Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in
Showing posts with label Obat Herbal. Show all posts
Showing posts with label Obat Herbal. Show all posts

Membuat Probiotik dan Herbal Lele

Wednesday, September 21, 2011

membuat obat herbal untuk budidaya Ikan air tawar, dengan bahan empon-empon, gula merah, cuka, setelah siap semua bahan-bahannya,barulah saya mulai meracik. haluskan semua empon-empon dengan blender jadilah cairan herbal beserta ampasnya yang berwarna kekuningan.

Setelah selesai memblender, buat molase dulu dari gula merah. Lalu campur semua bahan menjadi satu kedalam drigen 5 liter. ernyata baunya menyengat,sampai saya sedikit agak pusing.

Ramuan herbal ini diamkan selama 21 hari.

Pembuatan Starter Bakteri Pelepah Pisang

BAHAN:
1. Pelepah pisang busuk bagian pinggir sepanjang 40 cm (harus yang benar-benar busuk karena berarti ada bakterinya)
2. Gula merah atau tetes murni ¼ kg
3. Air leri (pususan beras) kental 4-5 liter
CARA PEMBUATAN:
1). Pelepah dicacah sampai lembut
2). Gula dilarutkan dalam air leri
3). Pelepah dimasukkan dalam larutan gula dan air leri, diremas-remas, diperas (supaya bakterinya terlepas) dan diaduk
4). Setelah semuanya tercampur, larutan disaring dan dimasukkan dalam jerigen plastik
5). Setelah 3 hari dilihat, bila berbusa maka busa harus dibuang
6). Dibiarkan selama 5-7 hari
7). Tanda-tanda jadi bau seperti tape
8). Untuk memelihara bakteri tetap hidup maka larutan diberi gula dan dedak

Promix merupakan hasil fermentasi sempurna dari jamu-jamuan jawa yaitu :

Ø Kunyit (Curcuma Domestica)
Ø Jahe (Zingiber Officinale)
Ø Kencur (Koempferia Gelanga L)
Ø Temulawak (Curcuma Xanthoryza) , dll

Ramuan rempah-rempah dari jamu-jamuan jawa tersebut sangat berguna untuk meningkatkan nafsu makan, meningkatkan stamina dan mempercepat penggemukan, sehingga ternak makin sehat dan makin tahan terhadap serangan penyakit.

MEMBUAT EM4 MURAH

Banyak sekali resep yang beredar untuk membuat dan mengembangkan EM4 secara home industry, cara ini murah dan sangat berguna sekali. Penulis membuat resep tambahan sehingga hasilnya bisa lebih maksimal. Berikut bahan-bahan yang digunakan :

1. Bahan dan alat
- Susu sapi murni dua liter
- EM4 1 liter
- Tetes tebu atau Gula merah 1 kg
- Bekatul 1 kg
- Nanas 1 buah
- Terasi ½ kg
- Air cucian beras 10 liter
- Panci
- Parutan atau blender
- Kompor

2. Cara Membuat
- Haluskan bahan kasar dengan mengunakan blender/parutan. Campurkan dengan bahan lainnya di dalam panci. Masak sampai mendidih, lalu dinginkan.
- Tambahkan susu sapi murni dan EM4, aduk hingga tercampur rata.
- Tutup panci rapat-rapat hingga 12 jam atau satu hari.

- Simpan campuran yang sudah dingin didalam tong plastik dan ditutup rapat, karena proses terbaik yaitu secara anaerob.

- Kocok atau aduk larutan tiap 3 hari dan buka penutupnya sedikit agar gas hasil fermentasi bisa keluar.

- Setelah 10 hari larutan siap digunakan


RESEP PUPUK ORGANIK SUPER

Beberapa tahun terakhir, banyak bermunculan berbagai merk baru pupuk organik. Mulai dari harga yang cuma Rp.10 ribuan per liter sampai dengan yang harganya ratusan ribu per liter. Adanya kampanye Go Organik yang dicanangkan pemerintah dan mulai sadarnya pemerintah akan perlunya ke-arif-an alam untuk mengolah sumber daya yang makin lama makin hancur tergerus oleh racun kimia yang pada waktu sebelumnya di dukung oleh pemerintah sendiri.

Ketersedian dan kemampuan alam untuk menyeimbangkan kehidupan mulai rusak oleh bombardir Racun kimia pertanian. Namun apabila kita belajar sedikit dan mau untuk sedikit membuka hati dan pikiran, banyak kemudahan dan pemangkasan biaya produksi dalam proses pertanian.

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman dari proses belajar selama ini. Bahwa alam juga menyediakan sumber yang sangat murah untuk memenuhi kebutuhan pupuk pertanian. Saya coba membuat daftar bahan-bahan organik yang super murahnya:

1. Air Kelapa

2. Tetes tebu

3. Buah-buahan busuk/terbuang

4. Air cucian beras

5. Air rendaman Sabut kelapa

6. Limbah ikan, udang atau sisa pengolahan hasil laut

7. Limbah/ampas pabrik rumput laut

8. Kencing sapi

9. Susu basi/kadaluarsa

10. Terasi

dan masih banyak lagi limbah yang memiliki kandungan bagus yang bisa sangat bernilai ekonomis apabila kita olah jadi pupuk organik. Dari pupuk organik yang harganya hanya puluhan ribu sampai ratusan ribu, bahan yang digunakan pasti salah satu dari daftar bahan diatas.

Jadi kenapa harus beli mahal, kalo bisa bikin sendiri dengan biaya super murah. Pembuatan pupuk organik secara umum melalaui proses fermentasi oleh bakteri. Proses fermentasi ini gunanya yaitu untuk memperbaiki struktur kandungan, menaikkan kadar N P K dan membunuh mikroba yang merugikan.

Proses sederhananya yaitu :

1. Hancurkan bahan-bahan organik ( buah, limbah ikan, ampas rumput laut, kencing sapi)

2. Campur dengan air kelapa + EM4 (bakteri) + Tetes tebu + air cucian beras

3. Aduk semua bahan dan masukkan kedalam tong plastik yang bisa di tutup rapat

4. Aduk larutan tiap 3 hari sekali dan buka sedikit penutupnya, karena proses akan menghasilkan gas.

5. Tutup lagi tong agar proses terjaga secara anaerob.

6. Setelah 7 hari, pupuk sudah siap digunakan

Ciri-ciri pupuk yang berhasil atau siap adalah dibagian atas akan mengasilkan busa berwarna putih dan biasanya akan banyak sekali belatung yang hidup. Ini pertanda pupuk sangat menyehatkan.

Tapi kalo proses gagal, warna busa biasanya kehitaman dan baunya sangat menyengat..

Nah..kalo sudah berhasil, bisa kita tambahkan bakteri penambat N P dan K. bakteri ini banyak dijual secara umum juga.

Ayo di coba rekan2 petani sekalian, semoga berhasil…

Seperti kita ketahui manfaat probiotik dalam pertanian dan peternakan, bahkan juga umtuk kesehatan manusia.
Dalam budidaya perikanan juga sangat memerlukan bantuan probiotik untuk pengkondisian aqua culture, kesehatan dan pertumbuhan ikan tersebut.

Inilah cara mudah membuat atau menggandakan Probiotik.
Formula untuk membuat Probiotik :
a) 1kg molase
b) 2kg gula pasir
c) 1 kaleng susu kental manis
d) 1/2 liter probiotik pabrikan / probiotik starter
e) 1 kotak fresh milk ( optional pengganti susu kental )
f) 30 liter air
g) pupuk urea, 2 sendok makan (optional untuk nitrobacter, tapi khusus ditebar)

dicampur di drigen diratakan, dikocok2. simpan jangan kena matahari trus ditutup. Dibiarkan selama 2 hari (48 jam) tiap 12 jam dibuka sebentar agar gas fermentasi keluar dan ditutup kembali.
Fungsi nitrobacter, mengurai kotoran ikan untuk mengurangi kandungan ammonia si dalam kolam ( sangat dibutuhkan jika pergantian air agak susah ).

cara pemakaian : setiap 10 cc probiotik buatan, di campur dengan 300cc air, ada dua opsi, di campur ke pakan ( bobot 1kg), atau di tebar di kolam.
Dosis 1 liter per 80M2 kolam setiap 1-2 bulan.

Cara membuat probiotik starter :
a) 50g molase
b) 100 cc fresh milk
c) 50g jus kedelai
d) 1 liter air

rebus adukan diatas selama 15-30 menit , terus di dinginkan, campur dengan biang bakteri yoghurt atau kefir atau dadih. di taro 2 ahri di dalam drum atau ember, pake alat oxygen pompa buat aquarium dan beres.

Anti Bakteri Untuk Penyakit Pada Ikan

Saturday, September 17, 2011

Potensi budidaya ikan tawar cukup besar. Permintaan domestik maupun ekspor cukup besar. Pada 2006 saja, ekspor perikanan budidaya Indonesia mencapai 1.329 juta ton. Nilainya mencapai US$21 miliar atau sekitar Rp 18,9 triliun.
            Namun budidaya ikan air tawar dihadapkan pada beberapa kendala. Salah satu kendala penyebab kegagalan budidaya ikan air tawar adalah penyakit. Penyakit yang menyerang ikan tropis tawar umumnya adalah bakteri.

Beberapa penyakit bakterial yang menginfeksi ikan adalah Aeromonas sp, Pseudomonas sp, Staphylococcis sp, dan Streptococcus sp. Bahkan pada 1980, wabah penyakit yang disebabkan Aeromonas hydrophila menyebabkan kematian 82.288 ikan di Jawa Barat, tak hanya itu, pada 2005, sebanyak 47 ton ikan gurame dan 2,1 juta ekor benih gurame yang siap dipasarkan mati disebabkan penyakit serupa di Lubuk Pandan, Sumatera Barat.
Berbagai usaha dilakukan untuk mengatasi masalah penyakit ikan tropis tawar. Penanganannya dari mulai menciptakan lingkungan optimal, karantina, vaksinasi, disinfeksi wabah, hingga penggunaan antibiotik.
            Zainal Abidin, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang mengikuti lomba karya tulis tingkat nasional PT. Djarum menilai penggunaan antibiotik yang berlebihan justru akan merugikan.

Khasiat Tanaman Obat untuk Ikan

No. 

Bahan

Dosis

Khasiat

1 Bawang putih 25mg/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin
2 Daun sirih 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
3 Daun jambu biji 0,2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
4 Daun sambiloto 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
5 Daun jombang       dan ketapang 60gr/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin

            Pemberian antibiotik dengan dosis yang tidak tepat dan dilakukan terus menerus dapat pula menyebabkan pencemaran lingkungan. Selain itu, terjadi resistensi pada bakteri. Dampak lebih jauh, ikan-ikan yang mengandung antibiotik melebihi standar tidak laku untuk diekspor. Pasalnya beberapa negara Eropa menerapkan standar antibiotik yang aman.
            Zainal melihat bahwa Indonesia sebagai negara tropis memiliki kekayaan tanaman yang berpotensi menjadi obat. Banyak jenis tanaman yang mengandung senyawa yang bersifat antimikroba. Sejumlah tanaman mengandung senyawa bersifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri).
            Salah satu alternatif penanggulangan penyakit ikan air tawar yang aman adalah dengan menggunakan tanaman obat. Fitofarmaka yang dapat dijadikan pengganti antibiotik untuk mengatasi penyakit ikan air tawar adalah bawang putih (Allium sativum), dan daun ketapang (Termmalia cattapa).
            Bahan lain yang dijadikan bahan antibiotik adalah daun sirih (Piper betle L), daun jambu biji (Psidium guajava L), jombang (Taraxacum officinale) dan daun sambiloto (Androgaphis paniculata). Dari beberapa percobaan, fitofarmaka terbukti efektif mengatasi penyakit ikan air tawar. Zainal mengatakan bahwa fitofarmaka untuk budidaya ikan tropis tawar di Indonesia memiliki beberapa keuntungan :
a. Pertama, fitofarmaka menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri.

· Pertama, fitofarmaka menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri.

· Kedua, fitofarmaka merupakan bahan ramah lingkungan, mudah hancur, dan tidak menimbulkan residu pada ikan dan manusia.

· Ketiga, bahan fitofarmaka mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak.

· Keempat, fitofarmaka harganya ekonomis, dan sangat murah. (Drd/S-4)

Sumber : Suplemen Media Indonesia Edisi April 2009

PENGARUH BAHAN FITOFARMAKA TERHADAP VIABILITAS BAKTERI Aeromonas hydrophilla

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegiatan akuakultur dalam prakteknya banyak dihadapkan pada beberapa kendala. Salah satu kendala penyebab kegagalan budi daya ikan adalah penyakit. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasi masalah penyakit. Penanganannya dari mulai menciptakan lingkungan optimal, karantina, vaksinasi, disinfeksi wabah, hingga penggunaan antibiotik (Abidin, 2009). Akan tetapi penggunaan antibiotik ini mempunyai efek yang buruk terhadap kelangsungan hidup organisme akuakultur yaitu terjadi resistensi pada organisme tersebut, serta menyebabkan pencemaran lingkungan.

Untuk itu perlu adanya penanangulangan penyakit dengan bahan pengganti alternatif yang alami yaitu dengan menggunakan tanaman obat atau biasa disebut fitofarmaka. Penggunaan fitofarmaka atau tumbuh-tumbuhan sebagai pencegahan dan pengobatan alternatif ternyata sudah banyak digunakan. Bahan alami ini selain memiliki efek yang baik juga memiliki sifat ramah lingkungan.

Banyak berbagai tanaman obat yang biasa digunakan sebagai pengganti antibiotik contohnya ; bawang putih (Allium sativum), mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), sirih (Piper betle), paci-paci (Leucas levendulaefolia), jambu biji (Psidium guajava), mengkudu (Morinda citrifolia), meniran (Phyllantus niruri). Ketujuh yang telah dipaparkan belum kita ketahui mana yang paling efektif sebagai pengganti dari antibiotic dalam pencegahan serta pengobatan penyakit untuk itu perlu diadakan penelitian untuk mengetahuinya.

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan agar praktikan dapat melakukan pencegahan serta pengobatan penyakit pada penyakit khususnya Aeromonas hidrophilla serta mengetahui keefektifan berbagai bahan fitofarmaka yang digunakan.


II.  METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat

Kegiatan praktikum ini diaksanakan pada hari Senin, 29 Maret 2010 pukul 15.00 s.d 18.00 WIB dan pengamatan dilakukan pada hari Selasa, 30 Maret 2010 pukul 12.00 s.d 13.00 WIB di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

2.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan adalah erlenmeyer, water bath, termometer, mikropipet, batang penyebar, cawan petri, bunsen, mikrotube, mikrotip, korek api, kertas cakram, penggaris tisu, label dan spidol.

Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah bakteri Aeromonas hydrophila yang sudah mencapai log phase, bawang putih (Allium sativum), mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), sirih (Piper betle), paci-paci (Leucas levendulaefolia), jambu biji (Psidium guajava), mengkudu (Morinda citrifolia), meniran (Phyllantus niruri), larutan fisiologis, dan media TSA (Trypticase Soy Agar).

2.3 Prosedur Kerja

Hal pertama yang dilakukan adalah daun paci-paci segar dicuci dengan air bersih kemudian dikeringkan dalam udara terbuka tanpa terkena sinar matahari langsung. Proses pengeringan dilakukan dalam udara terbuka (kering udara) di luar pengaruh cahaya matahari langsung untuk menghindari kerusakan bahan aktif yang terdapat dalam daun paci-paci (Sirait, 1979 ; Harbone, 1984 dalam Sopiana 2005). Kemudian dioven selama 15 menit pada suhu 45oC sampai kering, selanjutnya dihaluskan dengan blender dan kemudian diayak dengan saringan sampai didapatkan bubuk yang halus. Bubuk daun paci-paci halus disimpan dalam wadah tertutup pada suhu kamar dan tidak terkena sinar matahari langsung (Setiadi, 2008).

Proses ekstraksi dilakukan dengan melarutkan 20 gram bubuk daun paci-paci dengan akuades steril sampai 200 ml. Campuran antara bubuk daun paci-paci dengan akuades steril dipanaskan pada suhu 90oC selama 30 menit dalam penangas air (Voigt 1984 dalam Setiadi 2008). Kemudian hasil seduhan disaring dengan kertas Whatman No. 42 untuk mendapatkan larutan stok ekstrak paci-paci berupa cairan dengan dosis 100 g/l (Setiadi, 2008).


  1. III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Berikut ini merupakan hsasil dari pengamatan pengaruh bahan antimikroba terhadap viabilitas bakteri :

Tabel 1. Hasil Pengaruh Bahan Fitofarmaka Terhadap Viabilitas Bakteri Aeromonas hydrophilla

Kelompok
Bahan Fitofarmaka
Dosis
Zona Bening

1
Bawang Putih (Allium sativum)
kontrol
­-

10 ppt
­-

20 ppt
­-

2
Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa)
kontrol
­-

3 ppt
­-

6 ppt
­-

12 ppt
­-

3
Sirih (Piper betle)
kontrol
­-

1.5 ppt
­-

3 ppt
­-

6 ppt
­-

4
Paci-paci (Leucas levendulaefolia)
kontrol
­-

20 ppt
­-

40 ppt
­-

80 ppt
­-

5
Jambu biji (Psidium guajava)
kontrol
­-

0.02 ppt
­-

0.04 ppt
­-

0.08 ppt
­-

6
Mengkudu (Morinda citrifolia)
kontrol
­-

25 ppt
­-

50 ppt
­-

100 ppt
­-

7
Meniran (Phyllantus niruri)
kontrol
­-

2.5 ppt
­-

5 ppt
­-

10 ppt
­-

Seperti Tabel 1 ditunjukan bahwa dari ketujuh bahan fitofarmaka yang digunakan tidak ada yang membentuk zona bening.

3.2 Pembahasan

Bahan fitofarmaka merupakan tumbuhan yang berkhasiat untuk pengobatan penyakit. Sejumlah tanaman obat yang dapat dikatakan sebagai fitofarmaka adalah tanaman yang mengandung senyawa bersifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri). Banyak keuntungan dari penggunaan fitofarmaka diantaranya yaitu pertama, fitofarmaka menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri. Kedua, fitofarmaka merupakan bahan ramah lingkungan, mudah hancur, dan tidak menimbulkan residu pada ikan dan manusia. Ketiga, bahan fitofarmaka mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak. Kelima, fitofarmaka harganya ekonomis, dan sangat murah (Abidin, 2009).

Seperti ditunjukkan pada table 1 terlihat bahwa penggunaan paci-paci sebagai alternatif dari antibiotik belum berhasil membentuk zona bening artinya tidak efektif  terhadap viabilitas bakteri Aeromonas hidrophylla. Sedangkan tinjauan pustaka yang berkaitan dengan paci-paci ini memaparkan bahwa kandungan kimiawi dalam daun dan  akar tanaman paci-paci adalah minyak atsiri, flavonoid, tannin, saponin, alkaloid, dan metanol (Mukherjee et. al.,1997a dalam Setiadi, 2008). Minyak atsiri memiliki daya anti bakteri disebabkan adanya senyawa fenol dan turunannya yang mampu mendenaturasi protein sel bakteri (Hasim, 2003 dalam Setiadi, 2008). Flavonoid diketahui memiliki aktivitas antimikroba yang bersifat lipofilik sehingga mampu merusak mambran mikroba, mereduksi infektivitas serta memperlihatkan efek inhibitor terhadap berbagai virus. Tanin mempunyai kemampuan untuk menginaktivasi adhesion mikroba, enzim, protein transport cell envelope dan mampu membentuk kompleks dengan polisakarida (Naim, 2004 dalam Abdullah, 2008). Senyawa saponin yang dihasilkan tanaman paci-paci diketahui memiliki aktivitas antibakteri dan antivirus (Abdullah, 2008). Substansi fenolik dari minyak atsiri telah diketahui dapat menstimulasi makrofag yang memiliki efek  negatif tidak langsung terhadap infeksi bakteri dan mencegah infeksi virus. Fenol memiliki efek inhibitori terhadap  bakteri gram positif dan ditemukan memiliki aktivitas anti fungi (Naim, 2004 dalam Setiadi, 2008).

Begitupun ditunjukan pada table 1 bahwa bahan fitofarmaka yang lainnya semua tidak ada yang membentuk zona bening. Ketidak berhasilan dari penelitian yang telah dilakukan ini semua bertolak belakang dengan timpus yang didapat. Berikut adalah kandungan dari setiap bahan fitofarmaka beserta pengaruh dari kandunganya tersebut ;

1. Bawang putih (Allium sativum),

Zat aktif dalam bawang putih diantaranya alisin, alliin, enzim allinase, allithiamin, germanium (suatu zat yang mencegah rusaknya darah merah), sativini, sinistrine, selenium (mikromineral penting yang berfungsi sebagai antioksidan), scordinin, methiylallyl trisulfide (zat yang mencegah terjadinya pelengketan sel darah merah) dan nicotinic acid (Giri, 2008). Alisin merupakan suatu senyawa kimia yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Sifat antibakteri bawang putih terdapat pada gugus fungsional dari amino benzoat. Kerja alisin sebagai bahan antibakteri adalah dengan menghambat kerja enzim yang mengandung thiol grup dan sedikit sekali menghambat enzim yang tidak mengadung gugus thiol (Wilson dan Droby, 2001 dalam Agustian, 2007). Alisin juga dapat menghambat metabolisme dinding sel dengan menghambat sistem reduktasi pada gugus sulfidril (Davidson dan Branen, 1993 dalam Agustian, 2007).

Senyawa allithiamin merupakan hasil reaksi allisin dengan thiamin  yang dapat bereaksi dengan sistein. Fungsi senyawa ini hampir sama dengan vitamin B1 sehingga dikenal sebagai vitamin B1 bawang putih. Bawang putih juga mengandung saponin, sterol, flovonoid, dan fenol. Total saponini yang terdapat di dalam bawang putih adalah 0,3-1,1% dari berat kering. Saponin yang terdapat dalam bawang putih berkhasiat sebagai antitumor, antihemolisis, dan penawar racun (Tim Penulis PS, 2001).

Bawang putih mengandung minyak asiri yang sangat mudah menguap di udara bebas. Minyak asiri pada bawang putih diduga mempunyai kemampuan sebagai antibakteria dan antiseptic (Block, 1992 dalam Giri, 2008). Aktivitas antiviral bawang putih tergantung pada amplop virus dan membrane sel. Aktivitas bawang putih untuk melawan virus yang tidak beramplop adalah dengan menghambat adsorbsi dan penetrasi virus ke dalam sel. Ekstrak bawang putih yang efektif untuk melawan virus sudah teruji dan konsentrasi tertinggi yang telah dicoba yaitu 1000 mg/ml menunjukkan bahwa bawang putih mampu mengurangi keinfektifan virus (Webwer et al., 1992 dalam Giri, 2008).

2. Meniran (Phyllantus niruri),

Meniran herba banyak mengandung bahan kimia sebagai berikut lignan yang terdiri dari phylanthine, hypophyllanthin, phyltetralin, lintretalin, nirathin, nitretalin, nirphylline, nirurin, dan nirurisida. Terpen terdiri dari cymene, limonene, lupeol, dan lupeol acetat. Flavonoid terdiri dari quercitrin, isoquercitrin, astragalin, rutine, dan physetinglucosida. Falvonoid pada meniran banyak ditemukan pada bagian akar dan daun ( Suprapto 2006 dalam Ayuningtyas 2008). Lipid terdiri dari ricinoleic acid, dotriancontanoic acid, linoleic acid, dan linolenic acid. Benzenoid berupa methylsalicilat. Dari kelompok alkaloid ditemukan securinine, norsecurinine dan phylanthoside. Sedangkan dari kelompok steroid ditemukan senyawa estradiol dan sitosterol (Kardinan A, Kusuma FR 2007).

Herba dan akar digunakan untuk penyakit radang, infeksi saluran kencing, serta untuk merangsang keluarnya air seni (diureticum), untuk penyebuhan diare, busung air, infeksi saluran pencernaan, dan penyakit yang disebabkan karena gangguan fungsi hati. Buahnya berasa pahit digunakan untuk luka dan scabies. Akar segar digunakan untuk pengobatan penyakit kuning. Dapat digunakan untuk penambah nafsu makan dan obat anti demam. Meniran merupakan salah satu tanaman herbal yang mengandung banyak manfaat. Meniran dapat digunakan dalam berbagai hal yaitu sebagai penuriu  kadar gula, anti bakteri, diuretic, anti diare. Tanaman meniran dapat digunakan untuk menurunkan kadar gula darah. Keberadaan senyawa glikosida flavonoid menyebabkan penurunan kadar gula darah 20-25%. Pemberian meniran dapat menunjukan kenaikan volume urin 13.28 ml. Kandungan kalium yang tinggi pada meniran mencegah pembentukan Kristal kalsium oksalat pada ginjal dan saluran kemih. Meniran hijau (Phyllanthus niruri) mampu menghambat aktivitas virus hepatitis B sebesar 70%. Ekstrak meniran ini mampu mengurangi replica virus hepatitis. Meniran memiliki kadar vitamin C cukup tinggi (408,53 mg/100 g bahan). Vitamin C bertindak sebagai anti oksidanyang kuat, berperan dalam meningkatkan ketahanan tubuh, menurunkan kadar LDL, salah satu bentuk vaksinansi terhadap kanker (Kardinan A, Kusuma FR 2007).

Kandungan flavonoid yang terdapat pada meniran berfungsi sebagai antibakteri dan antioksidan serta mampu meningkatkan kerja sistem imun karena

leukosit sebagai pemakan antigen lebih cepat dihasilkan dan sistem lifoid lebih cepat. Kandungan alkaloid pada meniran bersifat toksik terhadap mikroba, sehingga efektif membunuh bakteri dan virus. Alkaloid berfungsi sebagai anti bakteri  yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan bakteri gram negatif (Naim 2004 dalam Sholikhah 2009). Saponin yang terdapat dalam meniran juga bertindak sebagai antibakter karena memiliki kemampuan dalam menghambat fungsi membrane sel sehingga merusak permeabilitas membrane yang mengakibatkan dinding sel rusak atau hancur.           Meniran juga berfungsi sebagai imunomodulator atau imunostimulator dengan memperbaiki sistem imun yaitu dengan cara menstimulasi sistem imunyaitu dengan cara menstimulasi sistem imun (Suberno 2006 dalam Ayuningtyas 2008).

3. Jambu biji (Psidium guajava),

Kandungan kimia dalam daun jambu biji yaitu senyawa fenolat, flavonoid, karotenoid, terpenoid dan triterpen (Gutierrez et al. 2008 dalam Rivai H dkk. 2009). Fenolat merupakan asam-asam yang merupakan jenis fenol yang sederhana namun memiliki sifat toksik terhadap mikroorganisme Naim 2004 dalam Abdullah 2008). Sedangkan ekstrak kental daun jambu biji mengandung kuersitrin, minyak atsiri, tanin, b-sitosterol dan asam guaiakolat (Badan POM, 2004 dalam Rivai H dkk. 2009). Minyak atsiri merupakan senyawa fenol dan turunannya yang mampu mendenaturasi protein sel bakteri (Hasim 2003 dalam Abdullah 2008). Senyawa fenolik dan turunannya yang juga berasal dari dari minyak atsiri dapat bersifat toksik terhadap virus, bakteri dan fungi (Naim 2004 dalam Abdullah 2008), minyak atsiri ini diduga sebagai kandungan ekstrak yang mampu mengatasi infeksi virus, bakteri dan fungi.

Selain itu berbagai kajian fitokimia telah menemukan kandungan kimia daun jambu biji yang lebih rinci, antara lain senyawa fenolat total 575,3 mg/g daun kering (Qian & Nihorimbere 2004 dalam Rivai H dkk. 2009), kuersetin 0,181 – 0,393% (El Sohafy et al. 2009 dalam Rivai H dkk. 2009), morin, morin-3-O-liksosida, morin-3-Oarabinosa, kuersetin dan kuersetin-3-0-arabinosida (Rattanachaikunsopon & Phumkhachom 2007 dalam Rivai H dkk. 2009), guaijavarin (Arima & Danno 2002 dalam Rivai H dkk. 2009), guajadial (Yang et al, 2007 dalam Rivai H dkk. 2009), asam ferulat (Chen & Yen 2007 dalam Rivai H dkk. 2009).

4. Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa),

Menurut hasil penelitian Widowati dalam Lesmanawati (2006), kandungan kimia mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) terdiri dari alkaloid, fenol, tannin, minyak atsiri, saponin, sterol/terpen, serta lignan yang merupakan senyawa toksik.

Kandungan minyak atsiri, fenol, tannin,dan alkaloid memiliki kegunaan yang sama seperti yang dikandung oleh paci-paci. Sedangkan kandungan saponin memiliki aktivitas antibakteri dan antivirus, mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menambah vitalitas karena mampu memperbaiki struktur maupun fungsi sel-sel tubuh. Saponin sering dimanfaatkan untuk desinfeksi media budidaya sehingga peranannya sebagai antimikroba sudah teruji (Lesmanawati, 2006).

5.  Daun Sirih (Piper betle),

Tanaman sirih mempunyai kandungan kimia yang penting untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam daun sirih terkandung senyawa fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid. Kandungan kimia lainnya yang terdapat di daun sirih merah adalah minyak atsiri, hidroksikavicol, kavicol, kavibetol, allylprokatekol, karvakrol, eugenol, p-cymene, cineole, caryofelen, kadimen estragol, ter-penena, dan fenil propada. Karena banyaknya kandungan zat/senyawa kimia bermanfaat inilah, daun sirih merah  memiliki manfaat yang sangat luas sebagai bahan obat. Karvakrol bersifat desinfektan, anti jamur, sehingga bisa digunakan untuk obat antiseptik pada bau mulut dan keputihan. Eugenol dapat di-gunakan untuk mengurangi rasa sakit, sedangkan tanin dapat diguna-kan untuk mengobati sakit perut.

6. Mengkudu (Morinda citrifolia),

Hampir seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai obat, mulai dari buah, daun, akar, batang maupun kulit pohonnya (Syamsulhidayat et al, 1991). Selain buah dan daun, akar mengkudu juga potensial untuk dikembangkan (Waha, 2001). Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Pacific Science tahun 1950 melaporkan bahwa mengkudu mengandung bahan antibakteri. Senyawa antraquinon yang banyak terdapat pada akar mengkudu dilaporkan dapat melawan bakteri (Wang et al, 2002).

Telah dipaparkan semua kandungan dan manfaat dari kandungan tersebut. Semua bertolak belakang dengan hasil penelitian yang telah dilakukan. Parameter kesalahan terbesar yang terjadi adalah karena terdapatnya kontaminan yang disebabkan oleh ketidaksterilan dalam pelaksanaan penelitian.


IV. KESIMPULAN  DAN  SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang telah didapat bahwa tidak ada satu kelompok pun yang berhasil dalam penelitian ini. Sehingga kita tidak dapat melihat keefektifan dari semua bahan yang telah disediakan sebagai alternatif pengganti antibiotik. Dan tidak dapat mencegah serta mengobatipenyakit dari bahan fitofarmaka.

4.2 Saran

Kegiatan praktikum selanjutnya disarankan tidak hanya menggunakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hidrophylla tetapi menggunakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri maupun virus lain.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. 2008.  Efektivitas ekstrak daun Paci-Paci Leucas lavandulaefolia untuk pencegahan dan pengobatan infeksi penyakit Mas Motile Aeromonas Septicaemia ditinjau dari patologi makro dan hematologi Ikan Lele Dumbo Clarias sp.. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Abidin Zaenal. 2009. http:/www.ciputraenterprenourship.com.  [3 April 2010]

Agustian R. 2007. Penggunaan ekstrak bawang putih Allium sativum untuk pengendalian inveksi Vibrio harveyi pada larva udang vaname Litopenaeus vannamei. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Biji Kelor Mampu Menjernihkan Air

image Meskipun berwarna coklat karena mengandung partikel-partikel tanah, lumpur bahkan unsur logam berat karena tercampur rembesan air limbah industri pabrik, air Sungai Mahakam hingga kini masih tetap menjadi kebanggaan warga Kalimantan Timur, khususnya Kota Samarinda dan Kutai Kartanegara.

Berdasarkan kepercayaan dan sedikit dongeng, setiap orang Kalimantan Timur meyakini, siapa pun pendatang atau tamu yang berkunjung ke Kalimantan Timur dan pernah meminum air Sungai Mahakam, diyakini pasti akan kembali lagi ke daerah tersebut, bahkan menetap. Sungai sepanjang 920 Km yang menjadi salah satu sarana transportasi sungai terpenting di propinsi Kaltim itu tak pernah sepi dari lintasan kapal motor dan kapal kontainer, yang terkadang menumpahkan limbah oli sisa ke sungai.

Masyarakat agaknya tak pernah peduli dengan warna airnya yang keruh, atau berwarna hitam ketika air sungai surut, terbukti pinggiran sungai tak pernah sepi dari aktivitas manusia yang datang dan pergi mandi, mencuci atau bahkan mengambil air dari sungai tersebut untuk dikonsumsi. Padahal masyarakat dapat memanfaatkan air sungai dengan lebih nyaman dan terjamin kebersihannya apabila mampu menerapkan hasil penelitian seorang dosen dari Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Mulawarman (Samarinda) yang diadopsi dari Negara Sudan, dan kemudian dikembangkan di wilayah tersebut.

Adalah Enos Tangke Arung, MP, dosen Fahutan Unmul yang menemukan biji kelor dan menyulapnya menjadi ”serbuk ajaib” yang dapat mengubah air keruh dengan partikel tanah maupun unsur logam menjadi air bersih layak konsumsi, dan memenuhi standar baku mutu yang ditetapkan.

Endapkan Partikel Logam

Biji buah kelor (Moringan oleifera) mengandung zat aktif rhamnosyloxy-benzil-isothiocyanate, yang mampu mengadopsi dan menetralisir partikel-partikel lumpur serta logam yang terkandung dalam air limbah suspensi, dengan partikel kotoran melayang di dalam air. Penemuan yang telah dikembangkan sejak tahun 1986 di negeri Sudan untuk menjernihkan air dari anak Sungai Nil dan tampungan air hujan ini di masa datang dapat dikembangkan sebagai penjernih air Sungai Mahakam dan hasilnya dapat dimanfaatkan PDAM setempat.

”Serbuk biji buah kelor ternyata cukup ampuh menurunkan dan mengendapkan kandungan unsur logam berat yang cukup tinggi dalam air, sehingga air tersebut memenuhi standar baku air minum dan air bersih,” katanya.

Disebutkan, kandungan logam besi (Fe) dalam air Sungai Mahakam yang sebelumnya mencapai 3,23 mg/l, setelah dibersihkan dengan serbuk biji kelor menurun menjadi 0,13 mg/l, dan telah memenuhi standar baku mutu air minum, yaitu 0,3 mg/l dan standar baku mutu air bersih 1,0 mg/l.

Sedangkan tembaga (Cu) yang semula 1,15 mg/I menjadi 0,12mg/l, telah memenuhi standar baku mutu air minum dan air bersih yang diperbolehkan, yaitu 1 mg/l, dan kandungan logam mangan (Mn) yang semula 0,24 mg/l menjadi 0,04 mg/l, telah memenuhi standar baku mutu air minum dan air bersih 0,1 mg/l dan 0,5 mg/l.

Arang

Namun apabila air tersebut dikonsumsi untuk diminum, aroma kelor yang khas masih terasa, oleh sebab itu, pada bak penampungan air harus ditambahkan arang yang dibungkus sedemikian rupa agar tidak bertebaran saat proses pengadukan. Arang berfungsi untuk menyerap aroma kelor tersebut.

Selain itu, dari hasil uji sifat fisika kualitas air Sungai Mahakam dengan parameter kekeruhan yang semula mencapai 146 NTU, setelah dibersihkan dengan sebuk biji kelor menurun menjadi 7,75 NTU, atau memenuhi standar baku air bersih yang ditetapkan, yaitu 25NTU. Untuk parameter warna yang semula sebesar 233 Pt.Co menjadi 13,75 Pt.Co, atau telah memenuhi standar baku mutu air minum dan air bersih 15 Pt.Co dan 50 Pt.Co.

Membuat Serbuk

Cara memperoleh serbuk tersebut cukup sederhana, yaitu dengan menumbuk biji buah kelor yang sudah tua hingga halus, kemudian ditaburkan ke dalam air limbah, dengan perbandingan tiga sampai lima miligram untuk satu liter air dan diaduk cepat. Dalam waktu 10 hingga 15 menit setelah pengadukan, partikel-partikel kotoran yan terdapat di dalam air akan menyatu dan mengendap, sehingga air menjadi jernih.

Enos, yang juga kepala Laboratorium Pulp dan Kertas Fahutan Unmul mengatakan, pihaknya juga telah membuat ekstraktif kelor dengan konsentrasi lima persen, yaitu dengan merebus lima gram tepung biji kelor ke dalam 100 ml air hingga mendidih dan disaring.

”Air saringan kelor ini dapat digunakan untuk menjernihkan air, caranya dengan mencampur tiga hingga lima militer ekstrak biji kelor ke dalam satu liter air dan diaduk dengan cepat,” katanya. Disebutkan, dalam satu polong buah kelor terdapat 10 hingga 15 biji kelor dengan berat masing-masing biji sebesar 2,5 gram tanpa kulit ari, dan dari 10 biji kelor dapat dibuat menjadi serbuk untuk menjernihkan air sebanyak 40 liter.

Lebih Ekonomis

Kepala laboratorium pengujian air PDAM Unit Cendana (Samarinda), Alimudin mengakui, cara tersebut lebih ekonomis dibanding menggunakan sistem penjernihan air dengan bahan baku tawas yang digunakan selama ini. Perbedaan penjernihan air dengan menggunakan tawas dan serbuk biji kelor adalah pada lamanya waktu pengendapan partikel setelah pengadukan, yaitu hanya lima menit, sedangkan dengan serbuk kelor mencapai 10 hingga 15 menit. Karena tawas jarang diproduksi di Kaltim, pihak PDAM Samarinda mendatangkan tawas dari luar daerah, yaitu dari Sulawesi (Manado) dan Kupang. Tawas tersebut dicampur dengan aluminium dan sulfat sebelum digunakan untuk menjernihkan air sungai.

Menurut Enos Tangke, penggunaan serbuk biji kelor lebih ekonomis dibanding tawas, apalagi tanaman kelor dapat dibudidayakan di Kaltim, sementara daun dan buahnya yang masih muda pun dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan. Enos yang juga dosen pengasuh mata kuliah Pengendalian Pencemaran menambahkan, tanaman kelor yang dikembangbiakkan dengan biji dan stek dapat tumbuh dengan cepat di daerah berair, sehingga dapat dimanfaatkan untuk dibudidayakan di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Mahakam.

”Dalam tiga bulan pertama tumbuhan tersebut sudah cukup besar dan enam bulan kemudian sudah berbuah dan bisa dimanfaatkan bijinya,” katanya.

Oleh sebab itu, tambahnya, memanfaatkan kelor untuk menjernihkan air merupakan alternatif terbaik dan lebih ekonomis, efisien serta turut melestarikan lingkungan dengan membudidayakan tanaman tersebut di sekitar DAS.(Aspek-35)

(berbagai sumber)

Obak Herbal Ikan Lele

Penyebab penyakit ikan golongan parasite

Penyakit ikan golongan parasit dibagi menjadi penyakit yang disebabkan oleh protozoa, helminthes (cacing), dan crustacea (udang-udangan). Parasit protozoa yang dilaporkan menyerang ikan air tawar antara lain meliputi Costia, Chilodonella, Trichodina, Ichthyophthirius multifiliis, Myxobolus dan Myxosoma cerebralis. Penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok besar yaitu Platyhelminthes, Nematoda, dan Acanthocephala. Di Indonesia dikenal antara lain 2 genus dari kelas Trematoda yang banyak ditemukan menyerang ikan air tawar yaitu Dactylogyrus dan Gyrodactylus. Walaupun masih ada jenis-jenis lain namun kedua jenis cacing tersebut di atas yang paling sering ditemukan pada ikan.

Penyebab penyakit ikan golongan jamur

Beberapa jenis penyakit jamur yang termasuk berbahaya untuk ikan antara lain adalah Aphanomyces, Branchiomyces, dan Ichthyophonus. Jamur yang paling sering ditemukan pada ikan air tawar adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp.

Penyebab penyakit ikan golongan bakteri

Beberapa jenis penyebab penyakit ikan golongan bakteri yang sering menimbulkan kerugian dalam usaha budidaya ikan antara lain meliputi Aeromonas hydrophila, Aeromonas salmonicida, Mycobacterium spp, Nocardia sp., Edwardsiella tarda, Edwardsiella ictaluri, Streptococcus spp., Pasteurella sp, Yersinia ruckeri, Pseudomonas sp. dan Streptomyces sp.

Penyebab penyakit ikan golongan virus

Beberapa jenis virus diketahui dapat menyerang ikan-ikan budidaya dan menimbulkan permasalahan yang serius antara lain Channel Catfish Virus Disease (CCVD), Spring Viraemia of Carp (SVC), Infectious Pancreatic Necrosis (IPN), Lymphocystis Disease (LD), Infectious Hematophoietic Necrosis (IHN), Viral Nervous Necrosis (VNN) dan Koi Herpes Virus (KHV).

PENCEGAHAN PENYAKIT IKAN

Pada prinsipnya pencegahan dapat ditinjau berbagai pendekatan lingkungan, inang dan pathogen.

Pendekatan lingkungan dilakukan dengan menjaga kualitas air supaya tetap mendukung bagi kehidupan ikan, menjaga wadah budidaya tetap bersih dan sehat dan menghindari pengggantian air yang mendadak sehingga tidak menyebabkan ikan menjadi stress. Selain itu penggunaan probiotik/bioremediasi kini sudah banyak dilaksanakan.

Pendekatan inang dilakukan dengan cara penanganan ikan yang baik/tidak kasar, sehingga tidak mengakibatkan ikan menjadi luka/lecet dan tidak stress, pengaturan kepadatan ikan yang disesuaikan dengan ukuran ikan dan daya dukung lahan, pemberian pakan yang tepat mutu (mengandung bahan nutrisi yang diperlukan oleh ikan). Pakan yang diberikan harus sesuai dengan ukuran bukaan mulut ikan (tepat ukuran). Selain itu pemberian pakan harus tepat waktu pemberian artinya kapan waktu yang tepat untuk memberi pakan. Misalnya untuk ikan yang sifatnya nocturnal (misalnya ikan Lele) pakan porsi terbanyak sebaiknya diberikan pada waktu sore atau malam hari. Sedangkan bagi ikan yang non-nocturnal maka pakan bisa diberikan pagi, siang dan sedikit pada waktu sore hari. Guna menjaga kesehatan ikan juga dapat dilakukan dengan menimbulkan kekebalan ikan. Kekebalan pada ikan dapat dibedakan menjadi kekebalan yang specific (humoral) dan kekebalan non-specific (selular/cell-mediated immunity). Kekebalan spesifik artinya kekebalan yang dibentuk hanya efektif untuk mencegah terhadap suatu patogen tertentu. Misalnya pemberian vaksin anti Vibrio pada ikan maka kekebalan yang terbentuk hanya mampu untuk mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Vibrio sp. Sedang kekebalan yang non-spesific adalah kekebalan yang dibentuk untuk sebagai anti dari berbagai infeksi. Kekebalan seperti ini biasa diproduksi dengan cara pemberian immunomodulator yaitu antara lain Vitamin C, Lypopolysaccharide (LPS), dan ?- glucan.

Pendekatan patogen, pada prinsipnya kita menjaga supaya virulensi patogen tidak meningkat. Virulensi patogen biasanya berkaitan erat dengan makin memburuknya lingkungan dan juga dengan derajat stres dari inangnya. Jadi supaya patogen tidak meningkat patogenitasnya kita harus menjaga agar kondisi lingkungan tidak semakin buruk dan menjaga agar inang tetap dalam keadaan kondisi yang prima. Kondisi lingkungan yang makin buruk akan memacu perkembangan patogen lebih meningkat.

Pada intinya, mencegah penyakit dapat dilakukan melalui a). Manajemen Budidaya secara menyeluruh, termasuk di dalamnya penerapan padat tebar yang disesuaikan dengan daya dukung lahan, melaksanakan b). Manajemen lingkungan dan c). Manajemen pakan. Manajemen lingkungan yang dimaksud adalah menjaga lingkungan perairan supaya selalu berada dalam kondisi yang kondusif bagi kehidupan ikan dan tidak banyak menimbulkan tekanan. Pakan yang diberikan pada ikan harus tepat mutu, tepat jumlah, tepat waktu pemberian dan tepat ukuran.

PEMANFAATAN TANAMAN OBAT TRADISIONAL dalam pengendalian Penyakit Ikan

Salah satu alternatif penanggulangan penyakit ikan air tawar yang aman adalah dengan menggunakan tanaman obat. Bahan obat lain yang relatif lebih aman untuk lingkungan dan efektif dalam mengobati penyakit ikan dapat menggunakan bermacam-macam tanaman obat tradisional. Indonesia sebagai negara tropis memiliki kekayaan tanaman yang berpotensi menjadi obat. Banyak jenis tanaman yang mengandung senyawa yang bersifat antimikroba. Sejumlah tanaman mengandung senyawa bersifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri).

Dari beberapa percobaan, fitofarmaka terbukti efektif mengatasi penyakit ikan air tawar dan memiliki beberapa keuntungan, seperti : Pertama, dapat menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri. Kedua, ramah terhadap lingkungan, mudah hancur/terurai, dan tidak menyebabkan residu pada ikan dan manusia.Ketiga, mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak, keempat harganya ekonomis dan cukup murah.

Fitofarmaka yang dapat dijadikan pengganti antibiotik untuk mengatasi penyakit ikan air tawar adalahbawang putih (Allium sativum), dan daun ketapang (Termmalia cattapa). Hasil penelitian lainnya menginformasikan bahan lain yang dijadikan bahan antibiotik adalah daun sirih (Piper betle L), daun jambu biji (Psidium guajava L), jombang (Taraxacum officinale) dan daun sambiloto (Androgaphis paniculata). Daun sirih diketahui berdaya antioksidasi, antiseptik, bakterisida, dan fungisida. Tanaman sambiloto bersifat anti bakteri, sedangkan daun jambu biji selain bersifat anti bakteri juga bersifat anti viral.

Beberapa tanaman obat yang sudah ditelitI oleh peneliti dari BRKP DKP pada Tabel 1.

Tabel 1. Tanaman obat dan manfaatnya

No Jenis Tanaman Dosis Perlakuan Peruntukan/Khasiat

1). Meniran


5000 mg/l

Rendam (5 jam)

Anti. Aeromonas hydrophila

2). Kipahit


10.000 mg/l

Rendam (3 jam)

Anti. Mycobacteriosis

3). Daun Semboja


600-700mg/l

Rendam

Anti Aeromonas hydrophila

4). Sambiloto 200-300 mg/l


Rendam (lama)

Anti Aeromonas hydrophila

400 mg/l Rendam (lama) Meringankan KHV

Penelitian dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi ekstrak daun kipahit (Picrasma javanica) dalam penanggulangan penyakit “mycobacteriosis” pada ikan Gurame telah dilakukan di Laboratorium penyakit ikan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor. Ekstrak daun kipahit secara invitro pada berbagai dosis diuji efektifitasnya terhadap bakteri Mycobacterium fortuitum. LC50 bakteri Mycobacterium fortuitum dan toksisitas ektrak daun juga diuji terhadap ikan uji. Kegunaan ekstrak daun juga diuji bagi pengobatan ikan Gurame yang telah diinfeksi oleh bakteri Mycobacterium fortuitum pada level 108 cfu/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kipahit pada level konsentrasi 10.000 mg/l dapat menghambat pertumbuhan bakteri uji, sedangkan perendaman ikan uji yang terinfeksi bakteri dengan dosis yang sama dengan lama perendaman 3 jam dapat digunakan untuk pengobatan penyakit Mycobacteriosis.

Penggunaan bahan-bahan alami digunakan untuk pengendalian jamur antara lain dapat menggunakan kunyit, bawang putih, daun sirih, daun pepaya dan brotowali. Bahan-bahan ini dapat berguna untuk membasmi penyakit jamur yang menempel pada tubuh ikan, walaupun dalam membasmi suatu penyakit dengan menggunakan bahan-bahan alami memiliki waktu yang lama. Kemudian dari ke-5 bahan-bahan alami yang dapat menyembuhkan penyakit jamur pada ikan yaitu bawang putih. Sumber lain menyampaikan informasi adanya manfaat dari tanaman alami untuk obat seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Tanaman obat dan manfaatnya

No. Jenis Tanaman Dosis Peruntukan/Khasiat

1. Bawang putih 25mg/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin

2. Daun sirih 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele

3. Daun jambu biji 0,2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele

4. Daun sambiloto 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele

5. Daun jombang dan ketapang 60gr/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin

(Zainal Abidin, 2005)

Daun Jombang.jpg

Ketapang.jpg

PENUTUP

Penggunaan tumbuhan obat tradisional dalam pencegahan dan pengobatan penyakit ikan memiliki kelebihan antara lain mudah diperoleh, murah, efektif untuk mencegah dan mengobati penyakit ikan, dan relatif aman bagi ikan, lingkungan, dan manusia yang mengonsumsinya (konsumer). Selain itu, kelebihan lainnya adalah tidak menimbulkan resistensi pada pathogen.

Selamat Mencoba…..!!!!

Beberapa Tips lainnya yang saya kutip dari beberapa sumber dan pengalaman rekan-rekan yang saya rangkum disini. Semoga bermanfaat.

Bawang putih
fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri
dosis : 10-20 gr/ kg pakan
aplikasi : tumbuk bawang putih, campurkan ke dalam telur ayam yg sdh di kocok terlebih dahulu lalu dicampur dengan pakan atau pelet. setelah dicampur rata, keringkan dgn pelet.
Kunyit







fungsi : pencegahan a/ pengobatan penyakit bakteri
dosis : 2,5 gr perasan kunyit/liter air
aplikasi : - tumbuk/blender kunyit, peras, lalu tambah air
- campurkan dalam pelet atau pakan.
Ragi/Yeast



fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri
dosis : 0.1 - 1 % ragi roti dalam pakan
aplikasi : campurkan ke dalam telur ayam (sudah kocok) dan campur dgn pakan atau pele
Daun Sirih



fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri, parasit (8,3ppt) dan anti jamur
dosis : 2 gr/60 ml air
aplikasi : direbus dgn air,setelah dingin rendam ikan yg terkena penyakit
Daun pepaya



fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri
dosis : 2 gr/60 ml air
aplikasi : diremas lalu campur dgn air, rendam ikan yg terkena penyakit selama 24 jam

Buah Mengkudu


Fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri

Dosis : 5 buah / 10mtr2 luas kolam

Aplikasi : Buah Mengkudu diiris kecil-kecil, direndam dalam air probiotik 1 x 24 jam

Ditebarkan ke kolam secara merata beserta air rendamannya.

Buah Mahkota Dewa


Fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri

Dosis : 5 buah/ 10mtr2 luas kolam

Aplikasi : Kupas kulit buah mahkota dewa, jemur sampai kering. Rendam daun mahkota dewa yg kering dalam probiotik 1 x 24 jam dan tebarkan secara merata ke kolam beserta air rendamannya.

note:

aplikasi herbal dilakukan secara terus menerus dengan selang waktu 1 minggu
(1 minggu penggunaan dan 1 minggu tidak)
sebaiknya penggunaan obat herbal tidak hanya 1 jenis tetapi kombinasi dari bbrp jenis herbal.
Saat ini kian banyak yang sadar akan kegunaan obat-obatan alami atau herbal untuk mengatasi penyakit pada ikan lele. Hal ini seiring dengan semakin banyaknya temuan penelitian yang mengungkap khasiat sejumlah tanaman dan bumbu dapur untuk memperbaiki kondisi kesehatan lele. Bahan-bahan yang sudah teruji diantaranya adalah bawang putih, mengkudu, temulawak, kunyit, meniran, ragi, daun sirih, dun sambiloto, daun pepaya, daun jambu biji, daun paci-paci, segala pahit-pahitan, dan masih banyak lainnya.

Menambah Nafsu Makan Pada Lele
imagejangan remeh kan temulawak yang bisanya kita tidak sadar/tidak tahu itu namanya. tanpa kita sadari bahwa temulawak bisa lho buat menambah nafsu makan ikan lele. ni buat yang punya lele tidak semangat makanya ini obatnya.
untuk menambah nafsu makan ikan lele metode herbal. di campur dengan pakan. 0.2 : 0,25 : 1 kg gram:
0.2 kg temulawak, (curcuma) "bahasa latinya"
0,25 kg air (di usahakan air hangat) karna dengan keadaan hangat sari temulawak akan terangkat secara maksimal)
1 kg pakan / pelet.
pembuatan :
1. parut temulawak
2. campur dengan air hangat 0.25
3. peras dan saring parutan temulawak tadi
4. campurkan air perasan temulawak tadi dengan pelet sebanyak 1 kg.
5. diamkan selama 10 menit.
nb. setelah di camput jangang lebih dari 8 jam.

sumber : Comunity-development

Tanaman Obat Untuk Mengatasi Bakteri pada Ikan Air Tawar

Berikut ini adalah tanaman  obat bagi ikan yang terkena penyakit  yang mungkin bisa  jadi alternatif bagi petani ikan ... Daun Ketapang, Daun sirih, Daun Jombang, Bawang putih, Daun Sambiloto/sambiroto

Testimoni  dari  empangraddina.com :
kami pernah mencoba ramuan tersebut namun ukuran pastinya kami sesuaikan dengan jumlah ikan yang akan kami obati dengan komposisi 1:1 kemudian dilarutkan kedalam air di bak/drum kami rendam selama 30 menit, cukup efektif untuk menanggulangi ikan yang terkena jamur dan bakteri dalam jangka waktu 1 minggu ikan kembali sehat. ........ selamat mencoba

Berikut adalah ulasan lengkapnya :

Budidaya ikan air tawar yang berpotensi besar, dihadapkan oleh beberapa kendala. Salah satu kendala penyebab kegagalan budidaya ikan air tawar adalah penyakit. Penyakit yang menyerang ikan tropis tawar pada umumnya adalah bakteri.

Beberapa penyakit ikan bakterial yang menginfeksi adalah Aeromonas Sp, Pseudomonas Sp, Staphylococcis Sp, dan Streptococcus Sp. Bahkan pada 1980, wabah penyakit yang disebabkan Aeromonas Hydrophila menyebabkan kematian 82.288 ikan di Jawa Barat.
Tak hanya itu, pada tahun 2005 sebanyak 47 ton ikan gurame dan 2,1 juta ekor benih gurame yang siap dipasarkan mati disebabkan penyakit serupa di Lubuk Pandan, Sumatra Barat.

Budidaya ikan air tawar yang berpotensi besar, dihadapkan oleh beberapa kendala. Salah satu kendala penyebab kegagalan budidaya ikan air tawar adalah penyakit. Penyakit yang menyerang ikan tropis tawar pada umumnya adalah bakteri.

Beberapa penyakit ikan bakterial yang menginfeksi adalah Aeromonas Sp, Pseudomonas Sp, Staphylococcis Sp, dan Streptococcus Sp. Bahkan pada 1980, wabah penyakit yang disebabkan Aeromonas Hydrophila menyebabkan kematian 82.288 ikan di Jawa Barat.
Tak hanya itu, pada tahun 2005 sebanyak 47 ton ikan gurame dan 2,1 juta ekor benih gurame yang siap dipasarkan mati disebabkan penyakit serupa di Lubuk Pandan, Sumatra Barat.

Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasi masalah penyakit ikan air tawar dari mulai menciptakan lingkungan optimal, karantina, vaksinasi, disinfeksi wabah hingga penggunaan antibiotik.

Namun pemberan antibiotik dengan dosis yang tidak tepat dan dilakukan terus menerus dapat pula menyebabkan pencemaran lingkungan. Selain itu terjadi resistensi terhadap bakteri. Dampak lebih jauh ikan-ikan yang mengandung antibiotik melebihi standar tidak laku untuk diekspor. Pasalnya beberapa negara Eropa menerapkan standar antibiotik yang aman.

Indonesia sebagai negara tropis memiliki kekayaan tanaman yang berpotensi menjadi obat. Banyak jenis tanaman yang mengandung senyawa yang bersifat antimikroba. Sejumlah tanaman mengandung senyawa berifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri).

Salah satu penanggulangan penyakit ikan air tawar yang aman adalah dengan mengunakan tanaman obat. Fitofarmaka yang digunakan sebagai pengganti antibiotik untuk mengatasi penyakit ikan adalah bawang putih, dan daun ketapang. Bahan lainnya adalah daun sirih, jombang dan daun sambiloto.

Dari beberapa percobaan, fitofarmaka terbukti efektif mengatasi penyakit ikan air tawar dan memiliki beberapa keuntungan, seperti:

Pertama, dapat menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri. Kedua, ramah terhadap lingkungan, mudah hancur, dan tidak menyebabkan residu pada ikan dan manusia. Ketiga, mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak, keempat harganya ekonomis dan cukup murah.
share dari : pokdakan-klayar

Manfaat Sirsak Untuk Mengobati Asam Urat

Banyak sekali pencegahan yang bisa anda lakukan agar tehindar dari penyakit asam urat diantaranya dengan mengonsumsi beberapa makanan yang dianjurkan dan menghindari makanan serta aktivitas yang tidak diperbolehkan. Selain dari itu bila anda sudah terjangkit penyakit asam urat segerlah berobat baik itu dengan obat asam urat ataupun dengan terapi penyembuhan asam urat secara alami.

Sirsak (Anona muricata Linn) merupakan kerabat dekat srikaya. Tanaman sirsak berasal dari daerah tropis Amerika, yaitu sekitar Peru, Meksiko, dan Argentina. Di tempat asalnya, sirsak merupakan buah penting dan bergengsi.

Buah ini merupakan salah satu pohon buah yang pertama kali diperkenalkan ke dunia luar setelah Colombus menemukan benua Amerika. Segera setelah itu, orang-orang Spanyol membawa sirsak ke Filipina, dan terbukti tanaman ini dapat tumbuh di sebagian besar negara tropis, termasuk di Indonesia. Tanaman ini tumbuh baik di seluruh Indonesia, dari dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut.

Kata sirsak berasal dari bahasa Belanda, yaitu zuurzak, Kata zuur berarti asam, zak berarti kantong. Jadi, secara harafiah diartikan sebagai kantong yang rasanya asam. Di Malaysia, sirsak disebut durian belanda (Dutch duricun).

Sebutan lain untuk sirsak adalah corossol/cachiman epincux (Perancis), srnirrapfei (Jerman), guanabana/zapote agrio (Spanyol), thu-rian-rhaek (Thailand), seetha (Tamil), gunyctbano (Filipina), ciguofan lizhi (Cina), togebanreishi (Jepang), dan seremania (Fiji). Dalam bahasa Inggris, buah sirsak dikenal dengan istilah soursop karena rasanya yang manis keasaman.

Di Indonesia, tanaman sirsak disebut juga sebagai nangka belanda atau nangka seberang. Tanaman tersebut dapat beradaptasi dan tumbuh baik di semua wilayah. Namun, tanaman sirsak belum diusahakan secara besar-besaran, umumnya ditanam secara terbatas di halaman atau pekarangan rumah.

Sumber Vitamin C
Buah sirsak terdiri dari 67,5 persen daging buah, 20 persen kulit buah, 8,5 persen biji buah, dan 4 persen inti buah. Setelah air, kandungan zat gizi yang terbanyak dalam sirsak adalah karbohidrat Salah satu jenis karbohidrat pada buah sirsak adalah gula pereduksi (glukosa dan fruktosa) dengar kadar 81,9-93,6 persen dari kandungan gula total.

Buah sirsak mengandung sangat sedikit lemak (0,3 g/ 100 g), sehingga sangat baik untuk kesehatan. Rasa asam pada sirsak berasal dari asam organik nonvolatil, terutama asam malat, asam sitrat, dan asam isositrat.

Vitamin yang paling dominan pada buah sirsak adalah vitamin C, yaitu sekitar 20 mg per 100 gram daging buah. Kebutuhan vitamin C per orang per hari (yaitu 60 mg), telah dapat dipenuhi hanya dengan mengonsumsi 300 gram daging buah sirsak. Kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada sirsak merupakan antioksidan yang sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlambat proses penuaan (tetap awet muda).

Mineral yang cukup dominan adalah fosfor dan kalsium, masing-masing sebesar 27 dan 14 mg/100 g. Kedua mineral tersebut penting untuk pembentukan massa tulang, sehingga berguna untuk membentuk tulang yang kuat serta menghambat osteoporosis.

Keunggulan sirsak terletak pada kadar sodium (natrium) yang rendah (14 mg/100 g) tetapi tinggi potasium (kalium), yaitu 278 mg/100 g. Perbandingan kalium dan natrium yang tinggi sangat menguntungkan dalam rangka pencegahan penyakit hipertensi.

Sumber Serat
Selain komponen gizi, buah sirsak juga sangat kaya akan komponen nongizi. Salah satu di antaranya adalah mengandung banyak serat pangan (dietary fiber), yaitu mencapai 3,3 g/100 g daging buah.

Konsumsi 100 g daging buah dapat memenuhi 13 persen kebutuhan serat pangan sehari. Buah sirsak merupakan buah yang kaya akan senyawa fitokimia, sehingga dapat dipastikan bahwa buah tersebut sangat banyak manfaatnya bagi kesehatan.
walaupun belum semuanya terbukti secara ilmiah. Berbagai manfaat sirsak untuk terapi antara lain pengobatan batu empedu, antisembelit, asam urat, dan meningkatkan selera makan. Selain itu, kandungan seratnya juga berfimgsi untuk memperlancar pencernaan, terutama untuk pengobatan sembelit (susah buang air besar).

Sari buah (jus) sirsak di dalam sistern pencernaan akan meningkatkan selera makan. Kegunaan lain dari sari buah ini adalah untuk pengobatan pinggang pegal dan nyeri, penyakit wasir (ambeien), batu empedu, dan lain-lain.

PETUNJUK PENGGUNAAN TANAMAN-OBAT

Dalam menggunakan tumbuhan obat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehingga hasil pengobatan yang maksima. Bacalah dengan seksama semua petunjuk seputar timbuhan obat di bawah ini.

A. NAMA

Beberapa hal yang perlu dijelaskan tentang nama tumbuhan obat yang dipakai dalam buku ini.

  1. Nama pada judul ; menggunakan nama yang paling umum digunakan pada kepustakaan yang ada.
  2. Nama ilmiah ; menggunakan nama yang paling umum dipakai.

B. WAKTU PENGUMPULAN

Guna mendapatkan bahan yang terbaik dari tumbuhan obat, perlu diperhatikan saat-saat pengumpulan atau pemetikan bahan berkhasiat.

Berikut ini pedoman waktu pengumpulan bahan obat secara umum.

  1. Daun dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah menjadi masak.
  2. Bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar.
  3. Buah dipetik dalam keadaan masak.
  4. Biji dikumpulkan dari buah yan g masak sempurna.
  5. Akar, rimpang (rhizome), umbi (tuber), dan umbi lapis (bulbus) dikumpulkan sewaktu proses tumbuhan berhenti.

C. PENCUCIAN DAN PENGERINGAN

Bahan obat yang sudah dikumpulkan segera dicuci bersih, sebaiknya dengan air yang mengalir. Setelah bersih, dapat segera dimanfaatkan bila diperlukan pemakaian yang bahan segar. Namun, bisa pula dikeringkan untuk disimpan dan digunakan bila sewaktu-waktu dibutuhkan.

Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air dan mengcegah pembusukan oleh cendawan atau bakteri. Dengan demikian, bahan dapat disimpan lebih lama dalam stoples atau wadah yang tertutup rapat. Bahan kering juga mudah dihaluskan bila ingin dibuat serbuk.

Berikut ini cara mengeringkan bahan obat :

  1. Bahan berukuran besar dan banyak mengandung air dapat dipotong-potong seperlunya terlebih dahulu.
  2. Pengeringan bisa langsung dibawah sinar matahari, atau memakai pelindung seperti kawat halus jika menghendaki pengeringan yang tidak terlalu cepat.
  3. Pengeringan bisa juga dilakukan dengan mengangin-anginkan bahan ditempat yang teduh atau di dalam ruang pengering yang aliran udaranya baik.

D. SIFAT DAN CITA RASA

Didalam Traditional Chinese Pharmacology dikenal 4 macam sifat dan 5 macam cira rasa tumbuhan obat, yang merupakan bagian dari cara pengobatan tradisional timur. Adapun keempat macam sifat tumbuhan obat itu ialah dingin, panas, hangat, dan sejuk. Tumbuhan obat yang sifatnya panas dan hangat dipakai untuk pengobatan sindroma dingin, seperti pasien yang takut dingin, tangan dan kaki dingin, lidah pucat atau nadi lambat. Tumbuhan obat yang bersifat dingin dan sejuk digunakan untuk pengobatan sindroma panas, seperti demam, rasa haus, warna kencing kuning tua, lidah merah atau denyut nadi cepat.

Lima macam cita rasa dari tumbuhan obat ialah pedas, manis, asam, pahit, dan asin. Cita rasa ini digunakan untuk tujuan tertentu karena selain berhubungan dengan organ tubuh, juga mempunyai khasiat dan kegunaan tersendiri. Misalnya rasa pedas mempunyai sifat menyebar dan merangsang. Rasa manis berkhasiat tonik dan menyejukan. Rasa asam berkhasiat mengawetkan dan pengelat. Rasa pahit dapat mengilangkan panas dan lembab. Sementara rasa asin melunakkan dan sebagai pencahar. Kadang-kadang ada juga yang menambahkan cita rasa yang keenam, yaitu netral atau tawar yang berkhasiat sebagai peluruh kencing.

E. CARA MEREBUS RAMUAN OBAT

Perebusan umumnya dilakukan dalam pot tanah, pot keramik, atau panic email,. Pot keramik dapat dibeli di took obat tradisional Tionghoa. Panic dari besi, alumunium atau kuningan sebaiknya tidak digunakan untuk merebus. Hal ini diingatkan karena bahan tersebut dapat menimbulkan endapan, konsentrasi larutan obat yang rendah, terbentuknya racun atau menimbulkan efek samping akibat terjadinya reaksi kimia dengan bahan obat.

Gunakan air yang bersih untuk merebus. Sebaiknya digunakan air tawar, kecuali ditentukan lain. Cara merebus bahan sebagai berikut. Bahan dimasukkan ke dalam pot tanah. Masukkan air sampai bahan terendam seluruhnya dan permukaan air sekitar 30 mm diatasnya. Perebusan dimulai bila air telah meresap kedalam bahan ramuan obat.

Lakukan perebusan dengan api sesuai petunjuk pembuatan. Apabila nyala api tidak ditentukan, biasanya perebusan dilakukan dengan api besar sampai airnya mendidih. Selanjutnya api dikecilkan untuk mencegah air rebusan meluap atau terlalu cepat kering. Meski demikian, adakalanya api besar dan api kecil digunakan sendiri-sendiri sewaktu merebus baha obat. Sebagai contoh, obat yang berkhasiat tonik umumnya direbus dengan api kecil sehingga zat berkhasiatnya dapat secara lengkap dikeluarkan dalam air rebusan. Demikian pula tumbuhan obat yang mengandung racun perlu direbus dengan api yang kecil dalam waktu yang agak lama, sekitar 3-5 jam untuk mengurangi kadar racunnya. Nyala api yang besar digunakan untuk ramuan obat yang dimaksudkan agar pendidihan menjadi cepat dan penguapan berlebih dari zat yang merupakan komponen aktif tumbuhan dapat dicegah.

F. WAKTU MINUM OBAT

Bila tidak terdapat petunjuk pemakaian, biasanya obat diminum sebelum makan kecuali obat tersebut merangsang lambung maka diminum setelah makan. Obat berkhasiat tonik diminum sewaktu perut kosong, dan obat berkhasiat sedative diminum sewaktu ingin tidur. Pada penyakit kronis diminum sesuai jadwal secara teratur. Rebusan obat bisa diminum sesering mungkin sesuai kebutuhan atau diminum sebagai pengganti teh.

G. CARA MINUM OBAT

Obat biasanya diminum satu dosis sehari yang dibagi untuk 2-3 kali minum. Umumnya diminum selagi hangat, terutama untuk pengobatan sindroma luar. Setelah minum obat, pakailah baju tebal atau tidur berselimut supaya tubuh tetap hangat dan mudah mengeluarkan keringat.

Untuk pengobatan sindroma panas, obat diminum dalam keadaan dingin. Sebaliknya untuk pengobatan sindroma dingin obat diminum dalam keadaan hangat. Obat yang sedikit toksik, diminum sedikit demi sedikit tetapi sering. Tambahkan dosisnya secara bertahap sehingga efek pengobatan tercapai.

I. LAMA PENGOBATAN

Tumbuhan obat yang masih berupa simplisia, hasil pengobatannya tampak lambat, namun sifatnya konstruktif atau membangun. Hal ini berbeda dengan obat kimiawi yang hasil pengobatannya terlihat cepat namun destruktif. Oleh karena itu, obat yang berasal dari tumbuhan tidak dianjurkan penggunaannya untuk penyakit-penyakit infeksi akut. Tumbuhan obat lebih diutamakan untuk memelihara kesehatan dan pengobatan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan dengan obat kimiawi, atau memerlukan kombinasi antara obat kimiawi dengan obat dari tumbuhan berkhasiat.

Empat Bahan Herbal Pereda Batuk

Friday, September 16, 2011

Ramuan herbal merupakan obat turun temurun yang dipercaya sebagai obat mujarab penyembuh penyakit. Salah satu penyakit yang bisa disembuhkan dengan ramuan herbal
adalah batuk.
Jeruk nipis, jahe, biji pala, daun mint serta kencur seringkali disebut-sebut sebagai pereda batuk alami yang bisa didapatkan secara mudah dari dapur rumah. Namun, benarkah obat-obatan herbal ini aman dikonsumsi dan berkhasiat untuk meredakan batuk?

Jahe

“Jika obat-obatan herbal diramu secara alami tanpa tambahan bahan kimia, tidak akan menimbulkan efek samping dan aman untuk dikonsumsi,” ujar Ahli Herbal dari Pusat Studi Obat Bahan Alam Departemen Farmasi Universitas Indonesia, Prof.Dr. Sumali Wiryowidagdo, APT, saat ditemui di Media Workshop 'Cara Herbal Redakan Batuk' di Jakarta.
Untuk itu ketahui bahan-bahan herbal apa saja yang bisa bermanfaat meredakan batuk. Berikut empat bahan yang bisa Anda gunakan.
1. Jahe (Zingiber Oficinale Roscoe): berkhasiat meredakan kembung (karminativa), antiinflamasi, analgesik atau pereda nyeri karena batuk serta berkhasiat sebagai antipiretik. Kandungan minyak atsiri didalamnya yang mengandung terpenoid zingiberol, gingerol dan shogaol, telah diteliti dan diuji berkhasiat menyembuhkan batuk.
2. Kencur (Kaempferia galanga L): bisa langsung dikonsumsi dengan cara dikunyah dalam mulut setelah dibersihkan atau diparut dan diambil air perasannya untuk dikonsumsi. Selain meredakan batuk, kencur juga bisa mengendalikan rasa sakit, menurunkan tekanan darah dan bermanfaat sebagai obat influenza.
3. Ekstrak jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle): tak hanya bermanfaat sebagai pereda influenza, tapi juga berkhasiat untuk meredakan nyeri perut, mengatasi mual dan menyembuhkan batuk. Kandungan senyawa eriocitrocide didalamnya, juga berkhasiat mengurangi ketegangan otot, termasuk meregangkan otot-otot tenggorokan.
4. Ekstrak biji pala atau minyak biji pala (Myristica fragrans Houtt): biasa dikonsumsi dalam bentuk manisan pala. Saat dikonsumsi, seringkali menimbulkan rasa kantuk sehingga berkhasiat menimbulkan sensasi menenangkan (sedativa).
Prof. Sumali menyarankan agar penderita maag tidak meemanfaatkan jeruk nipis sebagai pereda batuk. Itu karena sifat asam pada jeruk bisa memperparah kondisi maag.
Namun, jika terpaksa harus mengonsumsi jeruk nipis, untuk menghilangkan rasa asamnya, bisa menambahkan sedikit kapur, madu atau kecap dalam ramuan jeruk nipis. Cara ini bisa mengurangi rasa asam dan lebih aman dikonsumsi bagi penderita maag.
“Tambahan-tambahan ini bisa membuat ramuan lebih mudah diminum dan membuat rasa ramuan herbal lebih enak tapi tidak mengurangi khasiatnya,” kata Prof. Sumali.
Lalu, untuk herbal yang diolah dengan cara tradisional seperti direbus, harus diperhatikan cara mengolahnya agar kandungan senyawa aktif yang bermanfaat di dalamnya tidak hilang. Disarankan, untuk merebus dengan menggunakan teknik yang benar.
“Jika ingin diramu dengan cara direbus, seperti air jahe, akan lebih baik menggunakan panci keramik atau yang terbuat dari stainless. Ini penting agar kandungan senyawa aktifnya tetap bertahan dan tidak hilang,” ujar Prof. Dr. Leonardus Broto Sugeng Kardono, Ahli Ekstraksi Bahan Alam dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Tanaman obat tradisional u pencegahan/pengobatan ikan

Wednesday, September 14, 2011

PENYAKIT IKAN DAN PENYEBABNYA
Penyebab penyakit ikan golongan parasit
Penyakit ikan golongan parasit dibagi menjadi penyakit yang disebabkan oleh protozoa, helminthes (cacing), dan crustacea (udang-udangan). Parasit protozoa yang dilaporkan menyerang ikan air tawar antara lain meliputi Costia, Chilodonella, Trichodina, Ichthyophthirius multifiliis, Myxobolus dan Myxosoma cerebralis. Penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok besar yaitu Platyhelminthes, Nematoda, dan Acanthocephala. Di Indonesia dikenal antara lain 2 genus dari kelas Trematoda yang banyak ditemukan menyerang ikan air tawar yaitu Dactylogyrus dan Gyrodactylus. Walaupun masih ada jenis-jenis lain namun kedua jenis cacing tersebut di atas yang paling sering ditemukan pada ikan.
Penyebab penyakit ikan golongan jamur
Beberapa jenis penyakit jamur yang termasuk berbahaya untuk ikan antara lain adalah Aphanomyces, Branchiomyces, dan Ichthyophonus. Jamur yang paling sering ditemukan pada ikan air tawar adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp.

Penyebab penyakit ikan golongan bakteri

Beberapa jenis penyebab penyakit ikan golongan bakteri yang sering menimbulkan kerugian dalam usaha budidaya ikan antara lain meliputi Aeromonas hydrophila, Aeromonas salmonicida, Mycobacterium spp, Nocardia sp., Edwardsiella tarda, Edwardsiella ictaluri, Streptococcus spp., Pasteurella sp, Yersinia ruckeri, Pseudomonas sp. dan Streptomyces sp.
Penyebab penyakit ikan golongan virus
Beberapa jenis virus diketahui dapat menyerang ikan-ikan budidaya dan menimbulkan permasalahan yang serius antara lain Channel Catfish Virus Disease (CCVD), Spring Viraemia of Carp (SVC), Infectious Pancreatic Necrosis (IPN), Lymphocystis Disease (LD), Infectious Hematophoietic Necrosis (IHN), Viral Nervous Necrosis (VNN) dan Koi Herpes Virus (KHV).
PENCEGAHAN PENYAKIT IKAN
Pada prinsipnya pencegahan dapat ditinjau berbagai pendekatan lingkungan, inang dan pathogen.
Pendekatan lingkungan dilakukan dengan menjaga kualitas air supaya tetap mendukung bagi kehidupan ikan, menjaga wadah budidaya tetap bersih dan sehat dan menghindari pengggantian air yang mendadak sehingga tidak menyebabkan ikan menjadi stress. Selain itu penggunaan probiotik/bioremediasi kini sudah banyak dilaksanakan.
Pendekatan inang dilakukan dengan cara penanganan ikan yang baik/tidak kasar, sehingga tidak mengakibatkan ikan menjadi luka/lecet dan tidak stress, pengaturan kepadatan ikan yang disesuaikan dengan ukuran ikan dan daya dukung lahan, pemberian pakan yang tepat mutu (mengandung bahan nutrisi yang diperlukan oleh ikan). Pakan yang diberikan harus sesuai dengan ukuran bukaan mulut ikan (tepat ukuran). Selain itu pemberian pakan harus tepat waktu pemberian artinya kapan waktu yang tepat untuk memberi pakan. Misalnya untuk ikan yang sifatnya nocturnal (misalnya ikan Lele) pakan porsi terbanyak sebaiknya diberikan pada waktu sore atau malam hari. Sedangkan bagi ikan yang non-nocturnal maka pakan bisa diberikan pagi, siang dan sedikit pada waktu sore hari. Guna menjaga kesehatan ikan juga dapat dilakukan dengan menimbulkan kekebalan ikan. Kekebalan pada ikan dapat dibedakan menjadi kekebalan yang specific (humoral) dan kekebalan non-specific (selular/cell-mediated immunity). Kekebalan spesifik artinya kekebalan yang dibentuk hanya efektif untuk mencegah terhadap suatu patogen tertentu. Misalnya pemberian vaksin anti Vibrio pada ikan maka kekebalan yang terbentuk hanya mampu untuk mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Vibrio sp. Sedang kekebalan yang non-spesific adalah kekebalan yang dibentuk untuk sebagai anti dari berbagai infeksi. Kekebalan seperti ini biasa diproduksi dengan cara pemberian immunomodulator yaitu antara lain Vitamin C, Lypopolysaccharide (LPS), dan ?- glucan.
Pendekatan patogen, pada prinsipnya kita menjaga supaya virulensi patogen tidak meningkat. Virulensi patogen biasanya berkaitan erat dengan makin memburuknya lingkungan dan juga dengan derajat stres dari inangnya. Jadi supaya patogen tidak meningkat patogenitasnya kita harus menjaga agar kondisi lingkungan tidak semakin buruk dan menjaga agar inang tetap dalam keadaan kondisi yang prima. Kondisi lingkungan yang makin buruk akan memacu perkembangan patogen lebih meningkat.
Pada intinya, mencegah penyakit dapat dilakukan melalui manajemen budidaya secara menyeluruh, termasuk di dalamnya penerapan padat tebar yang disesuaikan dengan daya dukung lahan, melaksanakan manajemen lingkungan dan manajemen pakan. Manajemen lingkungan yang dimaksud adalah menjaga lingkungan perairan supaya selalu berada dalam kondisi yang kondusif bagi kehidupan ikan dan tidak banyak menimbulkan tekanan. Pakan yang diberikan pada ikan harus tepat mutu, tepat jumlah, tepat waktu pemberian dan tepat ukuran.
PEMANFAATAN TANAMAN OBAT TRADISIONAL DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT IKAN
Salah satu alternatif penanggulangan penyakit ikan air tawar yang aman adalah dengan menggunakan tanaman obat. Bahan obat lain yang relatif lebih aman untuk lingkungan dan efektif dalam mengobati penyakit ikan dapat menggunakan bermacam-macam tanaman obat tradisional. Indonesia sebagai negara tropis memiliki kekayaan tanaman yang berpotensi menjadi obat. Banyak jenis tanaman yang mengandung senyawa yang bersifat antimikroba. Sejumlah tanaman mengandung senyawa bersifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri). Dari beberapa percobaan, fitofarmaka terbukti efektif mengatasi penyakit ikan air tawar dan memiliki beberapa keuntungan, seperti : Pertama, dapat menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri. Kedua, ramah terhadap lingkungan, mudah hancur/terurai, dan tidak menyebabkan residu pada ikan dan manusia. Ketiga, mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak, keempat harganya ekonomis dan cukup murah.
Fitofarmaka yang dapat dijadikan pengganti antibiotik untuk mengatasi penyakit ikan air tawar adalah bawang putih (Allium sativum), dan daun ketapang (Termmalia cattapa). Hasil penelitian lainnya menginformasikan bahan lain yang dijadikan bahan antibiotik adalah daun sirih (Piper betle L), daun jambu biji (Psidium guajava L), jombang (Taraxacum officinale) dan daun sambiloto (Androgaphis paniculata). Daun sirih diketahui berdaya antioksidasi, antiseptik, bakterisida, dan fungisida. Tanaman sambiloto bersifat anti bakteri, sedangkan daun jambu biji selain bersifat anti bakteri juga bersifat anti viral. Beberapa tanaman obat yang sudah diteliti oleh peneliti dari BRKP DKP di bawah ini.
Tanaman obat dan manfaatnya

No Jenis Tanaman Dosis Perlakuan Peruntukan/Khasiat
1. Meniran
- 5000 mg/l
- Rendam (5 jam)
=> Anti. Aeromonas hydrophila
2. Kipahit
- 10.000 mg/l
- Rendam (3 jam)
=> Anti. Mycobacteriosis
3. Daun semboja
- 600-700mg/l
- Rendam (lama)
=> Anti Aeromonas hydrophila
4. Sambiloto
- 200-300 mg/l
- Rendam (lama)
=> Anti Aeromonas hydrophila
400 mg/l Rendam (lama) Meringankan KHV
Penelitian dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi ekstrak daun kipahit (Picrasma javanica) dalam penanggulangan penyakit “mycobacteriosis” pada ikan Gurame telah dilakukan di Laboratorium penyakit ikan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor. Ekstrak daun kipahit secara invitro pada berbagai dosis diuji efektifitasnya terhadap bakteri Mycobacterium fortuitum. LC50 bakteri Mycobacterium fortuitum dan toksisitas ektrak daun juga diuji terhadap ikan uji. Kegunaan ekstrak daun juga diuji bagi pengobatan ikan Gurame yang telah diinfeksi oleh bakteri Mycobacterium fortuitum pada level 108 cfu/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kipahit pada level konsentrasi 10.000 mg/l dapat menghambat pertumbuhan bakteri uji, sedangkan perendaman ikan uji yang terinfeksi bakteri dengan dosis yang sama dengan lama perendaman 3 jam dapat digunakan untuk pengobatan penyakit Mycobacteriosis.
Penggunaan bahan-bahan alami digunakan untuk pengendalian jamur antara lain dapat menggunakan kunyit, bawang putih, daun sirih, daun pepaya dan brotowali. Bahan-bahan ini dapat berguna untuk membasmi penyakit jamur yang menempel pada tubuh ikan, walaupun dalam membasmi suatu penyakit dengan menggunakan bahan-bahan alami memiliki waktu yang lama. Kemudian dari ke-5 bahan-bahan alami yang dapat menyembuhkan penyakit jamur pada ikan yaitu bawang putih. Sumber lain menyampaikan informasi adanya manfaat dari tanaman alami untuk obat seperti pada Tabel 2.
Tanaman obat dan manfaatnya
Jenis Tanaman Dosis Peruntukan/Khasiat
1. Bawang putih 25mg/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin
2. Daun sirih 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
3. Daun jambu biji 0,2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
4. Daun sambiloto 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
5. Daun jombang dan ketapang 60gr/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin
(Zainal Abidin, 2005)
PENUTUP
Penggunaan tumbuhan obat tradisional dalam pencegahan dan pengobatan penyakit ikan memiliki kelebihan antara lain mudah diperoleh, murah, efektif untuk mencegah dan mengobati penyakit ikan, dan relatif aman bagi ikan, lingkungan, dan manusia yang mengonsumsinya (konsumer). Selain itu, kelebihan lainnya adalah tidak menimbulkan resistensi pada patogen.

MENGOBATI PENYAKIT LIVER DENGAN YUYU SAWAH

Sunday, September 11, 2011

image Yuyu adalah sejenis kepiting air tawar. Kata ini diambil dari bahasa Jawa. Ketam air tawar ini ada banyak jenisnya, dan kerap didapati di sungai-sungai, danau, dan persawahan; termasuk di parit-parit dan tanah bencah di sekitarnya. Dalam ilmu zoologi, jenis-jenis yuyu biasanya tergolong ke dalam suku Parathelphusidae atau Gecarcinucidae, superfamilia Gecarcinucoidea. Yuyu tidak jarang terlihat di luar air. Berbeda dengan kepiting laut yang sepasang kaki belakangnya berbentuk pipih, kaki yuyu semuanya memiliki ujung lancip. Tempurung punggung yuyu umumnya berwarna kecoklatan, kehitaman, hingga ungu gelap; kerap memiliki lekukan seperti bekas terinjak tapak kaki kuda. Tepi tempurungnya kadang-kadang ada yang memiliki beberapa duri kecil.

Yuyu adalah binatang bercapit yang ada di sawah. Orang jawa menyebutnya dengan nama Jangkang yaitu sejenis kepiting sungai yang masih kecil/muda. Dalam bahasa latin di kenal dengan nama parathelphusidae.
Yuyu di percaya bisa menyembuhkan penyakit liver karena memiliki kandungan kalori dan protein cukup tinggi, meski belum ada penelitian ilmiah mengenai hal ini.
Caranya : Cari yuyu yang berusia muda, lalu di ambil dagingnya untuk kemudian di jus. Agar bau amisnya hilang dan rasanya lebih nikmat, sebaiknya jus Yuyu di campur dengan jeruk. Minumlah jus Yuyu secara rutin hingga penyakit liver hilang. Di anjurkan juga untuk minum sari temulawak secara rutin.

Manfaat Kepiting Sawah Putih untuk Tumor Mata

Cerita Teman Sebelah di Blog tentang manfaat Kepiting Sawah Putih untuk Kesehatan Mata. Kepiting Sawah Putih, yang sering ditemui di sawah- sawah atau di kebun Kangkung ternyata memiliki manfaat yang sangat baik untuk kesehatan mata kita. Saya sudah membuktikan untuk mengobati gangguan mata Ayah saya. Ayah saya didiagnosa oleh dokter spesialis mata, terkena TUMOR dan HARUS DIOPERASI. Setelah berobat kesana- kemari, baik secara medis maupun alternatif, namun hasilnya nihil, mata ayah saya TETAP HARUS DIOPERASI. Beruntung, seorang teman yang juga ahli terapi pijit refleksi menyarankan untuk mencoba menggunakan GETAH CAPIT Kepiting Sawah Putih secara rutin (Pagi dan Malam menjelang tidur). AlhamduliLLah, setelah dicoba selama 15 hari, secara perlahan tapi pasti, TUMOR yang terdapat pada Mata Kiri ayah saya mulai menipis dan ayah saya dapat kembali melihat dengan NORMAL (dapat membaca TEXT BANNER pada TV 29" dengan jarak +/- 5,5 M tanpa Kacamata PLUS nya), tanpa adanya gangguan PEDIH, GATAL, MENGGANJAL (seperti kemasukan benda asing), LELAH dan MATA MERAH. Saat ini Ayah saya masih menjalani terapi tersebut untuk PENYEMBUHAN TOTAL. Beginilah cara saya memberikan terapi tersebut : 1. Pilih Kepiting Sawah Putih yang besar dan memiliki CAPIT besar sebelah (Seperti terlihat pada Foto). Mengapa demikian ? Karena biasanya pada CAPIT yang besar sebelah itu terdapat kandungan GETAH LEBIH BANYAK. 2. (Maaf) Patahkan salah satu Capit yang lebih besar pada bagian ketiaknya (hati-hati terkena capit). Setelah itu Kepiting dapat dilepaskan kembali ke habitat asalnya. 3. Pegang masing-masing UJUNG CAPIT dengan Ibu Jari dan Telunjuk KEDUA TANGAN, dan luruskan BATANG CAPIT dengan menggunakan Jari Manis. 4. Pompa KEDUA UJUNG CAPIT sampai mengeluarkan GETAH BENING di PANGKAL (KETIAK) bekas patahannya, dan segera Teteskan Pada Kedua Mata (2 Tetes pada masing-masing bola mata Sudah CUKUP), jika capitnya besar, bisa mengandung Getah s/d 12 tetes. 5. Biarkan sampai Getah tersebut mengering dengan sendirinya (JANGAN DISEKA). 6. Biasanya yang terasa adalah rasa DINGIN, walau terkadang ada pula timbul rasa GATAL. Oom & Tante Saya yang terkena KATARAK pun setelah menjalani terapi selama 10 hari merasakan perubahan yang SANGAT SIGNIFIKAN. Sebagai tambahan informasi, Kepiting TETAP baik, jika disimpan dalam air TIDAK LEBIH dari 2 hari dengan diberi makan NASI secukupnya. Pada hakekatnya yang Maha menyembuhkan hanyalah ALLAH SWT., kita hanya DIWAJIBKAN untuk berusaha. Demikian, semoga dapat membantu. Salam. NB. : Jika telah mencoba dan berhasil, tolong berbagi di Thread ini, agar semakin banyak saudara-saudara kita yang bisa tertolong penglihatannya