Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in
Showing posts with label Bokasi. Show all posts
Showing posts with label Bokasi. Show all posts

Membuat kompos dan Pupuk Organik

Sunday, November 20, 2011

Apa itu kompos?
Kompos atau humus adalah sisa-sisa mahluk hidup yang telah mengalami pelapukan, bentuknya sudah berubah seperti tanah dan tidak berbau. Kompos memiliki kandungan hara NPK yang lengkap meskipun persentasenya kecil. Kompos juga mengandung senyawa-senyawa lain yang sangat bermanfaat bagi tanaman.
Apa manfaat kompos?
Kompos ibarat multivitamin bagi tanah dan tanaman. Kompos memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Kompos akan mengembalikan kesuburan tanah. Tanah keras akan menjadi lebih gembur. Tanah miskin akan menjadi subur. Tanah masam akan menjadi lebih netral. Tanaman yang diberi kompos tumbuh lebih subur dan kualitas panennya lebih baik daripada tanaman tanpa kompos.
Apa saja yang bisa dibuat kompos?
Pada prinsipnya semua bahan yang berasal dari mahluk hidup atau bahan organik dapat dikomposkan. Seresah, daun-daunan, pangkasan rumput, ranting, dan sisa kayu dapat dikomposkan. Kotoran ternak, binatang, bahkan kotoran manusia bisa dikomposkan. Kompos dari kotoran ternak lebih dikenal dengan istilah pupuk kandang. Sisa makanan dan bangkai binatang bisa juga menjadi kompos. Ada bahan yang mudah dikomposkan, ada bahan yang agak mudah, dan ada yang sulit dikomposkan. Sebagian besar bahan organik mudah dikomposkan. Bahan yang agak mudah alias agak sulit dikomposkan antara lain: kayu keras, batang, dan bambu. Bahan yang sulit dikomposkan antara lain adalah kayu-kayu yang sangat keras, tulang, rambut, tanduk, dan bulu binatang.
Mengapa harus dikomposkan terlebih dahulu?
Tanaman tidak dapat menyerap hara dari bahan organik yang masih mentah, apapun bentuk dan asalnya. Kotoran ternak yang masih segar tidak bisa diserap haranya oleh tanaman. Apalagi sisa tanaman yang masih segar bugar juga tidak dapat diserap haranya oleh tanaman. Kompos yang 'setengah matang' juga tidak baik untuk tanaman. Bahan organik harus dikomposkan sampai 'matang' agar bisa diserap haranya oleh tanaman. Prinsipnya adalah tanaman menyerap hara dari tanah, oleh karena itu harus dikembalikan menjadi tanah dan diberikan ke tanah lagi.
Bagaimana cara membuat kompos yang cepat, mudah, dan murah?
Membuat kompos sangat mudah. Secara alami bahan organik akan mengalami pelapukan menjadi kompos, tetapi waktunya lama antara setengah sampai satu tahun tergantung bahan dan kondisinya. Agar proses pengomposan dapat berlangsung lebih cepat perlu perlakuan tambahan.
Pembuatan kompos dipercepat dengan menambahkan aktivator atau inokulum atau biang kompos. Aktivator ini adalah jasad renik (mikroba) yang bekerja mempercepat pelapukan bahan organik menjadi kompos. Bahan organik yang lunak dan ukurannya cukup kecil dapat dikomposkan tanpa harus dilakukan pencacahan. Tetapi bahan organik yang besar dan keras, sebaiknya dicacah terlebih dahulu. Aktivator kompos harus dicampur merata ke seluruh bahan organik agar proses pengomposan berlangsung lebih baik dan cepat.
Bahan yang akan dibuat kompos juga harus cukup mengandung air. Air ini sangat dibutuhkan untuk kehidupan jasad renik di dalam aktivator kompos. Bahan yang kering lebih sulit dikomposkan. Akan tetapi kandungan air yang terlalu banyak juga akan menghambat proses pengomposan. Jadi basahnya harus cukup. Bahan juga harus cukup mengandung udara. Seperti halnya air, udara dibutuhkan untuk kehidupan jasad renik aktivator kompos.
Untuk melindungi kompos dari lingkungan luar yang buruk, kompos perlu ditutup. Penutupan ini bertujuan untuk melindungi bahan/jasad renik dari air hujan, cahaya matahari, penguapan, dan perubahan suhu.
Bahan didiamkan selama beberapa waktu hingga kompos matang. Lama waktu yang dibutuhkan antara 2 minggu sampai 6 minggu tergantung dari bahan yang dikomposkan. Bahan-bahan yang lunak dapat dikomposkan dalam waktu yang singkat, 2 - 3 minggu. Bahan-bahan yang keras membutuhkan waktu antara 4 - 6 minggu. Ciri kompos yang sudah matang adalah bentuknya sudah berubah menjadi lebih lunak, warnanya coklat kehitaman, tidak berbau menyengat, dan mudah dihancurkan/remah.
Bagaimana cara penggunaan kompos?
Kompos yang sudah matang dapat langsung digunakan untuk tanaman. Tidak ada batasan baku berapa dosis kompos yang diberikan untuk tanaman. Secara umum lebih banyak kompos memberikan hasil yang lebih baik. Tetapi jika kompos akan digunakan untuk pembibitan atau untuk tanaman di dalam pot/polybag, kompos harus dicampur tanah dengan perbandingan satu bagian kompos : tiga bagian tanah.
Kompos dapat diberikan sebagai satu-satunya sumber hara tambahan atau lebih dikenal dengan istilah pertanian organik. Kompos yang diberikan sebaiknya dalam jumlah yang cukup, agar tanaman dapat tumbuh lebih baik. Kompos juga bisa diberikan bersama-sama dengan pupuk kimia buatan. Pupuk kimia dapat dikurangi sebagian dan digantikan dengan penambahan kompos.
Kompos dapat diberikan ke tanaman apa saja, mulai dari tanaman pertanian, holtikultura, perkebunan, tanaman hias, buah-buahan, sayuran, dan kehutanan. Misalnya untuk tanaman: padi sawah, padi gogo, jagung, ketela pohon, kacang, kol, kentang, karet, kopi, sawit, kakao, tebu, aglonema, gelombang cinta, mangga, akasia, dan lain-lain.

skema daur hidup:

Kompos adalah produk akhir dari proses dekomposisi senyawa organik yang diurai menggunakan bantuan mikroorganisme yang bekerja pada suhu tertentu, kegiatannya dinamakan pengomposan.
Pengomposan dengan bahan baku sampah domestik merupakan teknologi yang ramah lingkungan, sederhana dan menghasilkan produk akhir yang sangat berguna bagi kesuburan tanah dan sebagai penutup/ landfill .
Mengapa masyarakat perlu melakukan proses pengomposan?
1. Membantu menghilangkan beban permasalahan sampah perkotaan
2. Mengurangi pencemaran lingkungan
3. Kompos matang bisa menyuburkan tanah
4. Untuk masyarakat tertentu bisa dijadikan sumber penghasilan
5. Mengurangi beban TPA
Metoda pengomposan
A. Berdasarkan kebutuhan oksigen:
1. Pengomposan Aerob: menggunakan bantuan udara terbuka.
2. Pengomposan An-Aerob: dengan cara tertutup tanpa bantuan udara
Pengomposan dengan cara Aerob , ragamnya bermacam mulai dari teknologi sederhana sampai yang menggunakan peralatan canggih, seperti:
Sistem open windrow
merupakan metode yang paling sederhana dan sudah sejak lama dilakukan. Untuk mendapatkan aerasi dan pencampuran, biasanya tumpukan sampah tersebut dibalik (diaduk). Hal ini juga dapat menghambat bau yang mungkin timbul, pembalikan dapat dilakukan baik secara mekanis maupun manual.
Aerated Static Pile Composting
Udara disuntikkan melalui pipa statis ke dalam tumpukan sampah. Untuk mencegah bau yang timbul, pipa dilengkapi dengan exhaust fan. Setiap tumpukan biasanya menggunakan blower untuk memantau udara yang masuk.
In-veseel Composting System
sistim pengomposan dilakukan di dalam kontainer/tangki tertutup. Proses ini berlangsung secara mekanik, untuk mencegah bau disuntikkan udara, pemantauan suhu dan konsentrasi oksigen.
Vermicomposting
pengomposan secara aerobik dengan memanfaatkan cacing tanah sebagai perombak utama atau dekomposer, inokulasi cacing tanah dilakukan pada saat kondisi material organik sudah siap menjadi media tumbuh (kompos setengah matang).
Dikenal 4 (empat) marga cacing tanah yang sudah dibudidayakan, yaitu Eisenia, Lumbricus, Perethima danPeryonix
Effective Microorganisms (EM)
EM merupakan kultur campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman yang dapat diaplikasikan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman dan populasi mikroorganisme di dalam tanah dan tanaman. Manfaat yang dapat diambil dalam teknologi EM pada pengolahan sampah kota adalah berkurangnya bau busuk dan panas yang keluar dari tumpukan sampah, serta mempercepat proses pengomposan
B. Berdasarkan Lokasi Pembuatan Kompos, jenisnya antara lain:
1. Sistem Setempat (On-site System)
pembuatan kompos yang mengambil tempat di sumber sampah, misalnya di halaman rumah, di pasar, dan lain-lain. Sebagai contoh adalah pengomposan dengan menggunakan komposter skala rumah tangga, berbentuk takakura/bin/tong yang berukuran 50 - 250 liter. Proses bisa secara anaeob atau aerob. Sampah dapur sebagai bahan baku dapat dikombinasikan dengan sampah kebun seperti rumput, daun-daunan, dsb. Waktu pengomposan bisa diatur
2. Sistem Terpusat (On-central System)
pembuatan kompos dipusatkan di suatu lokasi yang memiliki jarak dengan sumber sampah. Sebagai contoh adalah pengomposan dengan metode UDPK (Usaha Daur-Ulang dan Produksi Kompos).
Efektivitas proses pembuatan kompos sangat tergantung kepada mikroorganisme pengurai. Apabila mereka hidup dalam lingkungan yang ideal, maka mereka akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula. Kondisi lingkungan yang ideal mencakup :
1. Keseimbangan nutrien ( C / N ratio ), yaitu perbandingan antara bahan yang mengandung unsur carbon dan nitrogen. Rasionya berkisar 20:1 s/d 40:1, rasio terbaik adalah 30:1
2. Kelembaban, optimum adalah 50%
3. Derajat keasaman [ph], netral 6 - 8,5
4. Suhu, terbaik dikisaran 50 - 65 Âșc diperlukan suhu yang optimum untuk membunuh bakteripatogen dan benih gulma
5. Ukuran partikel yang tebaik adalah 0,5-1 cm semakin kecil ukuran partikel semakin luas permukaan dan mempermudah kerja mikroorganisme
6. Homogenitas campuran, diperlukan homogenitas campuran untuk mempercepat kerja bakteri pengurai.

Beberapa Masalah dalam proses pengomposan!
1. BAU
Penyebab : tumpukan sampah terlalu padat dan basah sehingga tidak cukup oksigen dalam tumpukan
Pemecahan: aduk tumpukan sehingga dapat teraliri udara & tambahkan bahan-bahan kering yang kasar seperti jerami dan daun untuk menyerap kelembaban yang berlebihan.
2. LALAT, LARVA LALAT (BELATUNG), KECOA, & TIKUS
Penyebab : bahan-bahan yang tidak tepat seperti daging & minyak masuk ke dalam komposter, kurangnya sumber karbon dan tutup komposter yang tidak rapat .
Pemecahan : kubur sisa makanan ditengah tumpukan, tutup dengan sumber karbon yang cukup dan membuang sampah ke dalam komposter pada pagi jam 05.00-05.30 WIB & sore diatas jam 17.00 WIB, menanam tanaman yang berdaun keras & berduri di sekitar komposter, menutup rapat komposter dan menambal lubang komposter yang bocor dengan lem pipa atau lem aquarium.
3. LINDI ATAU AIR SAMPAH
Penyebab : pembusukan dari sisa makan basah, sayur yang tidak ditiriskan
Pemecahan : tempatkan komposter pada daerah yang tidak tergenang air dan tiriskan sisa makanan/sayur yang berkuah.
Dampak Terhadap Kualitas Lingkungan
Dalam sistem pengomposan tidak selalu memberikan dampak yang baik, namun juga terdapat dampak yang tidak baik, terutama pada saat proses pembuatan maupun pasca pembuatan kompos.
Pengomposan dengan menggunakan bahan baku sampah organik domestik dalam pelaksanaannya mengalami beberapa kendala. Salah satu permasalahan yang muncul yaitu adanya dampak terhadap kualitas lingkungan.
Permasalahan yang mungkin muncul adalah masih terdapatnya organisme patogen/parasit, berkembangnya vektor penyakit dan masalah estetika.
Organisme Patogen dan Parasit
Organisme patogen seperti virus, bakteria, protozoa, jamur yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia, hewan maupun tumbuhan kemungkinan masih terkandung didalam kompos yang disebabkan oleh masalah teknis, seperti tidak tercapainya suhu yang mematikan organisme tersebut. Permasalahan ini dapat dihindari dengan pengawasan mutu kompos pada setiap langkah produksinya, antara lain dengan pemantauan suhu setiap hari.
Vektor Penyakit
Vektor penyakit yang sering terdapat pada proses pengomposan adalah lalat, tikus, dan kecoa. Lalat sering dijumpai pada bahan baku kompos, yaitu sampah domestik yang tidak segar (berumur lebih dari dua hari) sedangkan tikus dan kecoa sangat menyukai tumpukan kompos yang tidak segera dikemas atau dipasarkan serta tumpukan residu yang tidak segera diangkut ke TPA. Pemasokan bahan baku dan pengangkutan residu yang teratur dan tepat waktu serta pemeliharaan sarana/prasarana pengomposan yang memadai dapat menghindari gangguan vektor penyakit.
Estetika
Bau dan kenampakan fisik yang kurang baik dari fasilitas pengomposan merupakan masalah estetika yang sering muncul, sehingga menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitar, terutama masyarakat yang tinggal di sekitar fasilitas tersebut. Bau disebabkan oleh 1) kondisi anaerobik yang terjadi akibat pengoperasian pengomposan tidak sesuai dengan prosedur, seperti kurangnya asupan oksigen (pekerja kurang rajin membalik tumpukan pada pengomposan dengan sistem Windrow); 2) bahan baku kompos tidak segar sehingga sebelum diolah, sampah tersebut sudah mengalami pembusukan. Kenampakan visual fasilitas pengomposan yang kurang baik, disebabkan pemeliharaan terhadap fasilitas tidak dilaksanakan dengan baik, sehingga menimbulkan kesan kotor. Hal ini dapat diantisipasi dengan pengendalian dan pemeliharaan fasilitas dengan lingkungan luar antara lain dengan mendirikan tembok atau pagar tanaman.
Logam Berat
Salah satu masalah penting adalah kemungkinan kontaminasi logam berat dalam kompos yang diproduksi. Hal ini terjadi bila pemilahan tidak dilaksanakan sebelumnya sehingga bahan baku masih tercampur dengan sampah yang mengandung logam berat. Aktivitas pemilahan sampah sebelum pengomposan dilaksanakan sangat penting untuk dilakukan dan lebih baik lagi bila pemilahan telah dilakukan di sumber sampah.

Apakah Perubahan yang Terjadi pada Pembuatan Kompos?



Tumpukan bahan-bahan mentah (seresah, sisa-sisa tanaman, sampah dapur, dll) menjadi kompos dikarenakan telah terjadi pelapukan dari sifat fisik semula menjadi sifat fisik baru (kompos). Perubahan-perubahan ini sebagian besar adalah karena kegiatan-kegiatan jasad renik, sehubungan pula dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Apa yang telah terikat oleh jasad renik demi mencukupi kebutuhan hidupnya, kelak akan dikembalikan lagi apabila jasad-jasad renik tersebut mati.
Jelasnya perubahan-perubahan itu adalah karena terjadinya penguraian-penguraian, pengikatan dan pembebasan berbagai zat atau unsur hara selama berlangsung proses pembentukan kompos, jelasnya sebagai berikut:
a. Hidrat arang (selulosa, hemiselulosa dll.) diurai menjadi CO2 dan air atau CH4 dan H2.
b. Zat putih telur diurai melalui amida-amida, asam-asam amino menjadi maoniak, CO2 dan air.
c. Berjenis-jenis unsur hara, terutama N di samping P dan K dan lain-lain, sebagai hasil uraian, akan terikat dalam tubuh jasad renik dan sebagian yang tidak terikat menjadi tersedia di dalam tanah. Apa yang terikat ini kelak akan dikembalikan ke dalam tanah setelah jasad-jasad renik mati.
d. Ternyata pula unsur-unsur hara dari senyawa-senyawa anorganik akan terbebas menjadi senyawa-senyawa anorganik sehingga tersedia di dalam tanah bagi keperluan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
e. Lemak dan lilinpun akan terurai menjadi CO2 dan air.
Selama berlangsungnya perubahan-perubahan tersebut akan terjadi pula perubahan-perubahan pada berat dan isi bahan-bahannya atau dengan perkataan lain akan berlangsung pengurangan-pengurangan, misalnya karena terjadi penguapan dan pencucian. Dalam penguapan biasanya sebagian besar senyawa-senyawa zat arang hilang ke udara.

Sumber : Kaskus

PEMANFATAN LIMBAH PABRIK GULA ( FILTER CAKE ) & LIMBAH ETHANOL ( VINASSE ) MENJADI PUPUK ORGANIK HOSC YANG DAPAT MENGGANTIKAN PUPUK KIMIA

Saturday, November 12, 2011

I. PENDAHULUAN

    Blotong (filter cake) merupakan limbah padat hasil dari proses produksi pembuatan gula, dimana dalam suatu proses produksi gula akan dihasilkan blotong dalam jumlah yang sangat besar, sebagai contoh pada tahun 2003 dalam satu proses produksi gula di  P.G.Kebon Agung mampu menhasilkan limbah blotong sebanyak 21.000 ton sedang di P.G PTPN X mampu menghasilkan limbah blotong sebanyak 110.000 ton.

    Sementara ini pemanfatan blotong sebagai pupuk organik masih belum maksimal dan penggunanya pun terbatas, hal ini disebabkan karena :

    1. Pengolahan limbah blotong menjadi pupuk organik masih bisa dikatakan hanya asal-asalan, masih belum ditangani dengan menggunakan satu proses yang baik dan benar sehingga pupuk organic yang dihasilkannya pun masih belum sempurna.
    2. Minimnnya pengetahuan petani akan manfaat penggunaan pupuk organik dari bahan blotong.

    Vinasse merupakan limbah cair yang dihasilkan dari proses pembuatan Ethanol. Dalam proses pembuatan 1 liter Ethanol akan dihasilkan limbah (Vinasse) sebanyak 3 liter (1 : 3),  dari angka perbandingan diatas maka semakin banyak Ethanol yang diproduksi akan semakin banyak pula limbah yang dihasilkannya.  Jika limbah ini tidak tertangani dengan baik maka di kemudian hari, limbah ini akan menjadi masalah yang berdampak tidak baik bagi lingkungan.

    Salah satu cara pemanfaatan limbah ini yaitu dengan merubah Vinasse menjadi pupuk organik cair dengan menggunakan metode tertentu.  Hal ini mungkin dilakukan karena kandungan unsur kimia dalam Vinasse sebagian besar merupakan unsur yang berguna dan dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman.

    Di Indonesia penggunaan pupuk organik sangat minim dilakukan oleh petani, hal ini dikarenakan sedikitnya produsen pupuk organik, dan minimnya pengetahuan petani tentang manfaat penggunaan pupuk organik.

    Dengan adanya hal tersebut diatas maka akan tepat jika limbah yang sedemikian besar tadi dimanfaatkan menjadi pupuk organik.

    II. PROSES PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DARI LIMBAH.

      Bahan organik adalah mencakup semua bahan yang berasal dari jaringan tanaman dan hewan, baik yang hidup maupun yg telah mati, pada berbagai tahapan (stage) dekomposisi.Bahan organik tanah (Pupuk Organik) adalah lebih mengacu pada bahan (sisa jaringan tanaman/hewan) yang telah mengalami perombakan/dekomposisi baik sebagian/seluruhnya, yg telah mengalami humifikasi maupun yg belum (Millar, 1955)

      Dari definisi diatas maka limbah baik Blotong (Filter Cake) atau Vinasse merupakan bahan organik dan untuk bisa menjadi Pupuk Organik yang siap diaplikasikan maka diperlukan suatu proses Dekomposisi Bahan oleh bantuan Energize Micro-Organisme. Secara singkat proses dekomposisi tersebut memerlukan waktu 21 hari ( dekomposisi sempurna ).

      III. MARKET OPPORTUNITY

        Seiring dengan kebijakan pemerintah tentang pertanian organik dan gerakan moral yang menyerukan kembalinya pemakaian bahan-bahan organik seperti pupuk, pestisida dll sebagai bahan dasar dalam usaha pertanian, maka kebutuhan bahan organik terutama pupuk organik menjadi semakin besar.  Hal ini sangatlah beralasan karena pemakaian bahan organik pada usaha pertanian lebih menguntungkan bila ditinjau dari nilai ekonomis, keamanan, lingkungan dan  kesehatan.

        Akan tetapi kebutuhan pupuk organik yang terus meningkat dari tahun ke tahun tersebut tidak diimbangi dengan suply pupuk organik yang mencukupi.  Hal ini dikarenakan sedikitnya produsen pupuk organik yang ada di tanah air dan pola pertanian yang masih fanatic pada pupuk kimia.  Disamping itu bisnis pupuk organik ini dinilai kurang menguntungkan oleh produsen pupuk jika dibanding dengan pupuk kimia. Hal tersebut sebenarnya bukan dikarenakan tidak adanya kebutuhan pupuk organik di tingkat konsumen (petani) tetapi lebih mengacu kepada ketidaktahuan petani akan manfaat dari penggunaan pupuk organik tersebut dan keengganan pihak yang terkait untuk memberikan penyuluhan tetang hal tersebut.

        Pupuk organik akan menjadi suatu bisnis yang sangat menguntungkan apabila kesadaran petani akan manfaat penggunaan pupuk organik baik jangka pendek maupun jangka panjang semakin meningkat.  Hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk Indonesia pada umumnya bermata pencaharian sebagai Petani.

        Kita bisa mengetahui besarnya potensi pasar pupuk organik ini yaitu dengan mengasumsikan kebutuhan pupuk organik per Ha dikalikan luas areal pertanian dikalikan musim tanam petani setiap tahunnya ( 1.5ton HOSC per ha )

        IV. MARKET PLANNING

          1. Informasi Produk.

          Pupuk Organik HOSC ( Humus Organic Soil Conditioner )

          didefinisikan sebagai Hasil ahir dari proses dekomposisi yang sempurna dari blotong (filter cake)  dengan menggunakan bantuan Energize Micro-Organisme. Pupuk organik jenis ini berbentuk padat, remah dan berwarna hitam, dan biasa dikenal dengan nama humus.

          Pupuk Organik, diposisikan sebagai bahan organik yang berupa padatan yang berfungsi sebagai bahan penambah tingkat kesuburan tanah, dan pupuk organik ini diarahkan untuk mengganti bahan organik lain seperti kompos, pupuk kandang dll. Selain Sebagai “Soil Conditioner” pupuk organik HOSC merupakan penambah unsur hara pada tanah dan berfungsi sebagai Pupuk yang bisa memperbaiki sifat tanah baik sifat fisik tanah, biologi tanah dan kimia tanah sehingga secara umum dapat memperbaiki tingkat kesuburan tanah, hal ini dikarenakan disamping kaya akan unsur hara, Pupuk organic HOSC juga mengandung gugus gula yang bermanfaat sebagai “bulk agent” atau bahan makanan awal bagi mikro organisme pengurai untuk melakukan proses dekomposisi.

          2. Strong Point

            Keunggulan produk pupuk organic HOSC secara umum dapat disampaikaikan sebagai berikut  :

            1.   Memperbaiki  sifat fisik Tanah, yaitu:

            1. warna tanah menjadi lebih kelam, Coklat-hitam yang dapat menaikkan suhu.
            2. Meningkatkan agregasi (granulasi tanah) dan urobilitas, agragat, aerasi (penghawaan) lebih baik, draenasi perembihan (pelulusan) lebih baik, lebih tahan terhadap erosi.
            3. Mengurangi plastisitas pada tanah lempung (liat-clay), tanah lebih mudah diolah (lebih gembur).
            4. Menaikkan kemampuan mengikat atau menyimpan air.

            2.   Memperbaiki  sifat Kimia tanah, yaitu:

            1. Menaikkan KPK. (humus mempunyai KPK>200 me/100 gr).
            2. Merupakan salah satu sumber unsur hara (penting dalam daur/siklus unsur hara)
            3. Merupakan cadangan unsur hara utama N,P,K dalam bentuk organik dan unsur hara mikro (Fe, Cu, Mn, Zn, B, Mo, Ca) dalam bentuk khelat (chelate) dan akan dilepaskan secara perlahan-lahan.
            4. Meningkatkan aktivitas, jumlah dan populasi mikro dan makro organisme tanah

            ( merupakan sumber energi/makanan untuk bakteri, actinomycetes, cacing, serangga dll )

            3.   Dibanding Pupuk Kimia, penggunaan pupuk organik akan lebih menguntungkan jika ditinjau dari beberapa aspek, yaitu :

            a.  Lebih Ekonomis.

            b. Untuk Penggunaan dalam jumlah banyak tidak menyebabkan terjadinya Fithotoksis pada tanaman.

            c. Untuk penggunaan yang terus menerus dan dalam waktu yang lama tidak  menimbulkan efek yang merugikan bagi lingkungan, dan tanaman.

            3. Kompetitor Produk

            Produk pupuk organik lain yang ada dipasar secara umum dapat  disampaikan sebagai berikut  :

            1. Bahan organic lain seperti pupuk kandang, Kompos dan Humus yang telah lama dipakai oleh petani, keunggulan dari produk ini adalah harganya relative murah, tetapi kualitas bahan organik tidak begitu baik, dalam arti bahan organik belum terdekomposisi secara sempurna.

            2.  Pupuk daun kimia cair yang telah lama dipakai oleh end user dalam hal ini petani,   keunggulan produk ini adalah efek yang ditimbulkan dalam merubah performa tanaman membutuhkan waktu yang  relative lebih cepat jika dibanding dengan pupuk       organic cair, kelemahannya adalah dosis aplikasinya lebih rumit karena bila tidak          diaplikasikan dalam jumlah dosis yang tepat dapat menyebabkan keracunan pada tanaman.

            V. PENUTUP

              Demikianlah uraian singkat mengenai peluang pasar dan rencana pengembangan limbah dari pabrik gula dan limbah pabrik etanol, dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa:

              • Limbah Produksi Pabrik Gula SangatBesar Dan Belum Dimanfaatkan Dengan Maksimal.
              • Salah Satu Cara Pemanfaatannya Adalah Dengan Mengubah Limbah Menjadi Bahan Organik (Pupuk Organik)
              • Peluang Pasar Pupuk Organik Sangatlah Besar dan apabila ditangani dengan baik maka potensi atau peluang bisnis di bidang ini sangatlah besar.

              sumber : Primasale Organik

              Buat Kompos Organik

              Wednesday, September 14, 2011

              komposDari oleh-oleh melihat Indonesia City Expo 2009 di Bandar Serai Pekanbaru, ada info menarik  membuat pupuk organik sendiri.  Setelah sebelumnya saya buat ulasan tentang mengelola sampah untuk dijadikan sahabat, kali ini masih ada kaitannya dengan benang merah adalah menggunakan bahan organik atau bahan yang berasal dari tumbuhan. Apalagi adanya lifestyle untuk memelihara tanaman hias yang berkualitas, tentunya membutuhkan media yang juga sehat dan bermanfaat. Dan ternyata, kita bisa membuatnya.

              Bahan organik yang bisa dimanfaatkan misalnya kotoran hewan (sapi, kambing, ayam, dll),  limbah pertanian (jerami, daun tebangan pohon, dll), juga sampah rumah tangga yang berasal dari bahan organik (sisa sayur-sayuran, rumput di pekarangan, ranting dan daun bunga halaman, dll). Nantinya, pupuk organik ini bisa digunakan sebagai penyubur tanaman, baik tanaman hias dan halaman/pekarangan ataupun dalam skala besar untuk tanaman pertanian.

              Kelebihan penggunaan pupuk organik ini walau kadar unsur haranya tidaklah sebanyak dan selengkap pupuk buatan, namun mempunyai kekuatan alami, antara lain :

              • Memudahkan penyerapan air atau air hujan
              • Memperbaiki kemampuan tanah dalam mengikat air dan tanah tidak cepat kering
              • Mengurangi erosi
              • Memberikan lingkungan yang baik untuk tumbuh awal kecambah biji dan akar tanaman
              • Selain itu, hal ini bisa dijadikan peluang usaha dalam menambah pendapatan keluarga.

              Untuk pembuatannya kita membutuhkan bahan dasar yaitu bahan organik dan bahan pemicunya dan sudah sangat mudah ditemui dipasaran. Sebagai starter kita membutuhkan produk EM-4 (effective microorganism -4) atau Starbio yaitu yang mengandung bakteri microorganisme yang masih dalam keadaan tidur atau belum aktif. Untuk itu bakteri microorganisme ini perlu kita aktifkan untuk menguraikan bahan organik yang kita siapkan yang akan menjadi pupuk organik dalam waktu yang relatif lebih cepat.

              Cara membuat larutan starternya adalah mencampurkan 1 cc EM-4 atau Starbio dengan 1 liter air dan 1 gram gula. Aduk rata dalam ember. Kemudian disemprotkan ke bahan organik dengan sprayer.

              A. Bokashi bahan jerami :

              • Jerami, dicincang 5-10cm sebanyak 1 ikat
              • Dedak ( 1 bagian)
              • Sekam gabah ( 20 bagian)
              • larutan starter ( EM-4/Starbio, air & gula)
              • Campur jerami, sekam dan dedak secara merata
              1. Siram adonan tersebut dengan larutan starter hingga 50% dulu atau sampai adonan dikepal, air tidak menetes dari adonan dan bila kepalan dilepas adonan akan megar
              2. Adonan digundukkan diatas papan kering setinggi 15-20 cm dari tanah dan ditutupi karung goni selama 3-4 hari.
              3. Pertahankan suhu adonan 40-50*C, boak-baik adonan setiap 5 jam sekali kemudian tutup kembali.
              4. Setelah 4 hari, adonan akan terfermentasi

              Bahan pupuk bokashi dapat menggunakan bahan organik lain dengan cara diatas.

              B. Bokashi Instan :

              Bila dengan waktu pembuatan 3-4 hari dirasa kurang cepat, bisa juga dibuat bokashi instan yang siap dalam 24 jam.

              Bahan membuatnya :

              • Jerami kering 10 bagian
              • Bokashi pupuk kandang (yang sudah jadi) 1 bagian
              • Bekatul 0.5 bagian
              • EM-4 / Starbio 20 cc
              • Molase 20 cc
              • air 10 liter

              Cara membuatnya :

              1. Buat larutan starter dari campuran EM-4 / Starbio, moluse, dan air
              2. Semprot jerami dengan larutan starter, tambahkan bekatul dan bokasi pupuk kandang diatas papan setinggi 20-30 cm dari lantai, aduk rata.
              3. Tutup seluruh permukaan dengan karung goni
              4. Setelah 18 jam diaduk untuk menstabilkan suhu dan ditutup goni kembali.
              5. Proses akan selesai dalam 24 jam dan bokashi ini kaya akan microorganisme yang sangat bermanfaat untuk menyuburkan tanah.

              Rekans, penggunaan bokashi ini bila lebih disebarluaskan, maka kita sudah berperan dalam gerakan ramah lingkungan. Sebagai penyubur tanah ata juga sebagai media tanam. Untuk bidang tanah per meter perseginya, cukup ditaburkan 3-4 genggam bokashi dan lebih banyak untuk tanah yang kurang subur. Selanjutnya tanah dicangkul atau dibajak.

              Sebelum bokashi yang telah bercampur dengan tanah ini digunakan, sebaiknya dibiarkan bercampur selama 5-7 hari barulah bibit ditanam.

              Sumber :

              • Suku Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Jakarta Utara, Teknologi Pembuatan Kompos Organik, 2008

              Fermentasi Dan Cara Membuat Kompos Tape

              Sunday, December 26, 2010

              Apa itu KOMPOS TAPE? Kompos dalam bahasa Jepang disebut BOKASHI (kompos yg dibuat dari berbagai bahan organik dengan cara fermentasi). Apa itu fermentasi? Sama seperti nenek moyang kita membuat tape.

              Kompos Tape adalah : Fermentasi bahan organik dengan bantuan microorganism yg efektif. Contoh cara membuat 5 kg Kompos Tape :
              - 100 ml molasse (tetes tebu)
              - 100 ml Biotoileto
              - 3 lt air ( 1,5 lt air hangat, 1,5 lt air dingin )
              - 5 kg dedak/bekatul

               

               

              Instruksi pembuatan kompos tape :
              1. Campurkan tetes tebu (molasse) dengan air hangat ( 60 - 80Âș C),aduk merata hingga dingin
              atau hangat-hangat kuku ( ± 40Âș C )
              2. Campurkan biotoleto dengan 1,5 lt air dingin
              3. Campurkan ke 2 laruratan ( molasse & biotoleto ) dgn dedak, aduk hingga merata seperti
              membuat adonan kue.
              4. Buat bulatan bulatan sebesar bola tenis, usahakan saat membuat bulatan sudah tdk ada air
              yang menetes saat kita meremas ( kadar air 35 %- 45 % ).
              Masukkan bulatan -bulatan tadi ke dalam plastik atau ember.Tutup wadah dengan kain.
              Diamkan selama 2 minggu.
              5. Ketika proses fermentasi berjalan baik,maka akan terlihat lapisan putih/krem muda ( ragi
              mould terlihat agak gelap/ kehitam-hitaman ), berarti proses fermentasi terlalu banyak kena
              udara / aerobic.
              6. Kompos Tape ini dapat disimpan sampai 1 tahun

              KEGUNAAN :
              - untuk semua jenis tanaman,
              - untuk mempercepat pengomposan,
              - untuk campuran pakan ternak, dan pakan ikan.

              Kompos Tape 100 % Organik, Aman dan Ramah Lingkungan
              Produksi oleh : FKR Indonesia

              Bertani secara Organik dengan EM4

              I

              nti dari arti pertanian organik adalah budidaya tanaman pangan yang tidak memakai pupuk
              ataupun racun hama yang berbahan kimia sintetik. Oleh karena itu, kita sbg petani hrs mampu
              membuat pupuk organik dan teknik pengendalian hama sendiri secara organik. Berikut ini saya
              tuliskan :

              1. Membuat Pupuk Effective Microorganisme atau EM

              Pupuk EM adalah pupuk organik yang dibuat melalui proses fermentasi menggunakan bakteri

              (microorganisme). Sampah organik dengan proses EM dapat menjadi pupuk organik yang

              bermanfaat meningkatkan kualitas tanah.
              Beriikut langkah-langkah pembuatan pupuk menggunakan EM :
              Pembuatan bakteri penghancur (EM).
              Bahan-bahan :
              Susu sapi atau susu kambing murni. Isi usus (ayam/kambing), yang dibutuhkan adalah bakteri di

              dalam usus. Seperempat kilogram terasi (terbuat dari kepala/kulit udang, kepala ikan) + 1 kg
              Gula pasir (perasan tebu) + 1 kg bekatul + 1 buah nanas + 10 liter air bersih.
              Alat-alat yang diperlukan :

              Panci, kompor dan blender/parutan untuk menghaluskan nanas.

              Cara pembuatan :

              Trasi, gula pasir, bekatul, nanas (yang dihaluskan dengan blender) dimasak agar bakteri lain
              yang tidak diperlukan mati. Setelah mendidih, hasil adonannya didinginkan.
              Tambahkan susu, isi usus ayam atau kambing. Ditutup rapat. Setelah 12 jam timbul gelembung-
              gelembung. Bila sudah siap jadi akan menjadi kental/lengket. Diamkan selama total 4 minggu
              sampe bahan benar-benar sebagian besar menjadi cair

              *Perlu diperhatikan susu jangan yang sudah basi karena kemampuan bakteri sudah berkurang.

              Sedangkan kegunaan nanas adalah untuk menghilangkan bau hasil proses bakteri.

              2. Membuat Pestisida Alami

              Pestisida adalah zat pengendali hama (seperti: ulat, wereng dan kepik). Pestisida Organik:
              adalah pengendali hama yang dibuat dengan memanfaatkan zat racun alami dari "gadung dan
              tembakau". Karena bahan-bahan ini mudah didapat oleh petani, maka pestisida organik dapat
              dibuat sendiri oleh petani sehingga menekan biaya produksi dan akrab denga lingkungan.

              Bahan dan Alat:

              2 kg gadung.
              1 kg tembakau.
              2 ons terasi.
              ¼ kg jaringao (dringo).
              4 liter air.
              1 sendok makan minyak kelapa.
              Parutan kelapa.
              Saringan kelapa (kain tipis).
              Ember plastik.
              Nampan plastik.
              Cara Pembuatan:

              Minyak kelapa dioleskan pada kulit tangan dan kaki (sebagai perisai dari getah gadung).
              Gadung dikupas kulitnya dan diparut.
              Tembakau digodok atau dapat juga direndam dengan 3 liter air panas
              Jaringao ditumbuk kemudian direndam dengan ½ liter air panas
              Tembakau, jaringao, dan terasi direndam sendiri-sendiri selama 24 jam. Kemudian dilakukan
              penyaringan satu per satu dan dijadikan satu wadah sehingga hasil perasan ramuan tersebut
              menjadi 5 liter larutan.

              Dosis:
              1 gelas larutan dicampur 5-10 liter air.
              2 gelas larutan dicampur 10-14 liter air.

              Kegunaan:
              Dapat menekan populasi serangan hama dan penyakit.
              Dapat menolak hama dan penyakit.
              Dapat mengundang makanan tambahan musuh alami.

              Sasaran: Wereng batang coklat, Lembing batu, Ulat grayak, ulat hama putih palsu.

              Catatan: Meskipun ramuan ini lebih akrab lingkungan, penggunaannya harus memperhatikan
              batas ambang populasi hama. Ramuan ini hanya digunakan setelah polulasi hama berada atau
              di atas ambang kendali. Penggunaan di bawah batas ambang dan berlebihan dikhawatirkan akan
              mematikan musuh alami hama yang bersangkutan.

              Membuat Pupuk Hijau

              Pupuk Hijau: adalah pupuk organik yang terbuat dari sisa tanaman atau sampah yang diproses

              dengan bantuan bakteri.

              Bahan dan Komposisi:

              200 kg hijau daun atau sampah dapur.
              10 kg dedak halus.
              ¼ kg gula pasir/gula merah.
              ¼ liter bakteri (bisa dgn EM4).
              200 liter air atau secukupnya.
              Cara Pembuatan:

              Hijau daun atau sampah dapur dicacah dan dibasahi. Campurkan dedak halus atau bekatul
              dengan hijau daun. Cairkan gula pasir atau gula merah dengan air.
              Masukkan bakteri ke dalam air. Campurkan dengan cairan gula pasir atau gula merah. Aduk
              hingga rata. Cairan bakteri dan gula disiramkan pada campuran hijau daun/sampah+bekatul.
              Aduk sampai rata, kemudian digundukkan/ditumpuk hingga ketinggian 15-20 cm dan ditutup
              rapat. Dalam waktu 3-4 hari pupuk hijau sudah jadi dan siap digunakan.

              Membuat Kompos

              Seorang teman, CB, bilang kepadaku, "Mbok ya diterangkan bagaimana cara membuat kompos ala kamu, gitu. Agar semua orang percaya kamu itu memang enggak cuman cuap-cuap doang!". Aku pikir, ada baiknya juga. Berikut adalah langkah sederhana membuat kompos yang sangat tidak memerlukan daya yang besar. Sungguh!
              1. Siapkan Reaktor Kompos (Komposter)
              Ketika aku pindah ke Cimahi sebulan yang lalu, reaktor yang telah kubuat setahun yang lalu kubawa serta. Reaktor ini adalah wadah yang terabut dari PVC, drum berukuran kira-kira 1 m-kubik. Walaupun reaktor komposku terbuat dari drum PVC (seperti yang terlihat pada Gambar di atas), sebenarnya reaktor ini bisa dibuat dari apa saja. hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah, reaktor ini harus memiliki sistem ventilasi yang bagus. Reaksi pengkomposan adalah memang jenis reaksi yang memerlukan udara. Jika reaktor ini tidak memiliki sistem ventilasi yang baik, proses pembusukan yang terjadi juga akan menghasilkan bau busuk akibat dari pembentukan amoniak dan H2S.
              2. Persiapan Bahan Organik
              Siapkan bahan (atau sampah) organik yang akan dikomposkan. Sampah organik yang disiapkan bisa berasal apa saja, misalnya dari sisa sayuran, nasi, atau potongan-potongan tanaman dari kebun. Agar kompos tidak berbau, hindari memasukkan daging, tulang dan minyak. Sebelum dimasukkan ke dalam reaktor kompos, bahan-bahan tadi sebaiknya dipotogn kecil-kecil agar proses dekomposisinya menjadi lebih cepat dan lebih sempurna.

              Proses pembusukan atau dekomposisi memerlukan bakteri pengurai. Jadi, alangkah baiknya jika bahan-bahan tadi dicampur terlebih dahulu dengan sumber bakteri pengurai sebelum dimasukkan ke dalam reaktor kompos. Sumber bakteri pengurai yang paling mudah didapat adalah pupuk kandang (kotoran ternak). Bakteri pengurai yang dapat digunakan untuk membantu proses pengomposan juga dijual di toko-toko penjual pupuk. Salah satunya adalah EM4 (Effective Microorganism 4) yang aku beli di Cihideung seharga Rp. 15000,- sebotol berukuran 1 liter.
              3. Siram dan Aduk
              Agar proses pengomposan berjalan dengan sempurna, media harus mengandung kira-kira 50% air. Jadi jangan lupa untuk selalu menyiram media kompos ini setiap hari dengan air secukupnya. Bila perlu, bolak-balik media kompos setiap hari agar proses aerasi berjalan sempurna. Selama proses pengomposan, sering kali lalat menjadi masalah yang menjengkelkan. Oleh sebab itu, kuusahakan agar setiap lubang di reaktor komposku kututup dengan kawat kasa. Bila bau tak sedap keluar, tambahkan air dan EM4, dan bau segera menghilang. Jika proses ini berjalan dengan baik, setelah 5 hari volume sampah yang dimasukkan akan menyusut kira-kira menjadi hanya 25% dari volume awalnya. Jadi untuk skala rumah tangga, reaktor kompos berukuran 1 m-kubik sudah lebih dari cukup.
              4. Panen
              Kompos siap dipanen setelah diproses kira-kira 2-3 minggu, bergantung pada tahap pemrosesnya. Pada reaktor komposku, sengaja kubuat sebuah sistem sederhana sehingga proses pemanenan kompos dilakukan dari dasar reaktor. Kompos yang diperoleh adalah lumpur hitam yang mengandung air kira-kira 50%. Sehingga, untuk mendapatkan kompos kering, lumpur tadi harus dijemur. Biasanya, lumpur yang kuperoleh langsung kupakai sebagai media tanaman di kebunku. Jadi tidak perlu dijemur dahulu.
              Mudah, kan? Sederhana dan jauh lebih sehat. Sejak setahun yang lalu, aku tidak pernah lagi membuang sampah organik. Sampah organik yang kuhasilkan, kupakai sendiri.
              Moga-moga CB puas! :-) sumber : sampahbandung

              Membuat Pupuk Bokasi

              Bokashi adalah suatu kata dalam bahasa Jepang yang berarti “bahan organik yang telah difermentasikan”.  Bokashi adalah hasil fermentasi bahan-bahan organik seperti sekam, serbuk gergajian, jerami, kotoran hewan dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut difermentasikan dengan bantuan mikroorganisme aktivator yang mempercepat proses fermentasi. Campuran mikroorganisme yang digunakan untuk mempercepat fermentasi dikenal sebagai effective microorganism (EM). Penggunaan EM tidak hanya mempercepat proses fermentasi tetapi juga menekan bau yang biasanya muncul pada proses penguraian bahan organik.

              Di Jepang, bokashi telah digunakan sejak tahun 80-an. Banyak petani di negeri sakura memilih bokashi untuk lahan pertaniannya dikarenakan bokashi dapat memperbaiki struktur tanah yang sebagian besar telah menjadi keras akibat penggunaan pupuk kimia terus-menerus. Selain itu bokashi juga terbukti meningkatkan kesuburan serta produktifitas tanaman meski efek ini baru dapat dirasakan setelah bertahun-tahun penggunaan. Hal tersebut sangat wajar karena pupuk alami semacam bokashi biasanya memang mengandung unsur hara dalam dosis kecil, namun lengkap unsur makro dan mikronya.

              A.Pupuk Bokashi

              1. Bokashi Padat

              Bahan:
              - Hijauan daun 200 kg (hijauan daun, sisa sayuran, jerami, sekam, dll)
              - Pupuk kandang 750 kg (kotoran kambing, ayam, sapi, dll)
              - Dedak/bekatul 50 kg
              - EM-4 1 liter
              - Larutan gula pasir, 1 kg per 10 liter air
              - Air secukupnya

              Tahapan Pembuatan:
              1. Potong sampah basah (3-5 cm), kecuali jika menggunakan sekam
              2. Campurkan Sampah basah – pupuk kandang – dedak/bekatul, hingga rata
              3. Larutkan EM-4 + Air gula ke dalam 200 liter air.
              4. Siramkan larutan secara perlahan secara merata ke dalam campuran sampah basah-kotoran-dedak. Lakukan hingga kandungan air di adonan mencapai 30 – 40 %. Tandanya, bila campuran dikepal, air tidak keluar dan bila kepalan dibuka, adonan tidak buyar.
              5. Hamparkan adonan di atas lantai kering dengan ketebalan 15 – 20 cm, lalu tutup dengan karung goni atau terpal selama 5 – 7 hari.
              6. Agar suhu adonan tidak terlalu panas akibat fermentasi yang terjadi, adonan diaduk setiap hari hingga suhu dapat dipertahankan pada kisaran 45 – 50 derajad Celsius.
              7. Setelah satu minggu, pupuk bokashi siap digunakan.

              Aplikasi:
              Untuk tanaman tahunan semisal karet, coklat, dan lainnya, gunakan bokashi padat sebagai pupuk dasar. Dua kilogram bokashi diaduk dengan tanah lalu dibenamkan di lubang tanam.

              Syam Asinar Radjam : (http://dusunlaman.net/?p=143)

              2. Bokashi Cair

              a) Bahan:
              - Pupuk kandang 30 kg (kotoran kambing, ayam, sapi, dll)
              - Hijauan daun (secukupnya)
              - EM-4 1 liter
              - Gula pasir 1 kg
              - Terasi 1 kg
              - Air bersih 200 liter
              - Dapat pula ditambah 2 kg pupuk NPK untuk memperkaya nutrisi

              Tahapan Pembuatan:
              1. Pupuk kandang dihaluskan
              2. Gula pasir – Terasi – EM-4 – NPK dilarutkan dalam air
              3. Campuran pupuk kandang dan larutan gula dimasukkan ke dalam drum plastik kemudian ditambahkan air bersih hingga volumenya mencapai 200 liter.
              4. Drum ditutup rapat. Setiap hari dibuka dan diaduk selama 15 menit.
              5. Bokashi cair akan siap digunakan setelah 5 – 7 hari.

              Aplikasi:
              1 liter bokashi dicampur dengan 9 liter air bersih. Selanjutnya, siramkan pada tanah di sekitar tanaman atau disemprotkan pada daun sebanyak 0,25 – 1 liter tergantung jenis tumbuhan.

              b) cari, wadah kosong drum pertamina yang besar ukuran 200 liter, pastikan tidak bolong bawahnya. siapkan bahan-bahannya : air, pupuk kandang, gula, EM4

              isi drum dengan air hingga setengahnya. buatkan molase, yaitu campuran gula 250 g dilarutkan dalam air 1 liter. tuangkan ke dalam drum molase tadi beserta EM4 1 liter. masukan ke dalam drum pupuk kandang 30 kg. aduk sampai tercampur. isi drum dengan air lagi hingga hampir penuh, aduk terus hingga merata lalu tutup rapat. setiap pagi akan muncul busa gelembung udara hasil proses fermentasi, aduk terus 4 s/d 5 kali, lalu tutup lagi. lakukan hingga hari ke 5, bokashi siap digunakan  (Oleh: Beben)

              3. Bokashi Pupuk Kandang

              3.a. Bahan :

              Pupuk kandang 800 kg

              Dedak 50 kg

              Sekam 150 kg

              Gula 1/4 atau Molase 1/2 liter

              EM-4 1 liter

              Air secukupnya (kadar air 30 – 40 %)

              Cara Pembuatan :

              Larutkan EM-4 dan gula ke dalam air.

              2. Pupuk kandang, sekam dan dedak dicampur secara merata.

              Siramkan larutan EM-4 secara perlahan-lahan ke dalam adonan secara merata, sampai kandungan air adonan mencapai 30%. Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak keluar dari adonan, dan bila kepalan dilepas maka adonan akan segar.

              Adonan digundukkan di atas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 cm, kemudian ditutup dengan karung gono selama 3-5 hari.

              Pertahankan suhu gundukan adonan 40-50 oC, bukalah karung goni. Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan bokashi menjadi rusak karena terjadi proses pembusukkan. Pengecekan suhu dilakukan setiap 5 jam.

              Setelah 4 hari, BOKASHI telah selesai terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.

              3.b. Bahan:

              a. pupuk kandang 15 kg

              b. sekam sebanyak 10 kg dan dedak 0,5 kg.

              c. molase/gula 2 sendok makan (10 ml).

              d. EM4 2 sendok makan (10 ml).

              4. Bokashi Jerami

              4. a) Bahan :
              1. Jerami, dipotong sepanjang 5-10 cm (20 bagian)
              2. Dedak (1 bagian)
              3. Sekam (20 bagian)
              4. Gula pasir (5 sendok makan)
              5. EM4 (5 semdok makan)
              6. Air (20 liter)

              Cara pembuatan :
              1. Larutkan EM4 dan gula kedalam air
              2. Campur jerami, sekam dan dedak sampai merata
              3. Siram adonan dengan larutan EM 4 sampai kandungan air adonan mencapai 50 % atau bila adonan dikepal air tidak menetes dari adonan, dan bila kepalan dilepas adonan akan megar.
              4. Adonan digundukkan di atas ubin kering dengan ketinggian 15-20 cm kemudian ditutup dengan karung goni selama 3-4 hari.
              5. Suhu adonan dicek setiap 5 jam sekali. Pertahankan suhu adonan 40-50 o C, bila suhu lebih dari 50 o C karung penutup dibuka lalu adonan dibolak-balik kemudian kembali ditutup.
              6. Setelah 4 hari bokashi selesai terfermentasi dan dapat digunakan sebagai pupuk.

              Bokashi dapat disebar merata di atas permukaan tanah dengan dosis 3-4 genggam /meter persegi. Pada tanah yang kurang subur dapat diberikan lebih banyak. Kemudian tanah dicangkul atau dibajak, untk mencampurkan bokashi. Pada tanag sawah pemberian bokahi dilakukan pada saat pembajakan dan setelah tanaman berumur 14 hari dan 1 bulan. Setelah bokashi disebar, semprotkan 2 cc EM4/Liter air ke dalam tanah. Seminggu kemudian bibit siap ditanam.
              Untuk tanaman buah-buahan, bokashi disebar merata di permukaan tanah/perakaran tanaman. Penyiraman dengan EM 4 (2 cc EM4/Liter ) dilakukan tiap 2 minggu sekali

              4. b) Bahan:

              1. jerami 10 kg (bisa juga rumput/tanaman kacangan) (ukuran 5-10 cm).

              2. dedak 0,5 kg dan sekam 10 kg.

              3. EM4  2 sendok makan (10 ml).

              4. Molase atau gula 2 sendok makan (10 g) dan air secukupnya.

              Cara pembuatan

              1. dibuat larutan dari EM4, molase/gula dan air dengan perbandingan 1 ml: 1 g: 1 liter air. Inkubasikan selama 48 jam.
              2. bahan jerami, sekam dan dedak dicampur merata di atas lantai yang kering.
              3. bahan disiram larutan EM4 secara perlahan dan bertahap sehingga terbentuk adonan.
              4. adonan selanjutnya dibuat menjadi sebuah gundukan setinggi 15-20 cm, kemudian ditutup dengan karung goni selama 3-4 hari.
              5. setelah 4 hari karung goni dapat dibuka.
              6. bokashi yang sudah jadi sebaiknya langsung digunakan.

              Bokashi jerami sangat baik untuk melanjutkan proses pelapukan mulsa dan bahan organik lainnya di lahan pertanian. Bokashi jerami juga sesuai untuk diaplikasikan di lahan sawah.

              5. Bokashi Pupuk Kandang plus Arang

              Bahan:

              1. pupuk kandang 10 kg, dedak 0,5 kg, arang sekam/arang serbuk gergaji 5 kg.
              2. molase/gula 10 ml (2 sendok makan)
              3. EM4 sebanyak 2 sendok makan (10 ml)  dan  air secukupnya.

              Cara pembuatan: sama dengan 4.b.

              6. Bokashi Pupuk Kandang Plus Tanah

              Bahan:

              1. pupuk kandang sebanyak 5 kg dan tanah 10 kg
              2. arang sekam/arang serbuk gergaji 5 kg dan dedak halus 5 kg.
              3. molase/gula 10 ml
              4. EM4 2 sendok makan (10 ml)

              Cara pembuatan: sama dengan 4.b.

              Penggunaan: baik untuk pembibitan tanaman. Dalam hal ini bokashi pupuk kandang cukup dicampur dengan tanah= 1:1.

              7. Bokashi Ekspress (24 jam)

              Bahan:

              1. jerami kering, daun kering, serbuk gergaji dan bahan lainnya 10 kg.
              2. pupuk kandang 5 kg dan dedak 1 kg
              3. molase/gula sebanyak 2 sendok makan (10 ml)
              4. EM4 2 sendok makan (10 ml)

              Cara pembuatan:

              Cara pembuatan sama dengan 4. b., hanya bahan-bahan yang difermentasikan dicampur dengan bokashi yang sudah jadi dan dedak secara merata.

              Cara penggunaan: a) untuk lahan tegalan dan sawah 3-4 genggam bokashi/m2; b) tanaman buah-buahan bokashi disebar di permukaan tanah atau di sekitar daerah perakaran. Selanjutnya larutan EM4 disiramkan dengan dosis 2 ml/l air aetiap 2 minggu; c) untuk pembibitan: lahan yang akan dijadikan tempat pembibitan disiram dengan larutan EM4 dengan dosis 2 ml/1 l air. Selanjutnya lahan dibiarkan selama satu minggu sebelum lahan siap untuk digunakan.

              B. Pestisida Bokashi

              1) EM5 dan Super EM5

              Bahan :

              a)      Molase / tetes atau gula 100 ml/0.5 ons, EM-4 100 ml, cuka makan / cuka aren 5% 100 ml, alkohol (40%) 100 ml.

              b)      B) EM4 100 ml dan air i liter (khusus pembuatan super EM5 tidak digunakan air.

              Cara membuat :

              Semua bahan dicampur dan dimasukkan ke dalam botol / jirigen yang ada tutupnya. DIkocok setiap pagi dan sore hari. Buka tutup botol / jirigen untuk membebaskan gas yang terbentuk selama proses fermentasi berlangsung. Kurang lebih 15 hari pengocokan dihentikan (setelah tidak ada gas yang terbentuk), biarkan lagi selama 7 hari.

              Dosis :

              1. EM5: 10-50 ml/l air + 10-50 ml molase
              2. Super EM5: 5ml/liter air + 5 ml molase.

              Larutan EM5 sebaiknya disemprotkan pada sore hari menjelang matahari terbenam. Paling lama digunakan tiga bulan.

              Khasiatnya :

              Untuk menekan serangan hama dan penyakit pada tanaman pertanian.

              2) EMRAS

              Bahan:

                          1 liter air beras, molase/gula 10 ml dan EM4 10 ml.

              Cara pembuatan

                          Semua bahan dicampurkan dan selanjutnya dibiarkan selama dua hari. Setelah itu EMRAS dapat diaplikasikan. Namun EMRAS harus sudah habis diaplikasikan pada hari ketiga (satu hari setelah proses pembuatan selesai). Selain sebagai pestisida, EMRAS juga dapat digunakan sebagai pupuk. Dosis pemakaian: 5 ml/l air.

              (Dikompilasi dari berbagai sumber oleh: Urip Santoso