan antara lain mudah diperoleh, murah, efektif untuk mencegah dan mengobati penyakit ikan, dan relatif aman bagi ikan, lingkungan, dan manusia yang mengonsumsinya (konsumer). Selain itu, kelebihan lainnya adalah tidak menimbulkan resistensi pada patogen.