Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Keranjang Takakura

Friday, November 18, 2011

Share this history on :

Dewasa ini pengelolaan sampah mandiri di Surabaya banyak menggunakan keranjang “sakti” Takakura. Keranjang sakti Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik untuk skala rumah tangga. Yang menarik dari keranjang Takakura adalah bentuknya yang praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di rumah. Keranjang ini disebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik.

Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga. Sampah organik setelah dipisahkan dari sampah lainnya, diolah dengan memasukkan sampah organik tersebut ke dalam keranjang sakti Takakura. Bakteri yang terdapat dalam starter kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan. Inilah keunggulan pengomposan dengan keranjang Takakura. Karena itulah keranjang Takakura disukai oleh ibu-ibu rumah tangga.

Keranjang kompos Takakura adalah hasil penelitian dari seorang ahli Mr. Koji TAKAKURA dari Jepang. Mr. Takakura melakukan penelitian di Surabaya untuk mencari sistim pengolahan sampah organik. Selama kurang lebih setahun Mr. Takakura bekererja mengolah sampah dengan membiakkan bakteri tertentu yang “memakan” sampah organik tanpa menimbulkan bau dan tidak menimbulkan cairan. Dalam pelaksanaan penelitiannya, Mr. Takakura mengambil sampah rumah tangga, kemudian sampah dipilah dan dibuat beberapa percobaan untuk menemukan bakteri yang sesuai untuk pengomposan tak berbau dan kering. Jenis bakteri yang deikembang biakkan oleh Takakura inilah yang kemudian dijadikan starter kit bagi keranjang Takakura. Hasil percobaan itu, Mr. Takakura menemukan keranjang yang disebut “Takakura Home Method” yang dilingkungan masyarakat lebih dikenal dengan nama keranjang sakti Takakura.

Selain Sistim Takakura Home Method, Mr. Takakura juga menemukan bentuk-bentuk lain ada yang berbentuk “Takakura Susun Method”, atau modifikasi yang berbentuk tas atau kontainer. Penelitian lain yang dilakukan Takakura adalah pengolahan sampah pasar menjadi kompos. Akan tetapi Takakura Home Method adalah sistim pengomposan yang paling dikenal dan disukai masyarakat karena kepraktisannya.

Mr. Takakura, melakukan penelitian di Surabaya sebagai bagian dari kerjasama antara Kota Surabaya dan Kota Kitakyushu di Jepang. Kerjasama antar kedua kota difokuskan pada pengelolaan lingkungan hidup. Kota Kitakyushu terkenal sebagai kota yang sangat berhasil dalam pengelolaan lingkungan hidup. Keberhasilan kota Kitakyushu sudah diakui secara internasional. Karena keberhasilan kota Kitakyushu itulah kota Surabaya melakukan kerjasama pengelolaan lingkungan hidup. Bentuk kerjasama berupa pemberian bantuan teknis kepada kota Surabaya.

Bantuan teknis yang diberikan Pemerintah Jepang adalah dengan menugaskan sejumlah tenaga ahli untuk melakukan penelitian tentang pengolahan sampah yang paling sesuai dengan kondisi Surabaya. Mr. Takakura adalah salah satu ahli yang ditugaskan itu. Sehari-harinya Mr. Takakura bekerja di perusahaan JPec, anak perusahaan dari J-Power Group. Suatu perusahaan yang sesungguhnya bergerak di bidang pengelolaan energi. Mr. Takakura adalah expert yang mengkhususkan diri dalam riset mencari energi alternatif.

Kerjasama Kitakyushu-Surabaya untuk mengelola sampah dimulai dari tahun 2001 sampai 2006. Takakura menjadi peneliti kompos selama kerjasama tersebut sekaligus sebagai ahli pemberdayaan masyarakat. Selama itu Takakura dan timnya secara berkala datang ke Surabaya untuk melakukan penelitian dan melaksanakan hasil penelitian itu. Kadang-kadang Takakura datang ke Surabaya sampai enam kali dalam setahun. Selama penelitian kompos biasanya bisa mencapai 3 minggu ia harus mengamati perkembangan bakteri kompos. Yang unik dari Mr. Takakura adalah bahwa selama ia berada di Surabaya ia senantiasa memakai baju batik. Padahal dalam keadaan sehari-harinya di Jepang, biasanya Mr. Takakura memakai setelan jas lengkap ke kantor sebagaimana orang Jepang lainnya.

Sumbangsih Mr. Takakura terhadap upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Surabaya sangatlah besar. Keberhasilan itu malah diapresiasi oleh lembaga internasional IGES (Institut for Global Environment and Strategy). Pada bulan Februari 2007, IGES mensponsori studi banding 10 kota dari 10 negara untuk melihat pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Surabaya. Kota-kota itu ingin mencontoh sistem pengomposan yang dikembangkan oleh Surabaya dengan bantuan Takakura Composting System.

Keberhasilan Mr. Takakura menemukan sistim kompos yang praktis tidak saja memberikan sumbangsih bagi teknologi penguraian sampah organik, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pengelolaan sampah berbasis komunitas. Mr. Takakura jauh-jauh datang dari Jepang meneliti dan melakukan pengomposan di Surabaya. Kalau seseorang yang datang dari jauh, yang tadinya “saudara bukan, teman juga tidak” begitu peduli mengurangi sampah Surabaya. Apakah warga Surabaya sendiri tidak lebih peduli dengan sampahnya. Prinsip inilah yang terus dikembangkan di Surabaya. Dengan didukung oleh sejumlah tenaga sukarela (volunteer) termasuk MTV Surabaya, maka pengurangan sampah organik di sumbernya, kini sangat membanggakan Surabaya. (Togarsilaban)

Keranjang TAKAKURA adalah sebuah media komposter sederhana yang dapat digunakan untuk skala rumah tangga (skala kecil), cara pembuatan keranjang yang mudah dan murah serta tidak memerlukan tempat yang luas menjadi salah satu kelebihan komposter ini.

Berikut ini adalah cara pembuatan Keranjang Takakura paling sederhana.

Alat dan bahan :

  1. Kerangjang plastik berlubang ukuran 50 liter (dengan penutupnya)
  2. Kardus bekas
  3. Sekam secukupnya, masukkan dalam kain yang mudah menyerap air (atau jaring plastik) kemudian jahit menyerupai bantal, buat 2 bantal sekam.
  4. Kain bekas sukuran penutup keranjang (usahakan lebih)
  5. Kompos yang sudah jadi, kira-kira 8 Kg
  6. Isolasi dan tali secukupnya untuk merekatkan kardus pada keranjang

takakura 1

    Cara Pembuatan:

    1. Lapisi bagian dalam keranjang dengan kardus secara menyeluruh 
    2. Letakkan bantal sekam pada dasar keranjang yang berfungsi sebagai penyerap air
    3. Masukkan 4 kg kompos secara merata dengan ketebalan kurang lebih 5 cm.
    4. Campurkan bahan-bahan yang akan dijadikan kompos (sampah organik rumahtangga) dengan 2 Kg kompos jadi, masukkan dalam keranjang.
    5. Masukkan bahan-bahan kompos kedalam keranjang
    6. Taburkan sisa kompos jadi diatas bahan kompos.
    7. Tutup dengan bantal sekam
    8. Tutup dengan kain
    9. Tutup keranjang dengan rapat

    Kompos jadi berfungsi sebagai starter karena mengandung mikroorganisme pengurai yang merubah sampah menjadi kompos. Jika memiliki Efektif Mikroorganisme (EM4), bisa disemprotkan bersamaan dengan pencampuran bahan kompos dengan kompos jadi atau bisa mencampurkan kotoran ayam yang masih berada dalam usus.

    Perawatan dan pemanenan.

    Setiap hari bisa ditambahkan sampah organik rumahtangga seperti sisa sayur mentah atau sisa makanan.

    Penambahan bahan:

    1. Gali starter kompos di dalam keranjang tersebut dengan cetok. Luasan dan kedalaman galian, sesuaikan dengan banyaknya sampah yang hendak dimasukkan.
    2. Masukkan sampah pada lubang yang digali. Tusuk-tusuk sampah tersebut dengan cetok.
    3. Timbun sampah tadi dengan kompos di tepian lubang.
    4. Tutup kompos tersebut dengan bantalan sekam.
    5. Tutup permukaan keranjang dengan kain.
    6. Yang terakhir, tutuplah dengan tutup keranjang.

    Sisa-sia sayur sebelum dimasukkan harus dipotong-potong terlebih dahulu dengan ukuran 2 cm, semakin kecil ukuran bahan makan mempercepat proses komposting.

    Bila kompos di dalam Keranjang Takakura telah penuh, ambil 1/3-nya dan kita matangkan selama seminggu di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sisanya yang 2/3 bisa kita gunakan kembali sebagai starter untuk pengolahan berikutnya.

    Catatan:
    Letakkan Keranjang Takakura di tempat yang terhindar dari sinar matahari langsung.
    Bila kompos kering, perciki air bersih sambil diaduk merata. Suhu ideal adalah 60 derajat celsius. Jika proses komposting berjalan dengan baik maka keranjang akan tesasa hangat.

    Ganti kardus selama 3-6 bulan sekali atau ketika sudah hancur (SpectraSurabaya)

    Thank you for visited me, Have a question ? Contact on : youremail@gmail.com.
    Please leave your comment below. Thank you and hope you enjoyed...

    0 comments:

    Post a Comment