Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in
Showing posts with label Enzim. Show all posts
Showing posts with label Enzim. Show all posts

Membuat Bakteri Cair

Friday, November 18, 2011

Peralatan dan Bahan :

  1. 250 g tempe;
  2. 500 g tape ;
  3. 1,5 liter air tebu;
  4. 2 sdm yoghurt;
  5. 15 liter (3/4 gallon) air mineral/sumur
  6. botol galon atau botol-botol bekas, jerigen;
  7. termometer;
  8. karet dan plastik

Cara Membuat :

Campur tempe, tape dan yoghurt dalam satu tempat, masukkan ke dalam botol galon yang berisi air mineral/sumur, kemudian masukkan air tebu ke dalam botol galon, kocok dan tutup dengan menggunakan plastik dan karet.

Perbanyak bakteri jadi ke dalam wadah yang lain agar efisien di pembiayaan, caranya seperti pembuatan awal, siapkan botol yang sudah diisi air gula dan air sumur kemudian tambahkan bakteri cair yang sudah jadi sebanyak kira-kira 100 cc aduk hingga rata diamkan secara terkontrol selama 4 hari begitu secara terus menerus dilakukan sehingga tidak ada pembelian baru dari produk lain.

Kontrol setiap hari dengan    membuka plastiknya sejenak agar gas di dalam keluar, pembauan, dan tes dengan kertas lakmus. Kemudian tutup kembali galon tersebut, bakteri akan berkembang baik dengan kisaran 4 sampai 7 hari.

Catatan :

Di dalam pengelolaan sampah organik , untuk menjaga kelembaban sering membutuhkan penyiraman. Maka untuk meningkatkan kualitas dan jumlah bakteri dalam pengkomposan ketika dilakukan penyiraman dapat menggunakan bakteri cair yang sudah dicampur dengan air biasa, sehingga dalam pengomposan selalu terjaga ketersediaan bakteri menguntungkan.

Bakteri cair ini dapat menjadi asupan jika kita melakukan pembuatan bakteri padat, seperti dijelaskan pada keterangan halaman selanjutnya. Manfaat lain dari bakteri ini adalah menghilangkan bau dan menguraikan padatan pada saluran pembuangan, misalnya yang ditimbulkan oleh detergen serta kotoran manusia dalam septic tank sehingga aliran air menjadi lebih lancar. Selain itu bakteri cair juga bisa berfungsi sebagai pupuk dan pestisida organik.

sumber : Pusdakota

Bakteri Pemacu Pertumbuhan PGPR

Saturday, November 12, 2011

bakteri

bakteri

Bakteri Pemacu Pertumbuhan tanaman adalah bakteri yang terdapat dalam PGPR. lalu apakah yang dimaksud PGPR itu ?. PGPR (Plant growth-promoting rhizobacteria) adalah bakteri pemacu pertumbuhan tanaman.

Bakteri yang terdapat dalam PGPR adalah sejenis bakteri yang biasa hidup di akar tanaman. Mikroorganisme ini hidup berkoloni di sekitar akar tanaman dan membantu memacu pertumbuhan tanaman.

Setelah membaca wikipedia, PGPR ini pertama kali diteliti oleh Kloepper dan Schroth tahun 1978. Mereka menemukan bahwa keberadaan bakteri yang hidup di sekitar akar ini mampu memacu pertumbuhan tanaman jika diaplikasikan pada bibit/benih. Tidak hanya itu, tanaman nantinya akan beradaptasi terhadap hama dan penyakit.

Bagaimana bakteri PGPR dapt memacu pertumbuhan?
Bakteri PGPR mampu mengikat nitrogen bebas dari alam atau istilahnya fikasi nitrogen bebas. Nitrogen bebas diubah menjadi amonia kemudian disalurkan ke tanaman. Bakteri akar ini juga mampu menyediakan beragam mineral yang dibutuhkan tanaman seperti besi, fosfor, atau belerang. PGPR juga memacu peningkatan hormon tanaman. Peningkatan hormon tanaman inilah yang secara langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

Cara Membuat PGPR
Biang PGPR
Biang PGPR dibuat dari akar bambu sekira 250 gram yang direndam dalam air selama tiga tiga malam.

Bahan:
20 liter air
1/2 kg dedak/bekatul
Terasi
1 sdm air kapur sirih

Cara membuat:
Campur semua bahan, kemudian didihkan.
Setelah dingin, campurkan 1 liter “biang PGPR”. Tutup rapat. Diamkan satu hingga dua mingggu.

PGPR kelapa
Selain cara di atas, biang PGPR juga dapat dikembangkan menggunakan air kelapa segar ditambah gula merah (tetes tebu lebih baik) dan kemudian difermentasi selama seminggu.

Aplikasi PGPR
PGPR dan PGPR kelapa yang telah jadi dapat diaplikasikan ke tanah sekitar tanaman dengan perbandingan; 200 cc PGPR untuk 14 Liter air.
Benih yang direndam PGPR dapat merangsang pertumbuhan akar.

Catatan:
Bakteri PGPR adalah bakteri tanah yang masa hidupnya tidak panjang. Karena itu perlu mengembalikan populasinya setiap akan menebar benih.

sumber : CaraBudidaya

KULIT PISANG, TAK SEKEDAR SAMPAH

Wednesday, September 14, 2011

Perkembangan industri di Indonesia sangat pesat, dari indutri rumah tangga sampai industri berskala internasional. Sebuah aktivitas industri sudah dipastikam menghasilkan produk dan hasil sampingan yang berupa limbah. Sebagai contoh industri kripik pisang, tepung pisang, sale pisang atau indusrti yang berbahan dasar pisang menghasilkan limbah utama yang berupa kulit pisang. Limbah tersebut akan menjadi sampah jika dibiarkan begitu saja tanpa pengolahan yang baik, sehingga dampaknya bagi lingkungan amatlah buruk. Pengolahan limbah yang baik akan berdaya guna tinggi baik secara finansial ataupun manfaat.
Kulit pisang yang selama ini dianggap sebagai sampah dan berbau, mendatangkan lalat dan akan membuat terpeleset jika membuangnya sembarangan, ternyata banyak mengandung unsur kimia atau senyawa yang bermanfaat. Senyawa yang terkandung di dalam kulit pisang diantaranya adalah lignoselulosa, karbohidrat, fosfor, sodium, magnesium, sulfur dan lain-lain.

Penghasil Enzim Xylanase
Kulit pisang yang dijadikan media fermentasi mikroorganisme Bacillus akan menghasilkan enzim xylanase. Hal tersebut dikarenakan didalam kulit pisang mengandung substrat yang berupa xilan (silan). Untuk menghasilkan pertumbuhan dan memberikan aktivitas yang baik maka perbandingan C/N pada media adalah 8:1 dan penambahan molasses atau larutan gula. Agar enzim yang dihasilkan tahan lama maka langkah yang tepat adalah diletakan pada suhu kamar dan dalam bentuk tepung. Enzim xylanase mempunyai banyak manfaat diantaranya adalah sebagai pengganti chlorin pada industri kertas, deinking atau fungsi pelepasan tinta pada proses pengolahan daur ulang kertas, pengganti lemak pada makanan, pengolahan onggok tapioka untuk makanan ternak dan kontrol release tablet untuk industri farmasi. Xylanase juga dapat dimanfaatkan untuk menurunkan polutan industri selain exolite. Hasil penelitian menunjukkan bahwa xylanase lebih ampuh jika dibandingkan dengan exolite. Namun saat ini xylanase baru dimafaatkan untuk industri pulp dan kertas, itupun masih terbatas. Padahal pemanfaatan kulit pisang sebagai penghasil xylanase merupakan langkah jitu dan bernilai jual tinggi.

Pupuk Organik
Selain sebagai penghasil enzim xylanase, kulit pisang juga merupakan bahan organik yang mengandung unsur kimia seperti magnesium, sodium, fosfor, sulfur yang dapat dimanfaatkan sebagi pupuk organik. Pembuatan pupuk organik dengan bahan kulit pisang dapat dalam bentuk padat atau cair.
1. Bentuk padat
Pembuatan pupuk organik dengan bahan kulit pisang dalam bentuk padat adalah sebagai berikut:
• Kulit pisang dipotong-potong atau dicacah dan dibasahi
• Kulit pisang yang telah dipotong-potong atau dicacah dicampurkan dengan bekatul atau dedak. Perbandingan campuran kulit pisang dan dedak atau bekatul adalah 20 : 1.
• ¼ kg gula pasir dicairkan dengan air sebanyak satu liter, kemudian kedalam larutan gula tersebut dimasukkan ¼ liter bakteri dan diaduk hingga rata.
• Larutan campuran gula + bakteri disiramkan ke campuran kulit pisang dan dedak atau bekatul, aduk hingga rata kemudian digundukkan atau ditumpuk hingga ketinggian 15-20 cm dan di tutup rapat.
• Dalam waktu 4-7 hari pupuk organik berbahan kulit pisang sudah siap digunakan.
2. Bentuk cair
Pembuatan pupuk organik dengan bahan kulit pisang dalam bentuk cair adalah sebagai berikut:
• Kulit pisang diblender atau di tumbuk hingga membentuk cairan. Setiap 10 kg kulit pisang dicampur 10 liter air.
• Cairan kulit pisang tersebut dicampur dengan larutan gula dan bakteri. Komposisi bakteri dan larutan gula seperti pada pembuatan pupuk organik dalam bentuk padat.
• Larutan tersebut direndam selama 3-4 hari. Setelah 3-4 hari pupuk organik cair siap digunakan. Setiap 1 liter pupuk organik kulit pisang cair dilarutkan dalam 10 liter air.
Sekarang, sudah tau kan manfaat besar yang terkandung dalam kulit pisang. Alloh adalah pencipta yang Maha Sempurna, hingga semua yang diciptakannya bermanfaat. Cintai lingkungan dan back to nature.